Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Pesantren, Santri, Puisi

Pesantren, Santri, Puisi

Oleh Acep Zamzam Noor

Puncak-puncak puisi Islam klasik sebagian besar bertalian dengan tasawuf, hal ini terutama karena ditulis oleh para penyair sufi atau yang berkecenderungan sufistik dan punya hubungan erat dengan tasawuf. Munculnya tokoh-tokoh tasawuf seperti Rumi, Sana’i, Attar atau Al-Hallaj dalam panggung sejarah peradaban dan kebudayaan Islam, telah menunjukkan bahwa tasawuf dan kesusastraan—khususnya puisi—hampir tak bisa dipisahkan satu sama lain. Pengalaman-pengalaman kerohanian mereka begitu kerap diungkapkan dalam wujud puisi yang indah dan tinggi nilainya. Begitu pula pesan-pesan dan gagasan-gagasan mereka tentang Tuhan, manusia, moralitas, kemasyarakatan dan sebagainya.

Eratnya hubungan tasawuf dengan puisi konon berpangkal pada kenyataan, bahwa pada puncaknya pengalaman mistik bersinggungan dengan pengalaman estetik. Seperti seniman dalam artian yang sesungguhnya, mereka tidak pernah puas dengan aspek-aspek lahir dari kehidupan dan juga tidak puas dengan apa yang dicapai oleh akal. Mereka mencari hakekat yang tersembunyi dan menangkap keindahan yang paling hakiki.

Muhammad Iqbal, seperti dikutip penyair Abdul Hadi W.M. dalam salah satu artikelnya, mengatakan bahwa seorang penyair bisa menghasilkan karya yang benar dan indah apabila memiliki ilmu pengetahuan dan cinta, ketajaman akal dan kejernihan hati, berlimpah dengan pengalaman ruhani dan memiliki pribadi yang tangguh, memiliki rasa kebebasan dan keberanian dan senantiasa dalam keadaan “tergiur” dalam proses penciptaanya. Apa yang dikatakan Iqbal ini sangat pokok, oleh karena tanpa itu tidak mungkin lahir karya sastra yang agung, indah dan benar. Hal ini pun juga sangat penting dalam rangka mencapai tujuan dari perjuangan hidup mereka, yaitu amar makruf nahi munkar, menegakkan kebaikan dan mencegah kejahatan. Inilah sasaran para penyair sufi sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Apabila dikaitkan dengan gerakan tasawuf yang ingin ditegakkan tokoh-tokohnya yang terkemuka seperti Rumi, Sana’i, Attar serta Iqbal sendiri hal-hal tersebut menjadi jelas sekali hubungannya. Mereka bertujuan menegakkan suatu sistem tasawuf yang mampu menolong mempertangguh batin dan kepribadian umat yang telah diliputi perasaan pesimis dan mudah putus asa dalam menghadapi kehidupan. Kita tahu bahwa pada masa Attar dan Rumi, umat Islam sedang menghadapi cobaan yang sangat berat, penuh ketakutan dan hilang rasa percaya pada diri dan agamanya yang sebenarnya berpotensi besar.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, puisi-puisi yang berkecenderungan sufistik telah muncul sejak awal perkembangannya. Yang dimaksud dengan kesusastraan Indonesia di sini tentu saja kesusastraan yang menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu sebagai media ungkapnya. Hamzah Fansuri, Bukhari Al-Jauhari, Syamsuddin Al-Sumatrani, Nuruddin Al-Raniri dan Abdurrauf Singkel bisa disebut sebagai pelopor kesusastraan Melayu. Mereka adalah para sufi atau ulama yang terkemuka pada zamannya, yang karya-karyanya sarat dengan nilai-nilai keislaman. Berkat jasa-jasa mereka bahasa Melayu terangkat dari kedudukannya yang semula hanya bahasa lokal kemudian ditetapkan menjadi bahasa nasional.

Hamzah Fansuri yang terkenal dengan syair-syairnya memberikan pengaruh yang sangat kuat pada generasi yang jauh dibelakangnya seperti Raja Ali Haji misalnya, yang menurut para pengamat merupakan penyair penutup sastra Melayu klasik. Pengaruh Hamzah Fansuri masih terus berlanjut hingga ke penyair-penyair Pujangga Baru seperti Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Bahkan Amir Hamzah kemudian membuktikan diri sebagai penyair paling terkemuka dari angkatannya, bukan hanya karena ia berbakat besar tapi juga karena penyair kelahiran Langkat yang mati terbunuh ini mewarisi tradisi sastra Melayu-Islam.

Sajak-sajak Amir Hamzah yang modern dengan mudah dapat dihubungkan benang merahnya pada karya-karya Hamzah Fansuri, selain pada karya-karya para penyair Parsi klasik seperti Rumi, Sana’i, Hafiz atau Omar Khayam tentunya. Bukan saja dalam penggunaan simbol-simbolnya melainkan juga pesan-pesan religiusnya yang sublim. Selain Amir Hamzah, sejumlah penyair seperti Samadi, Ali Hasymi, Rifa’i Ali dan lain-lain yang juga mewarisi tradisi Melayu berhasil juga mengukuhkan kembali pengaruh Islam, dalam hal ini yang berkecenderungan tasawuf, ke dalam kesusastraan Indonesia setelah sebelumnya mengalami kemerosotan seiring dengan merajalelanya kolonialisme dan gelombang pengaruh kebudayaan Barat.

Puisi-puisi religius yang bernafaskan Islam masih terus berlanjut diciptakan para penyair Indonesia sesudah kemerdekaan. Pada dekade tahun 1960-an, ketika suhu politik bergejolak dan masyarakat terpecah dalam polarisasi partai dan ideologi, nama-nama seperti Bachrum Rangkuti, Djamil Suherman, Mohammad Saribi Afn, Mohammad Dipenogoro, Ali Audah, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad dan beberapa yang lain, tampil dengan puisi-puisi yang kontemplatif, penuh renungan religius, dan bahkan banyak juga yang mengacu pada Al-Quran. Puisi-puisi para penyair Muslim ini harus berhadapan dengan karya-karya realisme sosial dari para sastrawan Lekra/PKI yang berideologi komunis. Pada masa yang penuh pertentangan dan gejolak itu, sebuah puisi Taufiq Ismail menjadi terasa sejuk di tengah situasi kesusastraan yang mengalami krisis kepercayaan terhadap puisi. Puisi itu berjudul “Muhammad Menjelang Baytul-Maqdis”:

 

Langit yang melengkungkan dada, biru hitam

Muka tengadah denyut darah tertahan

 

Kutoreh dadamu al-Amin, jantung baiduri

Kubuka langitku bagimu, mata hujan dan salju

 

Di tangannya waktu meleleh

Lumat gurun dan lembah. Berlalu

 

Gerimis cahaya melinangi bumi

Lekat dada dan langit baginya. Selalu

 

***

Memasuki tahun 1970-an kesusastraan yang bernafaskan Islam terus merebak dan tambah semarak. Di alam Orde Baru yang masih terasa segar, kebebasan berekspresi seolah terbuka lebar tanpa hambatan dan tekanan seperti sebelumnya. Bentuk-bentuk baru pun bermunculan dengan segala keragamannya. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa hampir semua sastrawan yang terkemuka saat itu menunjukkan perhatian yang besar pada dunia spiritual. Baik itu naskah drama, novel, cerpen maupun puisi sarat dengan nilai-nilai religius dan transendental. Danarto, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, Muhammad Fudoli, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Hamid Jabbar, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron dan Emha Ainun Nadjib yang muncul kemudian adalah tokoh-tokoh yang mengobarkan semangat keagamaan dan nilai-nilai transendental dalam karya-karyanya. Hal lain yang perlu dicatat, bahwa diantara nama-nama yang tersebut di atas punya latar belakang pesantren atau pernah bersinggungan dengan dunia pesantren.

Sebagai sebuah sub-kultur yang tua dan unik di Indonesia, tidaklah mengherankan jika pesantren, selain menghasilkan para ulama, juga banyak melahirkan sastrawan, karena pesantren memiliki tradisi kontemplasi dalam kesehariannya dan dekat dengan kehidupan yang berbau tasawuf. Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam, yang umumnya mengambil tempat di desa-desa terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota. Pihak luar sering melihat keunikan pesantren sebagai wilayah sosial yang mengandung kekuatan resistensi terhadap dampak modernisasi, sebagaimana di masa lalu, lembaga ini berperan dalam menentang penetrasi kolonialisme, walaupun dengan cara uzlah atau menghindar dan membangun komunitas tersendiri.

Menurut Zamakhsyari Dhofier, seorang peneliti masalah pesantren, tujuan utama pendidikan di pesantren bukan semata-mata memperkaya pikiran para santri (murid) dengan penjelasan-penjelasan rasional, tetapi untuk lebih meningkatkan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajar sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, serta menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati. Dengan demikian, tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan.

Komunitas santri ini mempunyai sistem nilai yang berbeda dengan sistem nilai manapun. Sistem nilai yang berkembang mempunyai watak tersendiri, yang sering diistilahkan Abdurrahman Wahid sebagai watak sub-kultur. Kendati demikian, jika ditelaah lebih mendalam, ternyata pesantren tidak hanya berwatak sub-kultur saja. Nilai pokok yang berkembang di dalam komunitas itu adalah bahwa seluruh kehidupan ini dipandang sebagai ibadah. Sejak memasuki kehidupan komunitas ini, seorang santri telah diperkenalkan dengan suatu kehidupan tersendiri, kehidupan yang bersifat “keibadahan”. Nilai demikian ini mempunyai makna dinamis, tidak berhenti pada penyerahan diri kepada Allah, asketisme atau lillâhi ta‘âlâ dalam artian tidak menghiraukan kehidupan. Sebaliknya kehidupan keduniawian disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai ilahi yang telah mereka peluk sebagai sumber nilai tertinggi.

Kehidupan yang taat terhadap Allah tidak mesti menghilangkan aktivitas formal yang secara langsung memberikan pengaruh-pengaruh materil, melainkan ketaatan dalam artian mengorientasikan seluruh aktivitas keduniawian ini ke dalam suatu tatanan nilai ilahiyah. Dengan demikian, ketaatan seorang santri terhadap kiai (guru), misalnya, akan dipandang sebagai ibadah. Dari sudut perlakuan terhadap ibadah inilah, kegiatan mencari ilmu selama bertahun-tahun dan tinggal bersama dalam sebuah komunitas dapat dimengerti. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan agama yang begitu kuat merupakan landasan untuk memahami kehidupan yang serba ibadah ini.

Selain nilai yang serba ibadah dan cinta ilmu masih ada lagi suatu nilai yang banyak mempengaruhi kehidupan seorang santri, yaitu keikhlasan. Melaksanakan sepenuhnya apa yang diperintahkan kiai, tanpa rasa sungkan dan berat, merupakan bukti utama keikhlasan. Begitu pula pengabdian seorang kiai untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang dikelolanya tanpa memperhatikan kepentingan pribadi, merupakan sikap ikhlas timbal balik antara seorang santri dan kiainya. Rangkuman nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk suatu watak dunia pesantren, di mana mereka melihat sesuatu tidak secara per-materi, tetapi materi itu di subordinasikan ke dalam suatu nilai-nilai ilahiyah, yang kemudian secara tekun dilaksanakan dengan kerelaan dan tanpa rasa berat.

Dari gambaran selintas di atas nampaklah, bahwa komunitas santri mempunyai nilai dan watak tersendiri, yang secara esensial lahir dari pemahaman mereka terhadap doktrin Islam. Berkat nilai dan watak itulah mereka mampu memberikan suatu dimensi kehidupan yang lain, suatu dimensi kehidupan yang taat terhadap kekuatan-kekuatan transendental, suatu kehidupan serba ibadah. Dengan demikian seluruh bentuk kehidupan yang mereka jalani, baik dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya, merupakan refleksi pemahaman dirinya terhadap ajaran Islam. Kendati pun dalam perkembangannya kemudian, khususnya sekarang ini, tidak semua ciri-ciri tersebut mampu dipertahankan terus, terutama dalam sikap dan cara dalam menghadapi perkembangan zaman.

Dalam hubungannya dengan kesusastraan, nilai-nilai dan watak yang khas dari dunia pesantren bukanlah hal yang asing dalam sastra Indonesia mutakhir. Semenjak cerita-cerita romantik Djamil Suherman yang menggambarkan secara langsung kehidupan pesantren pada tahun 1960-an, karya-karya Muhammad Fudoli yang juga ber-setting pesantren dan pedesaan, karya-karya Kuntowijoyo yang sarat dengan nilai-nilai transendental, sampai karya-karya mutakhir dari Ahmad Tohari dan Emha Ainun Nadjib yang banyak mengungkapkan dan membela orang-orang lemah atau yang dilemahkan secara struktural, rasanya tak terlalu sulit untuk menemukan benang merah yang menghubungkan karya-karya tersebut dengan nilai-nilai dan watak kaum santri.

Dalam sebuah wawancara dengan Abdul Hadi W.M., Muhammad Fudoli, pengarang yang mempunyai latar belakang pesantren yang kuat dan pernah lama menuntut ilmu di Mesir mengatakan, bahwa menulis baginya merupakan salah satu ibadah, penyingkapan yang terus menerus atas tabir yang membatasi kita dengan Allah, perjalanan yang tak henti-hentinya dalam mendekatkan diri kepada-Nya, dalam menyatukan diri dengan sifat-sifat-Nya. Dan ibadah adalah perjalanan makrifat yang tak putus-putusnya dalam menuju kepada-Nya. Sementara itu, dalam makalah yang disampaikannya pada sebuah acara temu sastrawan di TIM beberapa tahun lalu, Kuntowijoyo yang juga dikenal sebagai pakar sejarah menulis dengan lebih sublim lagi: “Sebagai sebuah upacara bersih diri, sastra transendental menjadi sebuah ritual estetis. Simbol-simbol dalam sastra transendental berlaku sebagai formula-formula dari pesan pembersih. Jadi tujuan terakhir dari sastra transendental sebenarnya ialah manusia, bukan estetika itu sendiri. Karena hanya yang bermakna patut disebut sastra, maka sastra transendental harus sarat dengan makna. Sebagai manusia yang bertanggung-jawab terhadab peradaban, kita ingin membuat dunia lebih bermakna, dan sastra adalah salah satu dari makna itu”.

Keberhasilan sebuah karya sastra memang bukan karena karya tersebut berdimensi religius atau sekuler, tapi sebuah karya yang menghadirkan kebenaran dan religiusitas di satu pihak dengan keindahan di pihak lain secara seimbang. Mengenai hal ini Emha Ainun Nadjib berpendapat bahwa kebenaran dan religiusitas ditawarkan oleh agama, sedang keindahan dihadirkan oleh estetika. Maka puncak keberhasilan sebuah karya sastra adalah bertemunya kebenaran dan religiusitas dengan keindahan. Religius ditawarkan oleh agama, sedangkan agama selalu bermuara pada Tuhan. Karena itulah religiusitas hendaknya diartikan sebagai perasaan rindu, perasaan ingin selalu bersama dengan sesuatu yang abstrak, yang berada di luar jangkauan pikiran dan hati, yang kendati pun abstrak tetapi keberadaannya sangat riil, yakni Tuhan itu sendiri.

Puisi-puisi Emha Ainun Nadjib meskipun banyak mengangkat masalah realitas sosial yang timpang, namun tetap berdimensi religius. Ini bisa terjadi tentu saja karena kedalaman kontemplasi Emha dalam menangkap transendensi dari realitas yang ada. Ia berusaha menarik benang merah dari bumi ke langit, mengaitkan persoalan sosial yangdihadapinya pada tataran transendensi. Jadi ia melihat setiap realitas yang ada bukan sekadar realitas, melainkan juga realitas yang abstrak dan metafisis. Saya kutipkan penggalan puisi dari penyair jebolan pesantren ini, judulnya “Aku Masjid”:

 

Aku masjid, aku masjid

Mulailah hari-harimu dariku

Mulailah negaramu dariku

Mulailah pergaulan nilai-nilaimu dariku

Mendewasakan sejarahmu dariku

Mulailah mematangkan sikap kekhalifahanmu dariku

Mulailah merombak, merombak, merombak dariku

 

***

Pada dekade 1980-an kembali kesusastraan Indonesia dihangatkan lagi dengan maraknya puisi-puisi religius. Selain nama-nama terdahulu yang masih tetap produktif, bermunculan pula sederetan nama-nama baru dalam khazanah perpuisian Indonesia. Sejumlah mass-media yang menyediakan rubrik sastra dipenuhi nama-nama baru dengan puisi-puisi religiusnya. Perdebatan pun terjadi dengan hangat hingga muncul istilah-istilah baru seperti “puisi sufi”, “puisi sufistik”, “puisi profetik”, “puisi terlibat-dalam” dan sebagainya. Ini seiring dengan derasnya penerbitan buku-buku tentang tasawuf dan terjemahan puisi-puisi dari para penyair Parsi klasik, seperti Rumi, Attar dan yang lainnya. Sementara kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat bergerak dengan sangat cepat pada hal-hal yang sifatnya material sehingga nilai-nilai spritual atau kerohanian yang menjadi kekayaan batin masyarakat kita menjadi kurang terpelihara. Kehadiran buku-buku tasawuf dan puisi-puisi religius seperti menemukan momentumnya dalam situasi ini.

Maraknya puisi-puisi religius bukan hanya dalam media cetak saja, pembacaan puisi dan diskusi pun lebih sering dilakukan. Bukan hanya di pusat-pusat kesenian atau di kampus-kampus universitas di kota, tapi juga merebak ke pesantren-pesantren. Emha Ainun Nadjib termasuk salah seorang yang paling getol membacakan puisinya di desa-desa. Bagi komunitas santri puisi bukanlah barang asing. Di sejumlah pesantren bahkan telah terbentuk kelompok-kelompok sastra dan teater, di samping juga penerbitkan buletin dan majalah. Pembacaan puisi menjadi rutin dilaksanakan, bukan hanya saat hari-hari besar seperti Maulid atau Israk Mikraj saja, tapi juga pada acara-acara khusus dengan mendatangkan para penyair dari luar. Begitu juga dengan kegiatan menulis puisi. Dengan demikian, diakui atau tidak, pesantren dengan caranya sendiri telah turut mewarnai perkembangan kesusastraan Indonesia

Apabila diamati dengan cermat dan jujur, nama-nama penyair baru yang mulai diperhitungkan di pentas nasional pada dekade 1980-an adalah penyari-penyair yang berasal dari komunitas santri. D. Zawawi Imron, A. Mustofa Bisri, M. Nasruddin Anshoriy, Jamal D. Rahman, Ahmad Syubanuddin Alwy, Ahmad Nurulloh, Mathori A Elwa, Hamdy Salad, Abidah El-Khalieqy dan beberapa yang lain, adalah penyair-penyair yang pernah belajar cukup lama di pesantren. Bahkan D. Zawawi Imron dan A. Mustofa Bisri telah dikenal sebagai kiai yang cukup disegani. Sementara itu, nama-nama seperti Soni Farid Maulana, Ahmadun Yossi Herfanda, Isbedy Setiawan, Ajamuddin Tifani, Abdul Wachid B.S. dan lain-lain adalah para penyair yang juga menulis puisi-puisi religius dengan cukup kental. Mungkin mereka tidak secara formal pernah belajar di pesantren, namun secara sosial mereka hidup dan terpengaruh oleh atmosfir kaum santri. Desa-desa di Jawa dan Madura hampir bisa dipastikan selalu memiliki pesantren, dan ini sangat berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya.

Yang bisa ditangkap dari karya-karya puisi mereka secara tersirat adalah komitmennya untuk terlibat dengan dunia dalam manusia (batin dan rohani), seperti halnya yang menjadi ciri dari puisi-puisi sufi. Aspek pembangunan mental dan spiritual adalah aspek yang sering dilupakan dalam pembangunan manusia di dunia modern. Jika krisis-krisis kemanusiaan yang terjadi di dunia modern karena ketidakseimbangan antara pembangunan fisik dan non-fisik atau antara material dan mental-spiritual, akan terasa pentingnya puisi-puisi yang bisa mengimbangi kepincangan ini. Paling tidak bisa membentengi manusia dari arus besar yang menyeretnya ke arah dehumanisasi dalam tata nilai kehidupan yang berdimensi tunggal.[]

Lebih lanjut baca dalam buku Puisi dan Bulu Kuduk: Perihal Apresiasi dan Proses Kreatif karya Acep Zamzam Noor (Penerbit Nuansa, 2011)

Puisi dan Bulu Kuduk full

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *