Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

PATUNG SUKARNO DI ENDE

PATUNG SUKARNO DI ENDE

Oleh Hanafi

Dari Penjara ke Pigura, sebuah tema pameran bersama di Galeri Salihara, Jakarta. Tema itu melihat ke belakang, menemui wajah-wajah Pahlawan Kemerdekaan Indonesia yang pernah dipenjarakan. Kini di tangan perupa, wajah-wajah itu ditenggelamkan kembali ke dalam pigura. Pigura hanyalah sebuah ungkapan yang menerangkan kesenirupaan, cara membaca kembali potret sejarah. Sejarah penjara untuk pigura.

Manusia selalu berada di dalam pigura, dari pigura ke pigura yang lain, dari lembar satu ke lembar berikutnya, dalam sebuah novel yang ditulis dengan tangan sendiri. Sebuah peperangan, tepatnya penjajahan, bukan karena Belanda suka menjajah, tapi kitalah yang menunda-nunda untuk melawan. Sukarno membawa sinar terang di punggungnya, ia digambarkan berjalan ke depan, dan ia paling depan sehingga jalan di belakangnya tampak terang. Tetapi apakah benar orang yang membawa “seratus bohlam” itu adalah Sukarno, atau mirip Sukarno? Jangan-jangan orang lain, orang yang tak bernama. . . .

Masa gelap berakhir dengan seratus bohlam dari punggung lelaki itu. Tetapi ke mana lelaki itu akan menuju? Apakah ia sedang berjalan menuju pigura yang lain? Jika begitu, ia sedang membawa kita ke lubang-lubang kegelapan, tanpa bohlam.

Sebuah pigura, juga sebuah kamera, memotong waktu menjadi masa-masa yang tak berhubungan lagi. Sepotong waktu yang melepaskan diri dan ingin menyatakan keabadian. Potongan waktu yang memiliki wajahnya sendiri, seperti sebuah patung orang tertentu, ia hanya bisa menyatakan dirinya, wajah dari sepotong usia. Pematung tidak bisa memperdengarkan lagi seluruh rekaman dalam satu karya patung seseorang, tetapi orang harus tahu bahwa itu suara sebuah patung dari orang tertentu.

Patung Sukarno di Ende, tidak dibuat dari seluruh masa hidup Sukarno, ia dibuat dari potongan Sukarno yang paling “sunyi” dalam hidupnya. Lihatlah patung itu, duduk menghadap laut lepas, sendirian, di bawah pohon sukun. Matanya sore. Ia duduk di atas kursi panjang di tepi kolam seluas 17 m x 45 m.

Melewati berbagai studi bentuk kaki yang menyilang, dengan mengenakan sandal dari Solo, sandal itu memiliki beberapa model: model menyilang, model jempol yang menyarang, model tutup di tumit sebagai sepatu sandal. Tetapi tidak seluruhnya ditampakkan. Kita tidak tahu apakah di dalam kemeja yang ia kenakan terdapat kaos dalam sehingga keringat dari tubuh dan pikiran tidak langsung membasahi kemeja putih itu?

Mendengar cerita yang berulang-ulang, Sukarno sering duduk menatap laut di depan taman itu setiap pukul tiga sore sampai hampir Maghrib. Ia akan pulang bersama ombak lautan memasuki kegelapan. Kegelapan telah memisahkan penglihatan dan pendengaran, suara ombak itu tidak terkurung lagi dalam penjara penglihatan. Lalu ia ingin menyamakan suara ombak yang tak pernah selesai di telinganya dengan semangat perjuangan yang tak boleh berakhir. . . .

Dari penjara ke pigura, dari pigura akan ke mana lagi? Kita akan pergi ke sebuah malam, di bawah pohon sukun, di atas kolam penuh ikan-ikan.

Depok, 28 November 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *