Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Pengalaman sebagai Sumber Penulisan Puisi

Pengalaman sebagai Sumber Penulisan Puisi

 Oleh Soni Farid Maulana

PADA dasarnya, menulis puisi adalah mengekspresikan sebentuk pengalaman dengan media kata-kata. Pengalaman yang diekspresikannya itu bisa berupa pengalaman hubungan manusia dengan Tuhan, dengan di­rinya sendiri, dengan sesama, maupun dengan alam. De­ngan demikian, dapat disimpulkan bahwa menulis puisi merupakan sebuah kegiatan ruhani, yang mengekspresikan hubungan manusia dengan segala hal, baik secara fisik maupun metafisik.

Modal utama untuk mengerjakan kegiatan tersebut, selain memahami dan menguasai pengalaman yang kelak diolahnya itu, tentu saja penulis puisi harus pula mampu mengkreasi bahasa ungkap melalui kosa kata yang dipilih dan dipahaminya secara sungguh-sungguh dengan bahasa yang dikuasainya pula, entah itu bahasa Sunda, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya di muka bumi.

Yang dimaksud dengan pengalaman dalam tulisan ini adalah segala sesuatu yang dialami secara fisik maupun metafisik oleh penulis puisi. Misalnya, pada suatu hari saya ditinggal mati oleh nenek saya tercinta untuk selama-lamanya. Hubungan saya dengan nenek saya itu sangat dekat, karena sejak bayi hingga remaja, saya berada dalam asuhannya. Selain itu, saya tahu betul tentang apa dan bagaimana kegiatan nenek saya dalam berkesenian. Salah satu kegiatan seni yang dilakukan oleh nenek saya adalah, bahwa setiap saya hendak berangkat tidur,  ia selalu melantunkan tembang Sunda Cianjuran, yang diakhiri dengan doa dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Pengalaman-pengalaman semacam itu menggumpal dalam dada saya, apalagi ketika saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana jasad nenek saya dikuburkan di pemakaman umum di Pasir Huni, Sukaraja, Tasikmalaya, pada tahun 1976 lalu. Peristiwa tersebut tentunya tidak hanya menimbulkan rasa duka yang demikian dalam di dada saya, akan tetapi juga menimbulkan rasa sunyi, sepi, dan lengang yang bercampur-aduk dengan kerinduan tiada henti yang mendera batin saya. Berkait dengan itu, lantas saya menulis sebuah puisi yang saya olah dari pengalaman tersebut.

Di Pemakaman

         – mengenang Oneng Rohana

di bawah langit Sukaraja yang membentang

ada gerimis dan rumputan sujud pada keheningan

ada jasadmu ditimbun tanah basah

seiring mawar doa yang mekar di kalbuku

ada kenangan menjaringku saat melati kutabur

ada tembang cianjuran menggema dalam pengu­pinganku

yang kau perdengarkan

menjelang malam bersekutu dengan sunyi,

 

dan bulan hanya tampak

bayang-bayangnya saja. Kini dalam laguan

lembut angin pagi

 

saat matahari bergeser sedetik: aku tahu

semua itu: betapa keabadian hidup

hanya milikNya saja

 

19761

 Mari kita bongkar bagaimana pengalaman yang saya olah itu dioperasikan dalam puisi tersebut. Pertama, saya mengamati dengan cermat alam sekitar yang ditulis dalam larik demi larik puisi di atas. Saat itu, saya memperhatikan proses penguburan jasad nenek saya tercinta, yang diiringi dengan gerimis.  Apa yang dimaksud dengan gerimis dalam puisi tersebut dalam pengertian yang lebih lanjut tidak hanya merujuk pada gerimis yang turun dari langit sana, akan tetapi bisa juga berupa air mata yang menitik perlahan dari mata orang-orang yang menyayangi dan mencintai nenek saya. Saat penguburan terjadi, di dalam benak saya bermunculan kenangan demi kenangan yang pernah saya alami bersama nenek. Atas kejadian itu saya kemudian menyadari bahwa manusia itu fana adanya, dan hanya Allah Swt yang abadi.

Bahan-bahan dasar penulisan puisi di atas bukan hanya diambil dan diolah dari pengalaman fisik bagaimana saya menyaksikan secara langsung tentang proses penguburan nenek saya tercinta, akan tetapi pengalaman itu diolah dan dipadukan dengan sejumlah kenangan yang bermunculan kembali dalam hati dan benak saya. Ini artinya, ketika puisi tersebut  ditulis, perhatian saya tidak hanya tertuju pada lingkungan teks secara fisik (kuburan), akan tetapi tertuju pula pada lingkungan teks non fisik (kenangan).

Dengan demikian maka jelas sudah bahwa menulis puisi tidak bisa ditulis dari sesuatu yang tidak kita alami secara fisik maupun metafisik. Jika hal itu dipaksakan, maka hasilnya adalah sebuah puisi hampa makna dan bahkan hampa rasa. Orang Jawa bilang tanpa greget. Apa yang dimaksud dengan greget tentu saja bukan hanya soal rasa, akan tetapi menyangkut pula soal kualitas penghayatan terhadap obyek puisi yang tengah ditulisnya itu.

Berkait dengan itu, menulis puisi pada satu sisi, sebagaimana dikatakan almarhum penyair Rendra dalam percakapannya dengan saya maupun dengan almarhum penyair Wing Kardjo,  bisa dikatakan sebagai luapan dari perasaan-perasaan yang kuat: yang asalnya bersumber dari emosi yang dikumpulkan dalam keadaan tenang (sunyi) di dasar hati maupun di dasar pikiran.

Emosi tersebut kemudian direnungkan hingga muncul sejenis reaksi yang berangsur-angsur membuat ketenang-sunyian itu menghilang, mengendap di dasar kalbu—untuk kemudian diekspresikan setelah saya benar-benar mengenal dan memahami salah satu bentuk dari sekian bentuk pengalaman yang saya alami secara konkrit maupun metafisik.

Tanpa adanya pengalaman yang mengguncang hati dan pikiran seorang penyair sehingga ia ingin menulisnya, maka sungguh mustahil sebuah puisi bisa ditulis. Lebih jauh, Rendra mengatakan dalam percakapan dengan saya dalam sebuah kesempatan di Leiden, bahwa akar dari penciptaan puisi, selain memahami bentuk-bentuk pengalaman, adalah mengenal emosi dalam tingkat kesadaran yang tinggi. Dalam konteks yang demikian, maka apa yang disebut pengalaman tidak hanya berupa sumber inspirasi, akan tetapi juga berupa sumber ilmu pengetahuan, baik bagi si penulisnya maupun bagi orang yang membaca puisi-puisinya.

“Apa sebabnya pengalaman bisa menjelma jadi sumber pengetahuan? Karena apa yang ditulis oleh seorang penyair sudah tentu tidak begitu saja dituliskan seperti apa yang dialaminya, tanpa ada penghayatan dan proses pendalaman terhadap pengalaman itu sendiri. Dalam proses demikian, selalu ada yang direnungkan dari apa yang tengah dihadapinya saat itu. Renungan-renungan yang kelak muncul dalam puisinya itu ada kalanya mengandung nilai-nilai filosofis, yang pada satu sisi hal tersebut bisa lahir secara spontan,” jelas Rendra, yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh teater modern di Indonesia, yang mengguncang negeri ini pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an lewat pentas “Teater Mini Kata”, yang diberi judul Bip-Bop.

Pada sisi yang lain, lepas dari persoalan tersebut di atas, tanpa pengalaman dilanda gairah cinta yang demikian hebat dalam batinnya, penyair Rendra tentunya sangat mustahil bisa menulis puisi yang indah, yang diungkap dengan rangkaian kata-kata yang begitu sederhana, namun sarat makna dan rasa.  Selain itu, letak keberhasilan sebuah puisi dalam mengungkap sebuah pengalaman, tentunya tidak terletak pada daya ungkap yang rumit, akan tetapi terletak pada kesederhanaan kata demi kata yang dipilihnya, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi daya komunikasi yang dikandung oleh puisi. Kita baca sebuah puisi cinta yang ditulis Rendra di bawah ini:

EPISODE

 Kami duduk berdua

di bangku halaman rumahnya.

Pohon jambu di halaman itu

berbuah dengan lebatnya

dan kami senang memandangnya.

Angin yang lewat

memainkan daun yang berguguran.

Tiba-tiba ia bertanya:

“Mengapa sebuah kancing bajumu

lepas terbuka?”

Aku hanya tertawa.

Lalu ia sematkan dengan mesra

sebuah peniti menutup bajuku

Sementara itu

aku bersihkan

guguran daun jambu

yang mengotori rambutnya2

 Dalam puisi di atas, gairah cinta yang diungkap Rendra terasa demikian romantis, dikarenakan Rendra mampu menggambarkan sekaligus memvisualkan hal-hal yang bersifat fisik secara nyata di benak para apresiatornya lewat larik demi larik puisi yang ditulisnya. Di dalam puisi tersebut ada halaman rumah, ada guguran daun jambu, ada bangku, ada pohon jambu, ada kain baju yang terbuka, ada aku lirik dan lawan bicaranya, yang jadi kekasih aku lirik.

Bahan-bahan fisik yang diamati dengan cermat oleh Rendra dalam puisinya itu, pada akhirnya menjelma menjadi sebuah pengalaman yang indah, di mana cinta tidak hanya menumbuhkan rasa suka di dalam diri manusia, tetapi juga ketenangan. Nah, suasana romantis semacam itulah yang ingin dikomunikasikan Rendra kepada kita. Adapun apa dan bagaimana makna yang dikandung oleh puisi tersebut sepenuhnya sangat bergantung pada daya tafsir kita. Dengan demikian, makna puisi tidak tunggal. Dan kita, dalam konteks yang demikian itu, tidak sedang membicarakan atau membongkar makna puisi tersebut, akan tetapi sedang membicarakan bagaimana pengalaman yang bersifat fisik dan batiniah itu tengah dioperasikan Rendra dalam puisi bertema cinta yang ditulisnya.

Dari pemaparan semacam itu, dapat disimpulkan bahwa ketika menulis puisi, seorang penyair—selain harus peka— terhadap apa yang dialaminya, ia harus peka pula terhadap suasana yang melingkupi obyek puisi yang hendak ditulisnya. Tanpa peka terhadap obyek-obyek yang hendak ditulisnya itu, tentu saja Rendra tidak akan berhasil menulis puisi yang indah semacam itu. Demikian pula dengan puisi yang saya tulis, tanpa peka terhadap suasana yang terjadi di dalam dan di luar batin saya, pastilah saya tidak akan mampu menulis puisi yang tidak hanya mengangkat tema kerinduan pada si mati, akan tetapi juga mengangkat tema tentang betapa fananya manusia di hadapan Yang Mahakuasa.

Lantas apakah menulis puisi itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu? Jawabnya, tentu saja tidak. Menulis puisi bisa dilakukan oleh siapa saja. Secara teknis; apa dan bagaimana menulis puisi bisa dipelajari oleh setiap orang. Namun demikian, soal isi dan kualitas puisi sangat bergantung pada jam terbang dan kesungguhan sang penyair dalam menghayati maupun memahami obyek puisi yang akan ditulis dan diekspresikannya di atas kertas secara sungguh-sungguh. Uraian di atas adalah hanya sebuah contoh kecil bagaimana pengalaman itu diolah dan dioperasikan oleh saya dan Rendra dalam menulis puisi.

***

LEPAS dari persoalan tersebut, pada sisi yang lain, ada pula puisi yang ditulis dengan cara lain, tidak seperti cara di atas; baik ketika mengolah pengalaman hidup ditinggal mati, atau saat jatuh cinta. Pendeknya, cara penulisan puisi yang dimaksud ini  tidak menampilkan citraan visual (fisik) sebagaimana dua puisi di atas. Puisi yang ditulis dalam kaitan di bawah ini adalah sepenuhnya puisi renungan.  Sebagai contoh, hal itu bisa kita temukan dalam puisi yang ditulis oleh penyair Chairil Anwar, yang dikenal sebagai tokoh penulis puisi Indonesia modern, yang melepaskan dirinya dari tradisi pantun.

NISAN

     – untuk nenekanda

 

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Kerindlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta

                                   Oktober, 19423

 Dalam puisi tersebut, Chairil Anwar mengolah pengalaman ruhaninya yang bersumber dari pengalamannya saat ia ditinggal mati oleh neneknya tercinta. Kata demi kata yang dipilih dan ditulis oleh Chairil Anwar dalam puisinya itu begitu ringkas dan padat, tetapi sarat makna. Dengan ditampilkannya contoh di atas, ini artinya sebuah puisi bisa ditulis tanpa harus menampilkan citraan-citraan visual sebagai bahan dasarnya. Demikian juga dengan puisi di bawah ini yang ditulis oleh penyair Subagio Sastrowardoyo.

KATA

 Asal mula adalah kata

Jagat tersusun dari kata

Di balik itu hanya

ruang kosong dan angin pagi

 

Kita takut kepada momok karena kata

Kita cinta kepada bumi karena kata

Kita percaya kepada Tuhan karena kata

Nasib terperangkap dalam kata

 

Karena itu aku

bersembunyi di belakang kata

Dan menenggelamkan

diri dalam kata4

 Renungan macam apa yang ingin disampaikan oleh penyair Subagio Sastrowardoyo dalam puisi tersebut di atas? Yakni tentang pengalamannya yang berhadapan dengan kata, baik kata-kata yang berasal dari Tuhan (firman Tuhan), maupun yang berasal dari manusia. Bila kita sembarangan dalam berkata-kata, pastilah akan celaka, termasuk menjual firman Tuhan untuk kepentingan pribadi, dan sebagainya. Apalagi bila bermain-main dengan firman Tuhan, misal mengubahnya, jelas berbahaya adanya. Pendeknya, orang yang melakukan hal itu jelas orang yang celaka adanya. Karena itu, berhati-hatilah dalam berkata-kata, termasuk menulis puisi.

Dalam bait terakhir ditulis: dan menenggelam/diri dalam kata//… tiada lain adalah bahwa menulis puisi, pada satu sisi, memang merupakan sebuah proses penenggelaman diri ke dalam kata, dan pada sisi yang lain, adalah berupa proses menafsir kata, entah itu ketika menafsir ayat-ayat suci yang bersumber dari kitab suci, atau berupa teks puisi, novel, naskah drama, dan berbagai karya seni lainnya yang masih ada hubungannya dengan kata-kata, seperti lirik-lirik tembang apa pun bentuknya.

Jadi, pengalaman yang diolah oleh seorang penyair dalam puisi yang ditulisnya itu bisa beragam, dengan atau tanpa citraan visual yang ditulis dalam larik-larik puisinya. Dan apa yang dinamakan citraan visual, pada satu sisi, bisa berupa simbol yang akan diungkap pada halaman yang lain. Sedangkan pada sisi lainnya, bisa juga berfungsi sebagai penegas suasana dari sebuah latar puisi, entah itu mengolah pengalaman religius, sosial, cinta, ataupun kematian. Ada kalanya orang menyebut bahwa apa yang disebut dengan pengalaman sebangun dengan tema. Sementara itu, ada juga yang menolak mengatakan hal tersebut sama dengan tema.

Tapi apa pun, sekali lagi, ingin saya tekankan dalam bagian ini, bahwa memahami dan menghayati sebuah pengalaman, dari sisi mana pun pengalaman itu akan ditulis dalam sebuah karya sastra, khususnya puisi, adalah sebuah hal yang tidak bisa diabaikan atau dianggap sepele. Tanpa kesadaran bahwa mengolah pengalaman itu penting dalam berkarya sastra, maka karya yang ditulisnya hanyalah tumpukan kata-kata hampa makna dan rasa. Karya yang demikian akan selalu gagal menemui pembacanya yang kritis, yang selalu mengharap adanya nilai-nilai yang bisa dipetik dari puisi yang tengah dibacanya.[]

Catatan:

  1. Soni Farid Maulana, Pemetik Bintang. Bandung: Penerbit Buku Kiblat Utama, 2008, hlm. 14.
  2. Rendra, Empat Kumpulan Sajak. Jakarta: Pustaka Jaya, Cet. III, 1981, hlm. 18.
  3. Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: PT. Gramedia, 1986, hlm. 3.
  4. Subagio Sastrowardoyo, Dan Kematian Makin Akrab. Jakarta: PT. Grasindo, 1995, hlm. 36.

Baca lebih lengkap dalam buku Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (Penerbit Nuansa, 2015)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *