Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Pengembangan Kecerdasan Emosi

Pengembangan Kecerdasan Emosi

Oleh Ir. Agus Nggermanto

Kita sungguh beruntung. Siswa, guru, dan orang tua sungguh beruntung. Penelitian mutakhir tentang kecer­dasan manusia menunjukkan berbagai metode yang lebih baik dan lebih mudah untuk mengembangkan kecerdasan Anda.

Dulu, orang dianggap cerdas bila memiliki IQ tinggi. Bagaimana mengembangkan IQ adalah hal yang sulit. Kini telah tersedia perangkat untuk mengembangkan IQ dengan lebih mudah dan menyenangkan. Salah satunya adalah dengan memberikan sentuhan Kecerdasan Emosi (EQ). Lebih jauh dari itu, pengertian kecerdasan telah bergeser dari sekedar IQ ke arah yang lebih luas. Secara sederhana, dapat saya nyatakan bahwa

     kecerdasan = IQ + EQŸAQ

IQ       = Intellegence Quotient

EQ      = Emotional Quotient

AQ      = Adversity Quotient

Dalam tulisan ini, saya akan membahas beberapa langkah praktis untuk mengembangkan kecerdasan emosi. Langkah-langkah tersebut saya ringkas dalam ‘kalimat kreatif’: ‘Sadari Kesempatan Empati, Namai Solusi Teladan.’

Sebelumnya, perlu saya mendefinisikan kecerdasan emosi adalah: kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Langkah Pertama: Menyadari Emosi Anak

Studi kami (John Gottman) memperlihatkan bahwa agar orang tua merasakan apa yang dirasakan oleh anak mereka. Penelitian ini mem­perlihatkan bahwa orang dapat sadar secara emosional dan dengan demikian siap menjadi Pelatih Emosi, tanpa bersikap sangat ekspresif, tanpa merasa seolah-olah mereka kehilangan kendali. Kesadaran emo­sional hanyalah berarti Anda mengenali kapan Anda merasakan suatu emosi, Anda dapat mengidentifikasi perasaan Anda, dan Anda peka terhadap hadirnya emosi dalam diri orang lain.

Orang tua yang sadar terhadap emosi mereka sendiri dapat menggunakan kepekaan mereka untuk me­nye­laraskan diri dengan perasaan anak mereka, tanpa me­nyadari betapa tulus dan hebatnya. Namun menjadi seorang yang peka dan sadar secara emosional bukanlah dengan sendirinya berarti bahwa Anda akan selalu merasa gampang memahami perasaan-perasaan anak Anda. Sering kali anak-anak mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara-cara yang membingungkan orang-orang dewasa.

Intinya adalah, anak-anak seperti semua orang mem­punyai alasan bagi emosi mereka, entah mereka dapat mengungkapkan alasan itu atau tidak. Kapan saja kita menemukan anak kita marah atau kecewa karena suatu perkara yang tampaknya sepele, barangkali ada manfaatnya untuk melangkah mundur dan melihat ke arah gambaran besar tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka. Seorang anak berumur tiga tahun tidak dapat mengatakan kepada Anda, “Aku menyesal akhir-akhir ini aku sangat nakal, Bu; itu karena aku mendapat banyak tekanan batin.”

Setiap kali Anda merasa bahwa hati Anda berpihak pada anak Anda, maka Anda tahu Anda sedang merasakan apa yang sedang dirasakan anak Anda itu, Anda sedang me­ngalami empati, yang merupakan landasan Pelatihan Emosi. Seandainya Anda tetap dapat bersama anak Anda dalam emosi ini, meskipun kadang-kadang perasaan itu barangkali sulit atau tidak nyaman, anda dapat mengayunkan langkah berikutnya, yaitu mengenali saat emosional sebagai ke­sempatan dalam menjalin kepercayaan untuk memberi bimbingan.

Langkah Kedua: Mengakui Emosi Sebagai Kesempatan

Konon, dalam bahasa Cina, karakter yang artinya “kesempatan” termaktub dalam karakter yang artinya “krisis”. Tak ada tempat lain di mana kaitan antara kedua konsep itu lebih cocok daripada dalam peran kita sebagai orangtua. Entah krisis itu berwujud sebuah balon yang meletus, nilai matematika yang buruk, atau pengkhianatan seorang teman, pengalaman-pengalaman negatif semacam itu dapat berguna sebagai peluang yang baik sekali untuk berempati, untuk membangun kemesraan dengan anak Anda, dan untuk mengajar mereka cara-cara menangani perasaan mereka itu.

Langkah Ketiga: Mendengarkan Dengan Empati

Setelah Anda mampu melihat bahwa sebuah situasi merupakan suatu kesempatan untuk menjalin keakraban dan mengajarkan pemecahan masalah, Anda telah siap barangkali untuk langkah yang paling penting dalam proses Pelatihan Emosi: Mendengarkan dengan Empati.

Dalam konteks ini, mendengarkan berarti jauh lebih banyak daripada mengumpulkan data dengan telinga Anda. Para pendengar dengan empati menggunakan mata mereka untuk mengamati petunjuk fisik emosi-emosi anak mereka. Mereka menggunakan imajinasi mereka untuk melihat situasi tersebut dari titik pandang anak itu. Mereka meng­gunakan kata-kata mereka untuk merumuskan kembali, dengan cara yang menenangkan dan tidak mengecam, apa yang mereka dengar dan untuk menolong anak-anak mereka memberi nama emosi-emosi mereka itu. Tetapi yang paling penting, mereka menggunakan hati mereka untuk me­rasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak-anak mereka. Menyetel ke arah emosi anak Anda menuntut agar Anda mengarahkan perhatian pada bahasa tubuh anak Anda, ungkapan-ungkapan wajahnya, dan gerak-geriknya. Sadari­lah bahwa anak Anda dapat membaca bahasa tubuh Anda juga. Apabila tujuan Anda adalah berbicara dengan cara yang santai dan penuh perhatian, gunakanlah sikap tubuh yang mengatakan demikian itu. Sikap Anda yang penuh perhatian akan membuat anak Anda tahu bahwa Anda menganggap serius keprihatinan-keprihatinannya dan bahwa Anda bersedia meluangkan waktu untuk masalah tersebut.

Langkah Keempat: Memberi Nama Emosi

Salah satu langkah yang gampang dan sangat penting dalam Pelatihan Emosi adalah menolong anak-anak memberi nama emosi mereka sewaktu emosi itu mereka alami.

Semakin tepat anak-anak itu dapat mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dalam kata-kata, semakin baik. Jadi, usahakanlah agar Anda dapat membantu mereka mencamkannya betul-betul di otak. Apabila ia sedang marah, misalnya, boleh jadi ia juga merasa kecewa, naik pitam, bingung, dikhianati, atau cemburu. Apabila ia sedih barangkali ia pun merasa sakit hati, ditinggalkan, iri, kosong, murung.

Langkah Kelima: Membantu Menemukan Solusi

Setelah Anda meluangkan waktu untuk mendengarkan anak Anda dan menolongnya memberi nama serta me­mahami emosinya, boleh jadi Anda akan merasakan bahwa secara wajar Anda sendiri tertarik ke dalam suatu proses pemecahan masalah. Proses ini memiliki lima tahap:

–      menentukan batas-batas

–      menentukan sasaran

–      memiliki pemecahan yang mungkin

–      mengevaluasi pemecahan yang disarankan ber­dasarkan nilai-nilai keluarga Anda

–      menolong anak Anda memilih satu pemecahan

 

Anda dapat membimbing anak-anak Anda melalui langkah-langkah tadi. Tetapi, jangan terkejut bila dengan pengalaman, ia mulai mendahului dan mulai memecahkan sendiri masalah-masalah yang sulit.

Langkah Keenam: Jadilah Teladan

Seorang anak menangkap makna bukan sekedar dari kata. Tetapi totalitas jiwa Pelatih Emosi itulah yang dirasakannya. Oleh karena itu, jadikanlah diri Anda sebagai teladan, sebagai orang yang berkecerdasan emosi tinggi. Atau lebih bagus lagi Anda nyatakan dengan tulus bahwa anak didik Anda sebagai teladan bagi yang lainnya.

Penutup

Sebagai penutup saya kutipkan ucapan Aristoteles, ”Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.” Karakter kita pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. “Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,” begitu kata pepatah.

Dalam makalah ringkas ini telah saya bahas bagaimana metode praktis mengembangkan kecerdasan emosi: ‘Sadari Kesempatan Empati, Namai Solusi Teladan.’ Bagaimana kita dapat membiasakannya, itulah tantangan berikutnya. Dan Dia-lah Yang Lebih Tahu.

Baca lebih lengkap dalam buku Kecerdasan Quantum: Melejitkan IQ, EQ, dan SQ karya Ir. Agus Nggermanto (Penerbit Nuansa, 2015)

kecerdasan quantum

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *