Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Pengampunan Sang Penakluk

Pengampunan Sang Penakluk

Oleh Saniyasnain Khan

Para pemenang selalu merasa bangga dan senang untuk membalas dendam kepada musuhnya, namun hal yang demikian tidak berlaku dan tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Setelah penaklukan kota Makkah, Rasulullah malah memperlihat­kan kerendahan hati yang sesungguhnya. Ketika beliau memasuki Makkah, kepalanya tertunduk sangat rendah sehingga orang-orang melihat janggutnya menyentuh pelana unta. Dan pada saat berdiri di pintu Ka’bah, beliau pun menyampaikan pidato:

“Tak ada yang pantas disembah selain Allah Yang Maha Esa. Dia telah memenuhi janji-Nya dan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya. Dia sendiri yang telah menjadikan rombongan musuh terhina.”

Nabi tidak merasa bangga dengan kemenangan ini. Beliau berkata bahwa kemenangan adalah anugerah Allah. Beliau juga telah memaafkan kaum Quraisy:

“Aku katakan kepada kamu sebagaimana Yusuf mengatakan kepada saudara-saudaranya: Hari ini, tak seorang pun mencela kalian. Pergilah, kalian bebas.”

Bahkan Utsman bin Thalhah yang pernah menghalangi Rasulullah masuk ke Ka’bah dan menyiksanya, kemudian mengembalikan kunci tempat suci itu, dan kunci itu tetap berada di keluarganya saat itu.

Kemudian Nabi Muhammad Saw menuju ke Ka’bah dan menunjuk ke arah berhala-berhala yang ditempatkan di sana. Beliau mengutip ayat Al-Quran: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Kebenaran telah datang dan kebathilan telah lenyap. Sesungguhnya kebathilan pasti akan lenyap.”

Semua berhala dihancurkan Nabi Muhammad Saw bersama para pengikutnya, kemudian mereka membersihkan dan menyucikan Ka’bah. Selain itu, Bilal yang mempunyai suara yang keras dan indah itu diperintahkan agar memanjat sampai ke puncaknya dan memanggil orang-orang untuk shalat.

Ka’bah, Rumah Allah, pada akhirnya dikembalikan ke tujuan pembangunannya ribuan tahun sebelumnya oleh Nabi Ibrahim As sebagai keselamatan, tempat suci untuk beribadah kepada Allah, Pencipta manusia dan alam semesta. Hingga kini, Makkah tetap menjadi pusat spiritual Islam.

Rasulullah kemudian kembali ke Madinah dan kaum Qurayisy di Makkah berangsur-angsur menjadi muslim satu per satu, dan sebagian dari suku-suku di Arab menyatakan keimanan mereka kepada Islam. Karena setiap suku bergabung dengan Islam, Nabi mengirimkan orang yang bertindak atas namanya untuk mengajarkan kepadanya mengenai Islam yang tampak baru bagi mereka, tetapi yang sebenarnya adalah ajaran yang paling sempurna dari tradisi kenabian yang dimulai dari Adam As dan dilanjutkan oleh Nuh As, Ibrahim As, Musa As, dan Isa As. Rasulullah Saw sendiri terus mengajar, memberi petunjuk, dan menyampaikan mengenai perintah-perintah Allah kepada para pengikutnya yang semakin bertambah jumlahnya itu.

Meskipun telah memerintah dengan kekuatan dan otoritas yang luas, Nabi Muhammad Saw tetaplah sosok yang sederhana dan manusia biasa. Kini beliau adalah penguasa Arab tetapi untuk itu beliau tidak memakai mahkota dan tidak harus duduk di atas singgasana.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Jejak Muhammad: Sejarah Populer Keagungan Rasul  karya Sanyasnain Khan (Penerbit Marja, 2016)

jejak muhammad 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *