Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

PERTEMUAN  RATNA DAN JANUS

PERTEMUAN RATNA DAN JANUS

Oleh Ugi Agustono J.

Aktivitas pagi baru saja dimulai. Ratna belum lama me­masuki ruangan kerjanya. Nita, sekretaris Ratna, yang sudah menerima e-mail dan telepon dari Blossom, segera mengingatkan Ratna.
“Bu, yang agak penting, nanti malam rapat sekalian dinner dengan Blossom.”
“Yup, thank you. Semua sudah siap,” jawab Ratna.
“Ibu perlu saya, nanti malam?”
“Nggak usah, Nit. Tapi yang meeting siang ini, kamu ikut.”
“Baik, Bu.”

Sore itu Ratna sengaja meninggalkan kantor lebih awal karena ia tak mau terlambat untuk pertemuan dengan perusahaan Blossom. Rileks ia mengendarai mobilnya sambil mendengarkan musik. Dua puluh menit sebelum rapat dimulai, Ratna sudah tiba di ruang meeting sebuah rumah makan yang cukup mentereng dan tenang di bilangan Jakarta Selatan. Ia keluar dari mobil sambil menenteng tas laptop. Santai melangkah memasuki restoran, langsung menuju tempat rapat di lantai dua. Partner dari perusahaannya pun ternyata juga baru datang.

“Hello, how are you?” sapa Ratna kepada Celvin yang sudah cukup dikenalnya.
“Hi, fine. How are you?” Celvin balik bertanya.
“I’m good.”
“Ratna, he is Janus from German, succeed Mr. John. But he is Indonesian,” Celvin mengenalkan Janus.
“Hi, nice to meet you,” sapa Janus dingin.
“Oh, nice to meet you too,” jawab Ratna yang juga seperti tak peduli.

Setelah semua berkumpul, berikutnya mereka pun men­dengarkan paparan Ratna mengenai kemungkinan perpanjangan kerja sama antara dua peruasahaan tersebut. Tenang sekali, Ratna memberikan evaluasi proyek yang sudah dijalankan dan mempresentasikan proposal jika kontrak diperpanjang. Ia bicara tentang data, kenyataan di lapangan yang sudah ada, gambar-gambar, rencana dan metode pelaksanaan, biaya, dan apa yang akan didapat dari perpanjangan kerjasama. Bahasa Inggrisnya cukup fasih, proposalnya matang, ditambah penampilan Ratna yang menarik dan pintar, membuat pihak perusahaan Blossom Scarlet yakin dengan perpanjangan kerjasama mereka. Pertanyaan-pertanyaan dari pihak Blossom yang menyangkut pembayaran ia jawab secara masuk akal.

Janus sejak awal terlihat tenang memperhatikan Ratna sepanjang presentasinya. Ia mencoba melempar pertanyaan yang menyangkut rencana, waktu, dan metode pelaksanaan. Pandangannya tajam sekaligus satiris ke mata perempuan itu. Ratna tersenyum tenang dan lugas dalam memberikan jawaban kepada Janus. Janus merespon jawaban Ratna dengan senyum dan anggukan.

Seusai rapat, pimpinan-pimpinan dari dua perusahaan itu melanjutkan makan malam sambil berdiskusi. Beberapa kali Janus mencuri pandang kepada Ratna. Ratna sadar, tapi ia tak ingin bereaksi. Ratna memilih cuek tapi tetap menghormati rekanannya. Malam itu juga setelah makan malam, Ratna menerima keputusan dari perusahaan asing Blossom Scarlet bahwa kerjasama di­lanjutkan, bahkan ditambah kuotanya. Janus mewakili Blossom akan berhubungan langsung dengan Ratna sepanjang kontrak berjalan.

Ratna menarik napas lega. “Thank you,” kata Ratna kepada semua yang hadir pada rapat malam itu.
Sebelum mereka saling pamit pulang, Janus dan Ratna saling membuka obrolan ringan dan membicarakan sedikit urusan kantor dengan santai, sambil keduanya membenahi berkas-berkas. Sementara itu, teman-teman kantor Janus memilih pamit lebih dulu.

Janus terperanjat ketika tak sengaja melihat kartu berlogo UCLA yang jatuh pada lantai tepat di bawah Ratna berdiri. Ia tak tahu kartu itu milik Ratna atau bukan, tapi Janus menyembunyikan kekagetannya dengan ketenangan yang sombong.

Ia pun mengambil kartu berlogo universitas ternama itu saat Ratna pamit ke toilet.

Obrolan ringan kembali terjadi ketika Ratna kembali dari toilet.

“Where do you live, Ratna?” tanya Janus.
“Jakarta Selatan.”
“How long from here?”
“Kalau malam gini, 30 menit juga sampai.”
“Are you drive alone?”
“Yup.”
“Oh, OK. Can you send e-mail to me new draft contract, tomorrow?”
“Iya, saya akan kirim secepatnya. Paling lambat besok lusa,” jawab Ratna santai.

Janus terlihat agak tak suka dengan sikap Ratna yang terus menjawab dengan bahasa Indonesia. Ia pun tersenyum sinis. Ratna membalas pandangan Janus dengan senyuman manis. Ratna sendiri juga belum berminat untuk bertanya lebih banyak kepada Janus. Ia tetap sopan dan terlihat santai dengan sikap Janus yang sok arogan ingin menunjukkan bahwa dia lama tinggal di luar negeri.

“Okay, we have go home now, I think,” kata Janus.
“Iya, sudah larut juga.”

Ratna dan Janus lalu berjalan beriringan menuruni tangga kayu etnik, hingga mereka berpisah di depan pintu restoran menuju mobil masing-masing. Ratna tak menyadari bahwa kartu berlogo UCLA miliknya jatuh dari tas laptopnya ketika ia sedang melakukan presentasi.

“Ini punya kamu?” tanya Janus.
“Oh? Iya. Makasih.” Ratna sedikit kaget
“OK, see you,” kata Janus, menyembunyikan kesombongannya.
“Bye,” ucap Ratna singkat.

Melangkah menuju mobil, Janus tersenyum kesal dengan dirinya sendiri. Ia merasa arogansinya ada yang mengusik. Ia menjadi ingin tahu lebih jauh tentang Ratna yang telah membuatnya keki dengan tidak menyenangkan. Janus berhenti melangkah, nalurinya memaksa ia memanggil Ratna.

“Ratna, hati-hati. Saya tunggu e-mail kamu besok lusa,” kata Janus dengan bahasa Indonesia.
Ratna tersenyum dan mengangguk manis, “Makasih. Saya akan segera kirim.”
Keduanya lalu berpisah dan entah apa yang terpikir oleh Ratna dan Janus dalam perjalanan pulang. Ataukah keduanya sama-sama penasaran?

*****

Itulah Ratna Manggali, perempuan berusia 35 tahun, cantik, masih melajang, punya jabatan bagus di kantornya, juga seorang penulis. Berasal dari keluarga kaya, orangtuanya pengusaha sukses. Masa kecilnya cukup bahagia dan setelah lulus SMA ia bersekolah di UCLA.

Lulus dari UCLA Ratna kembali ke Indonesia, bekerja pada perusahaannya yang sekarang hingga menjadi pimpinan penting. Empati Ratna untuk memajukan anak-anak yang kurang beruntung di negerinya sangat tinggi. Ratna tak menuntut anak-anak itu untuk menjadi seperti dirinya. Ia hanya ingin anak-anak itu belajar dan berusaha meraih keinginannya dengan benar. Sudah menjadi hal yang lumrah orang yang terbiasa kaya akan santai dan tidak sombong.
Mobil terus melaju menyusuri jalan yang lengang malam itu. Berhenti di lampu merah perempatan sebuah jalan besar, Ratna membuka kaca mobil, tersenyum dan memberikan pecahan seribu rupiah pada pengemis tua di pinggir jalan. Ia terus menyetir santai. Sesaat angannya melayang ke masa ia kecil. Hidupnya tak pernah kekurangan apa pun. Ibunya, yang hanya seorang ibu rumah tangga, selalu mengajarkan pada Ratna tentang kebaikan.

Ayah Ratna meninggal 3 tahun setelah ia lulus dari UCLA, sedang ibunya meninggal 2 tahun kemudian. Ratna adalah anak kedua dari tiga saudara. Kakaknya sekarang menggantikan ayahnya mengelola perusahaan milik keluarga. Adiknya sudah menikah dan bekerja di luar negeri.

Sewaktu SMA, Ratna mempunyai dua sahabat yang sangat kompak, Nurul dan Adi. Nurul sudah menikah dan mempunyai anak. Adi belum menikah, sejak lulus kuliah ia bekerja di kedutaan Eropa. Hidupnya juga makmur. Komunikasi keduanya tak pernah putus meskipun mereka punya kehidupan masing-masing. Ketika sekarang orang melihat kesuksesannya, mereka tak pernah melihat bagaimana Ratna harus bekerja keras untuk meraih semua. Ia hanya tersenyum setiap ada pertanyaan tentang pernikahan yang ditujukan pada dirinya.

Hampir dua minggu sekali ia akan mengunjungi beberapa tempat kumuh untuk mengajar dan menyisihkan sebagian penghasilannya guna membeli perlengkapan sekolah buat anak-anak. Ratna lebih memilih membaca, menulis, atau nonton film ketika ada waktu senggang. Pikirannya yang kritis dan tak suka bergosip membuatnya tak punya banyak teman.

Ia tersenyum ketika tak sadar mobilnya sudah memasuki garasi rumah mungil yang tampak tertata dan asri. Hanya dengan Bi Jum, Ratna tinggal di rumah itu. Bi Jum, pembantu rumah yang sudah mengikutinya lebih dari enam tahun, menyambutnya dengan ramah.

“Sayah, Non? Saya sudah siapkan Non teh panas dan lumpia goreng,” kata Bi Jum.
“Makasih, Bi. Tapi saya mau mandi aja dulu, gerah.”
“Iya, Non. Nanti Bibi pijit sambil Non istirahat,” kata Bi Jum.
“Iya, Bi.”

Ratna mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Selanjutnya ia akan minum teh panas buatan Bi Jum, lalu minta dipijit dan tertidur hingga kicau burung pagi menyapanya.

*****

Setelah pertemuan dengan Ratna, Janus merasa aneh dengan dirinya. Tiba di kantor pagi itu Janus langsung membuka laptop dan cek e-mail. Sedikit kecewa karena e-mail dari kantor Ratna belum masuk. Ia hanya tersenyum ketika pikirannya ingin menelepon Ratna menanyakan soal draf kontrak. Sedikit bersusah payah ia menahan keinginannya. Janus terlihat mulai terkesima dengan Ratna sejak pandangan pertama. Getaran aneh muncul, setelah bertahun-tahun lenyap.

Selesai makan siang, Janus tersenyum menyembunyikan kegembiraan saat menatap komputer di depannya. E-mail dari Ratna sudah masuk. Senyumnya mengembang se­panjang ia membaca e-mail kontrak dari kantor Ratna. Konsentrasi pekerjaannya sedikit terganggu. Beberapa kali Janus harus membaca ulang e-mail Ratna karena tidak fokus. Kembali ia mencoba melawan hatinya dengan berpikir bahwa Ratna hanya perempuan Indonesia seperti pada umumnya. Namun sekaligus ia ragu. Kali ini nurani Janus mengalahkan pikirannya, tak bisa menahan diri untuk tak menelepon Ratna. Dan berdua berbicara di telepon mengenai pekerjaan, awalnya. Laki-laki itu akhirnya mengundang Ratna untuk makan malam.

Setelah menutup telepon, berdiri di samping mejanya Janus bertanya kepada dirinya sendiri. Benarkah ia telah mengajak Ratna makan malam? Dan entah kenapa hatinya bergembira. Rasa ingin tahu tentang sosok Ratna kian mendesak kalbunya. Dan Janus menikmati hal itu.

Janus tetap bergeming dengan wanita-wanita yang mencoba memberi dan mencari perhatiannya. Ia tak pernah memberikan kesempatan kepada wanita untuk berbicara di luar urusan pekerjaan. Apalagi membagi nomor telepon, ia sangat membatasi diri tapi tetap sopan saat bicara dengan perempuan. Ketika para wanita di kantor bergosip tentang dirinya homo, ia tetap santai paling sesekali hanya membatin, “Stupid.” Sikapnya yang dingin justru membuat banyak wanita penasaran dan berlomba ingin dekat dengannya.

“Jadi, Vi, nanti malem mau mancing singa jantan?” tanya Ela, yang juga staf di kantor Janus.
“Pantang buat gue mundur. Selama ini gue selalu dapet pancingan,” jawab Evi percaya diri.
“Kalo loe dapat yang ini, dua hari gue traktir makan siang,” tantang Ela.
“Liat aja… dapet deehh. Sudah kodratnya, laki-laki bertekuk lutut di kerling wanita.”

Pulang kantor malam itu, Janus melenggang ringan menuju lobi menunggu sopirnya. Ada yang berbeda pada raut wajahnya. Hatinya seperti sedang bergembira. Pikirannya sudah tak sabar menunggu esok malam untuk bertemu Ratna. Ia tak mengganggas ketika seorang staf perempuan di kantornya sengaja berdiri di depan lobi menunggu Janus supaya bisa pulang bersama.

“Good night, Pak.” Evi memulai jebakannya.
“Malam.” Hanya itu jawaban Janus.
“Nunggu driver, Pak?”
“Yup.”
“Pak Janus tinggal di daerah mana?” tanya Evi memancing Janus.
“Saya dekat sini aja,” jawab Janus pendek, tersenyum tanpa berminat bertanya balik.

Sopir Janus tiba di depan lobi. Janus bergegas memasuki mobil, ramah berkata pada staf kantornya, “Saya duluan, Vi.”
“Silakan, Pak,” jawab Evi dengan senyum memaksa karena kecewa. “Sombong banget!” batin Evi setelah mobil Janus menghilang

*****

Malam yang dijanjikan keduanya tiba. Ratna terlihat feminin melenggang dengan baju kantor warna hitam tanpa lengan sedikit di atas lutut, dipadu luaran berwarna krem transparan, mengenakan sepatu high heel. Hanya ada saputan bedak tipis pada wajah putihnya serta goresan lips gloss pada bibir yang selalu menyungging senyum itu. Sementara itu, Janus mengenakan hem polo bergaris, bercorak biru dipadu dengan celana warna krem tua, tampan. Berdua bertemu di restoran sebuah hotel yang cukup tenang di kawasan Jakarta Selatan.

“Hai, apa kabar?” sapa Janus, yang datang tiga menit lebih awal.
“Hai, baik. Belum telat kan, aku?”
“Belum. Lima menit lagi baru telat,” jawab Janus tersenyum.

Ratna meletakkan tas dan duduk berhadapan dengan Janus. Sambil menunggu menu yang mereka pesan, Ratna dan Janus terlibat obrolan ringan tentunya.

“Macet banget tadi?” tanya Janus.
“Hmm… lumayan.”
“Jakarta masih saja tak teratur. Macet, udara kotor, tingkah orangnya yang aneh, pemerintahannya seperti nggak peduli.

Beda sekali dengan Jerman,” keluh Janus, mulai pamer kesombongannya
Ratna diam sejenak. “Kenapa kamu nggak tinggal di luar negeri aja?”
“Karena aku harus tugas di sini,” sahut Janus, mencoba mempertahankan keluhannya.
“Berarti kamu masih butuh Indonesia, kan?” tanya Ratna masih tetap tenang.

Janus terdiam dengan jawaban Ratna yang tenang. Ia menarik napas, dalam hatinya mencoba mengoreksi komentarnya tentang Jakarta.

“Sori kalau kamu nggak suka dengan komentarku,” kata Janus.
“Itu hak kamu mau berkomentar apa saja tentang Jakarta ataupun Indonesia.”
“Aku bicara tentang penilaianku di sini. Perilaku orang-orang yang menurutku sering menyebalkan. Tapi sebaliknya malah mereka menilai aku yang arogan,” kata Janus. “Aku nggak bisa memahami dengan kehidupan seperti ini.”

Ratna memilih mendengarkan keluhan Janus. Ia menjadi tahu Janus masih melihat sisi negatif tentang masyarakat dan lingkungannya. Ratna tak sepenuhnya menyalahkan Janus, ia masih memandang itu hal yang lumrah. Karena kadang kenyataannya memang seperti itu.

“Apa yang menyebabkan kamu betah tinggal di sini?” tanya Janus sambil menyantap hidangan makan malam.
“Hmmm… aku lahir, besar, dan bekerja di sini. Aku nggak ingin banyak berkomentar tentang kekurangan negeriku. Aku hanya mencoba memberikan apa yang bisa kuberikan untuk Indonesia,” jawab Ratna santai.

Janus menatap Ratna dengan pandangan agak bingung. “Tapi perilaku orang di sini bener-bener aneh. Bagaimana kamu bisa memberikan sesuatu untuk negeri ini?” tanya Janus. “Yang ada, kamu malah dicap sok dan nggak ada orang sekitarmu yang peduli.”

“Masyarakat tumbuh dan berkembang menyesuaikan lingkungan. Itu harus kita terima. Di balik kekurangannya, Indonesia itu luar biasa,” jawab Ratna menatap Janus.

Janus meletakkan sendok garpunya, meneguk air putih di depannya, dan menatap Ratna tajam. Ia semakin ingin tahu.
“Kalau boleh tahu,” kata Janus, “saat ini apa yang sedang kamu berikan untuk Indonesia?”

Ratna menyelesaikan suapan terakhirnya. Setelah minum air putih, ia memandang Janus. “Tak banyak,” katanya. “Aku hanya mencoba berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung.”

“Maksud kamu?”
“Aku mengajar dan menyisihkan sebagian penghasilanku untuk anak-anak di tempat kumuh, dan juga di sebagian pedalaman Indonesia.”

Janus terdiam dan memandang Ratna seakan tak percaya. Ia tak pernah menduga perempuan seperti Ratna masih memikirkan anak-anak tidak mampu. Selama ini ia hanya berpikir itu urusan pemerintah yang tak becus. Apalagi sampai menyentuh bagian pedalaman Indonesia, mengenal pun tidak. Ia hanya tahu sebagian Indonesia dari berita atau gambar di media. Janus lebih memilih sekolah dan tinggal di luar negeri.

“Kenapa diam?” Ratna mengagetkan Janus yang bengong.
“Aku cuma bingung dengan yang kamu kerjakan. Kamu punya pekerjaan dan gaji bagus. Kenapa uangmu nggak kamu simpan untuk investasi? Jangan terlalu idealis. Karena kamu nggak akan bisa mengubah anak-anak itu.”
Ratna tersenyum, “Justru aku yang bingung sama kamu.”

“Means?” tanya Janus.
“Ya, aneh aja… kamu lahir, pernah tinggal, dan sekarang mencari makan di sini, bahkan kamu masih jadi warga negara Indonesia, tapi kamu malu mengakui tanah airmu.” Tenang Ratna menyindir Janus. “Aku memang tak akan bisa mengubah anak-anak kurang beruntung itu. Tapi mencoba semampuku menyadarkan mereka bahwa mereka juga punya keinginan dan kemampuan. Mereka bisa meraihnya dengan benar.”

Janus bingung, tak tahu bagaimana harus menjawab Ratna. Karena memang pendapat Ratna benar. Bahkan kalau sekarang orangtuanya menjadi pengusaha terkenal juga berawal dari Indonesia. Namun, ia tak pernah mencintai negeri ini. Ketika orangtuanya berusaha mengenalkan Indonesia, ia memilih pergi dengan teman-teman luar negeri yang dianggapnya punya wawasan luas. Ratna seperti mencolok matanya. Namun ia belum ingin meletakkan kesombongan malam itu karena malu dengan dirinya sendiri. Tapi sejujurnya Janus kian penasaran dengan perempuan di depannya itu.
“Apa pun yang berada di bumi itu, ada baik-buruk, kelebihan-kekurangan, masa lalu-masa kini,” kata Ratna. “Luar negeri pun pun pasti punya dua sisi itu.”

Janus masih terdiam, hanya mampu mendengarkan Ratna berbicara. Sekaligus ia mulai kagum dengan perempuan yang telah memojokkannya. Di luar negeri ia banyak bertemu dengan perempuan yang kritis dan pintar, tapi tak mengenal Indonesia. Sedangkan saat ia pulang untuk liburan, Janus lebih banyak bertemu dengan wanita yang seperti dalam pandangan sempitnya. Tak mempunyai pendirian, hanya mengikuti kemauannya karena ia punya uang.

“Arti nama Janus, dewa dari Roma, yang mengajari kita menerima dua sisi kehidupan,” ucap Ratna, yang lagi-lagi memojokkan Janus. “Bagaimana kamu akan mengenal negerimu kalau kamu tak pernah menyentuhnya?”

Janus menarik napas. Rasa ingin tahu mengenai Ratna kian tak terbendung. Itu berarti dia harus mengalah meletakkan kesombongannya. Lalu ia menatap Ratna dan berkata, “Oke, ajak dan ajari aku mengenal Indonesia.”

“Aku nggak yakin kamu niat.”

Janus merasa tertantang. “Aku akan buktikan.”

“Kalau gitu,” Ratna berkata tegas, “kamu mesti ikut sekolah di tempat kumuh dan jangan mengeluh.”
“I will,” jawab Janus.

Keduanya tersenyum, lalu Janus membayar tagihan makanan. Setelahnya, Janus mengantar Ratna hingga depan mobil.

“Makasih untuk malam ini,” kata Janus.
“Sama-sama,” Ratna tersenyum.
“SMS me when you got home, please.”
“I will.”

Janus menunggu hingga mobil Ratna keluar dari parkiran, berdua saling melambaikan tangan dan melempar senyum hangat. Janus masih berdiri diam di tempat parkir, tersenyum memandangi mobil Ratna yang sudah menghilang. Ia tak menyadari dengan keanehan tingkahnya. Sementara itu, Ratna juga tersenyum sambil menyetir, merasakan ada yang ganjil dengan hatinya, tapi ia ragu mengetahui artinya.

*****

Janus benar menepati janjinya setelah malam itu. Mengikuti Ratna belajar sedikit demi sedikit mengenal hal kecil di sekitar. Keduanya semakin sering bertemu di luar urusan kantor. Makan malam, sekadar jalan ke pasar tradisional, atau hanya makan es krim. Janus juga ikut Ratna ke tempat kumuh, walaupun awalnya canggung. Saat di tempat kumuh inilah, Janus sering termangu, diam menerawang entah apa yang dipikirkannya.

“Hai, kok bengong,” ujar Ratna mengagetkan Janus yang tengah tercenung.
“Nggak apa-apa, kamu terusin aja mengajar,” jawab Janus dengan nada tak ceria.

Kulit sombong pada diri Janus mulai mengelupas sedikit demi sedikit. Nglungsungi seperti kulit biawak. Ia bersama Ratna saling belajar tentang hal yang belum diketahuinya. Ratna menghargai sosok seperti Janus yang masih mau kembali mengenal negerinya. Walaupun kadang Ratna tetap melihat kesombongan Janus tentang pandangannya terhadap wanita, pernikahan, dan anak. Sebaliknya, Janus merasa menemukan sosok wanita yang memiliki wawasan luas, berani mengungkapkan pikirannya, mempunyai selera sepadan, juga banyak tahu tentang buku dan film.

Setiap Janus akan mengeluh tentang beberapa hal yang dianggapnya tak waras, Ratna selalu mencoba mengingatkan dengan halus. Selebihnya, Janus akan luluh melihat senyum Ratna. Mengirim SMS ketika ada waktu santai sudah menjadi rutinitas keduanya, bertukar cerita, sedikit terbuka dengan pribadi masing-masing, lalu menjadi saling mengkhawatirkan.

Janus mulai banyak bicara tentang kebudayaan dan sastra Indonesia, lalu mengungkapkan pandangannya.

“Wow, kamu baca di mana?” tanya Ratna.
“Internet sama di buku, dong,” jawab Janus tersenyum, lalu menggoda Ratna. “Ada PR lagi, Bu Guru?”
“Enggak, deh, soalnya kamu udah tambah pinter,” Ratna balas menggoda. Lalu, setelah jeda sejenak, “Bulan depan aku akan pergi ke suku Dayak.”
“Dayak di Kalimantan?” tanya Janus.
“Yes.”

Janus terdiam sesaat, kaget dengan niat Ratna untuk pergi ke pedalaman Dayak. Ia pun berpikir tentang momen menarik untuk menyalurkan hobinya.

“Satu bulan dari sekarang? Kamu ada rencana apa saja di sana?” tanya Janus.
“Aku akan mengunjungi anak-anak di sana, mengajar, berbagi kebutuhan sekolah, susu dan lainnya, serta aku pingin tahu lebih jauh tentang Dayak.”
“Wwooww…,” Janus setengah tidak percaya sekaligus kagum, “are you sure?”
“Iya, kenapa?”

Janus kembali diam, memandang Ratna, lalu tersenyum. “Aku akan gabung dengan kamu ke Dayak, berbagi uangku ke kamu untuk anak-anak yang membutuhkan.”

“Kamu yakin?” tanya Ratna tak percaya.
“Iya, kenapa?” Ganti Janus bertanya.
“Atau mau sekadar menyalurkan hobimu, fotografi?”
“Hmm… turis asing datang ke Indonesia selain membaca tulisan juga karena melihat foto.”
“Kamu sendiri yang bilang, investasi jauh lebih penting daripada memikirkan mereka. Kamu juga nggak suka anak-anak, sementara aku akan bertemu banyak anak di pedalaman, jauh, kotor.”
“Hi, berbeda deskripsi. Iya, saat ini aku memang nggak mau berpikir tentang pernikahan atau punya anak.” Janus mencoba meyakinkan Ratna, “Tapi kamu sudah mengajariku tentang berbagi dengan anak-anak miskin, ternyata menarik. Dan itu merupakan investasi besar pada diri manusia.” Lalu ia menambahkan, “Aku ingin tahu kehidupan mereka di pedalaman serta mengenal wilayah negeriku.”

Ratna tersenyum dengan sedikit keraguan. “Ok, tapi nggak boleh ada protes atau mengeluh, karena ini perjalanan jauh dan sulit.”

“Baik, Bu.”
“Kalau kamu ngeluh, aku suruh balik sendiri ke Jakarta.”
“Siap,” jawab Janus. Lalu katanya, “Aku belum tahu banyak tentang pedalaman. Aku akan bantu menyiapkan semua dan transfer uang ke kamu besok pagi.”
“Ok, aku akan komunikasikan ke kamu segala persiapannya.”
“Yup. Kita sambil jalan pulang, ya?”
“Iya.”

Sesudah membayar makanan, Janus menggandeng jemari Ratna, masuk mobil dan mengantar Ratna pulang.
“Jakarta-Kalimantan berapa jam, Rat?” tanya Janus sambil jalan.
“Jakarta-Balikpapan dua jam.”
“Setelah itu?”
“Setelah itu, kita akan menempuh perjalanan panjang dalam hutan dan melewati sungai.”
“Wwoww.”
“Kenapa? Mulai ragu?” tanya Ratna memastikan.

Janus tak menjawab pertanyaan Ratna. Dengan santai ia melihat jalanan, tapi tiba-tiba tangannya menggelitik Ratna. Ratna berteriak dan keduanya tertawa ceria.

“Oke,” kata Janus, “aku akan menyiapkan perjalanan jauh mengenal Dayak dan mengawal Bu Guru.”
“Ya, jaga kesehatan kamu.”

Tiba di rumah Ratna yang asri, keduanya tersenyum saling memandang sebelum Ratna turun.
“Please, SMS me when you got home,” pesan Ratna.
“I will,” jawab Janus tersenyum.
“Oke, jangan ngebut, ya,” pesan Ratna sekali lagi sambil membuka pintu mobil.
“Yup.”

Janus rupanya tak ingin Ratna memasuki halaman rumahnya sendirian. Ia pun turun dari mobil dan menemani Ratna hingga depan pintu. Ratna tersenyum senang dengan tingkah Janus.

*****

Hampir setiap hari, Ratna membuat persiapan per­jalanannya ke Kalimantan, di sela tugas kantornya. Mulai hubungan dengan orang yang akan mengantarnya, mencari hotel, rute perjalanan, transportasi selama di pedalaman Kalimantan, guide, obat-obatan, hingga materi untuk mengajar, semua ia siapkan dengan baik. Ia pelajari semua tentang Dayak zaman dulu dan membandingkannya dengan kondisi sekarang. Karakter masyarakat, sampai kebudaya­annya yang unik.
Sementara itu Janus, dibantu orang-orangnya, mulai mengirim barang-barang yang sudah disiapkan Ratna ke Balikpapan dua minggu sebelum keduanya berangkat. Melalui peta, Janus juga mempelajari rute perjalanan yang sudah diberikan Ratna kepadanya. Ia sendiri sudah tak sabar ingin tahu tentang Dayak dan Kalimantan. Ia menyadari Ratna telah membuat perubahan besar dalam dirinya. Hidupnya selama ini hampir selalu berjalan mulus, tak mengenal apa itu kekurangan atau kesusahan, walau ia sendiri harus bekerja keras.

Kedekatan Janus dengan Ratna mulai tercium oleh kantor keduanya. Mulai gosip miring sampai komentar positif mengalir merembes lewat dinding kantor. Para wanita dan cowok-cowok yang merasa terabaikan cintanya hanya bisa melihat dengan pandangan kecewa. Ratna dan Janus tetap tenang, tak melonjak ataupun panas karena gosip. Kesibukan pekerjaan keduanya menjelang keberangkatan ke Kalimantan mendorong Ratna dan Janus untuk tetap berpikir positif dengan omongan orang kantor. Mereka tak ingin meninggalkan PR kantor selama berada di Kalimantan.

Malam itu, tiga hari sebelum berangkat ke Kalimantan, Ratna menyempatkan diri mampir ke rumah Nurul. Seperti biasa, ia selalu membawakan makanan dan buku bacaan kesukaan Rachel dan Darma.

“Duhhh… yang lagi punya temen baru, sampai lupa sama Darma,” ledek Nurul.

Ratna tak ingin mengelak dengan ledekan Nurul, dan ia hanya bisa tersenyum.

“Senyam-senyum lagi… atau kamu mulai jatuh cinta sama Janus?”
“Belum, sih. Cuma mulai nyaman aja,” jawab Ratna sedikit diplomatis.
“Apa bedanya nyaman sama mulai jatuh cinta?”
“Mmmm… tapi, Janus itu orangnya cuek, dia nggak ingin menikah atau punya anak. Baginya, hal itu hanya akan mengganggu hidupnya.”
“Nah. Terus kalau kamu jatuh cinta sama dia, gimana?”
“Kabar kamu gimana dulu?” Ratna coba mengalihkan topik.
“Seperti yang kamu lihat, masih jalan di tempat. Terus lanjutan Janus gimana?” goda Nurul kembali.

Ratna diam sejenak, “Ya, aku harus siap dengan komitmen Janus dan nggak boleh sakit hati atau harus berharap lebih.”

“Hallllaaahhh…. itu kan teori. Kamu sama Janus sama-sama belum tahu rasanya ketampar cinta. Apalagi kalau sudah mendera hati kalian, kamu nggak akan bisa mengatasinya,” kata Nurul mewanti-wanti Ratna.

Ratna menatap sahabatnya dengan serius, ingin me­mastikan kebenaran komentar Nurul. Ratna lalu menyadari, karena sebuah cinta, sahabatnya Nurul punya keberanian menjalani hidupnya saat ini.

“Kenapa? Kamu takut?” tanya Nurul.

Ratna diam beberapa jenak sebelum menjawab, “Aku akan jalani aja. Kalau aku harus sakit, ya itu bagian dari risiko yang harus kuhadapi.”

“Jadi kamu serius jatuh cinta sama Janus?” Nurul mencoba meyakinkan jawaban Ratna.
“Nggak tau.”
“Aduuhh, Rat, Rat. Otakmu itu pinter, kamu cantik, tapi kadang juga bego soal perasaan.”

Tiba-tiba ponsel Ratna berbunyi, dari Janus. Nurul melihat keakraban dan sedikit kemesraan keduanya di telepon.
Saat Ratna menutup teleponnya, Nurul langsung berkomentar, “Eh, dia juga jatuh cinta sama kamu, tuh.”

“Emang iya?!” tanya Ratna.
“Gini ya, Mpok. Mana ada cowok sampai seperhatian begitu pada perempuan tanpa ada rasa di hatinya. Percaya, deh.”

Ratna hanya diam. “Tapi aku kan nggak boleh banyak berharap,” katanya.

“Halah… teori lagi. Ya udah, nggak banyak berharap deh. Tapi ntar kalau terhanyut oleh kubangan rasa yang amat dalam, jangan nangis ke gue ya. Apalagi kalian mau pergi ke Kalimantan berdua.”

Keduanya masih melanjutkan obrolan, bertukar cerita, kadang harus terhenti karena Rachel dan Darma bertanya tentang sesuatu. Nurul masih tiada henti menggoda Ratna di sela-sela cerita rumah tangganya. Ratna tersenyum gembira menanggapi sahabatnya. Namun, ia sembunyikan hatinya yang berdebar di depan Nurul.

“Udah, ah,” kata Ratna. “Aku mau pulang.”
“Iya, deh…. cepet pulang, sudah ada yang khawatir, ntar kemalaman.”
“Nitip oleh-oleh apa?”
“Bawain air Sungai Mahakam buat ruwatan buang sial,” jawab Nurul santai.

Keduanya lalu tertawa. Ratna meninggalkan rumah Nurul. Sepanjang perjalanan pulang, ia tersenyum sendiri di mobil, mendekap semua rasa yang dikatakan sahabatnya. Angannya melayang tak sabar menunggu tiba hari keberangkatan ke Kalimantan.

Dikutip dari buku Tenun Biru, karya Ugi Agustono J. Penerbit Nuansa 2012

tenun biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *