Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Budidaya Sayuran Lokal

Budidaya Sayuran Lokal

Oleh Dr. Rahmat Rukmana dan Herdi Yudirachman, M.T.

Potensi Sayuran Lokal

Sayuran lokal semakin diminati oleh masyarakat, sehingga diperlukan peningkatan produktivitas, produksi dan kua­litasn­ya dengan berbagai inovasi yang murah dan mudah diaplikasikan. Tren ini dengan jelas menunjukkan bahwa potensi pengembangan produk-produk sayuran lokal mempunyai prospek yang baik dan menjanjikan.

Indonesia termasuk dalam tiga negara mega keanekaragaman (megabiodiversitas) hayati setelah Brasil dan Madagaskar. Sayuran lokal merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Sayuran ini sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Jenis sayuran lokal tersebut sering disebut dan dikenal dengan sayuran “indigenous”.

Sayuran adalah tanaman yang ditumbuhkan untuk mendapat­kan bagian tanaman yang biasa dimakan mentah atau dimasak sebagai bagian dari makanan. Indigenous adalah “asli atau pribumi”. Sayuran indigenous dapat diartikan “sayuran asli” atau “sayuran pribumi” atau “sayuran lokal”, sehingga dalam buku ini dipilih istilah “sayuran lokal”. Menurut definisi ilmiah, sayuran lokal adalah “sayuran yang beradaptasi di suatu daerah dan dapat tumbuh dengan baik dalam arti potensi tanaman tersebut terekspresi secara penuh” sebagai hasil interaksi antara pengaruh lingkungan dan faktor genetik.

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi penghasil sayuran lokal memiliki peran cukup nyata dalam menghasilkan berbagai jenis sayuran di Indonesia. Potensi jenis tanaman sayuran lokal yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat dan banyak terdapat di daerah Jawa Barat di antaranya adalah kenikir, beluntas, mangkokan, kecombrang, kemangi, katuk, kedondong cina, antanan, poh-pohan, daun ginseng jawa, dan krokot.
Inventarisasi potensi jenis sayuran lokal di daerah Bogor oleh Nuri Andarwulan dan RH Fitri Faradilla (2012) bersama South East Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor, menghasilkan 24 jenis sayuran lokal yang dikoleksi di lokasi University Farm-IPB. Sayuran tersebut adalah kenikir, beluntas, mangkokan putih, mangkokan, daun kedondong cina, kecombrang, kemangi, katuk, antanan, antanan beurit, poh-pohan, daun ginseng jawa atau kolesom, krokot, bunga turi, kucai, takokak, daun kelor, pucuk mengkudu, lembayung, terubuk, daun labu, bunga pepaya, pucuk mete, dan daun pakis.

Hasil penelitian atas kandungan senyawa pada jenis sayuran lokal tersebut menunjukkan bahwa kadar fenol dari ekstrak sayuran lokal berbanding lurus dengan aktivitas antioksidan. Antioksidan yang disebut-sebut sebagai tameng tubuh melawan polutan dan radikal bebas memang memiliki banyak manfaat dalam menjaga tubuh tetap sehat. Suplemen antioksidan pertama kali diperkenalkan oleh sekelompok ilmuwan pada 1981 untuk melawan radikal bebas. Berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa orang yang sering makan sayuran lebih rendah risikonya terkena kanker kolon, penyakit jantung, dan kondisi lain.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) juga melakukan penggalian potensi ekonomis pemanfaatan sayuran lokal, antara lain melalui kegiatan promosi sayuran lokal agar lebih dikenal dan dimanfaatkan oleh konsumen sebagai alternatif sumber pangan yang bernilai gizi tinggi. Terpilih 16 sayuran lokal, antara lain kedelai sayur, bayam, koro (roay), timun merah, paria belut, walang (false coriander), okra, rosela, gambas, labu kuning, paria (pare), kecipir, basela, tomat, jute, dan kangkung. Sayuran yang dipromosikan tersebut merupakan hasil pemilihan negara anggota di Asia, yang meliputi Filipina, Malaysia, Bangladesh, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand dan Indonesia, yang bertujuan mempromosikan keamanan pangan dan kesehatan yang lebih baik pada anggota keluarga di perdesaan, memperbaiki nutrisi anggota keluarga yang kurang mampu melalui akselerasi pemanfaatan sayuran lokal, dan dapat membantu petani dalam diversifikasi sumber pendapatan.
Hampir semua sayuran lokal memiliki potensinya masing-masing sebagai sumber senyawa tertentu yang diketahui memiliki efek fisiologis aktif dan juga farmakologis bagi kesehatan. Sayuran lokal memiliki potensi mengandung senyawa fenolik yang baik dalam kontribusi terhadap kandungan flavonoid. Penelitian-penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa flavonoid dapat berfungsi sebagai antioksidan, antimutagenik, dan antikarsinogenik. Berdasarkan hal tersebut, dengan diketahuinya kandungan flavonoid, seperti antosianidin, flavonol, flavone, flavanol, flavanone, dan isoflavon pada tanaman sayuran lokal, diharapkan tercipta peluang untuk meningkatkan nilai tambah dalam pemanfaatannya.
Pemanfaatan sayuran lokal dan nilai ekonominya di masing-masing daerah (kabupaten) berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh permintaan pasar dan keadaan geografis daerah setempat. Potensi sayuran lokal juga mempunyai beberapa karakteristik yang cukup menjanjikan, di antaranya dapat beradaptasi baik dalam kondisi lingkungan yang relatif beragam, merupakan alternatif sumber protein, vitamin, mineral, dan serat yang relatif murah, serta secara tradisional merupakan salah satu komponen pola tanam, khususnya dalam pemanfaatan pekarangan dan relatif tahan cekaman lingkungan. Di samping itu, beberapa jenis sayuran lokal juga berfungsi sebagai obat untuk suatu jenis penyakit tertentu. Kemangi berfungsi sebagai antioksidan atau antikanker, memperlancar air susu ibu (ASI), mengobati panas dalam dan sariawan; membantu mengatasi bau badan, bau keringat dan bau mulut. Katuk berfungsi sebagai antioksidan atau antikanker, melancarkan ASI, mengobati borok, bisul dan infeksi kulit lainnya, memperlancar saluran pencernaan dan buang air besar. Kecipir berfungsi sebagai antioksidan atau antikanker, mengatasi bisul, borok dan peradangan lainnya, juga mempunyai efek membersihkan darah dan menurunkan kolesterol. Paria sebagai antioksidan atau antikanker dapat memperlancar ASI, mengendalikan penyakit diabetes, menurunkan kolesterol, mengobati gangguan liver, membersihkan darah, dan menambah nafsu makan.

Kendala yang diindikasikan sebagai penyebab rendahnya pemanfaatan sayuran lokal di masyarakat antara lain adalah kurangnya informasi menyangkut teknologi budidaya dan kesesuaian sayuran lokal dengan sistem produksi yang ada, serta kurang tersedianya benih yang dibutuhkan. Sementara itu, dari sisi konsumen, disebabkan masih rendahnya konsumsi di tingkat rumah tangga akibat kurangnya informasi mengenai penganekaragaman (diversifikasi) produk yang berasal dari sayuran lokal, dan sayuran ini tidak selalu tersedia di pasar setiap saat.
Meskipun demikian, hal ini secara implisit memberikan gambaran bahwa konservasi sumber daya genetik sayuran lokal merupakan isu penting. Tantangan hari ini ke depan adalah bagaimana mengangkat potensi manfaat sayuran lokal (indigenous, minor) agar dapat sejajar atau bersaing dengan sayuran mayor yang berkembang lebih dahulu. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) memprakarsai penggalian potensi ekonomis pemanfaatan sayuran lokal di antaranya melalui kegiatan promosi sayuran lokal agar lebih dikenal dan dimanfaatkan oleh konsumen sebagai alternatif sumber pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi. Penganekaragaman pengolahan produk beberapa jenis sayuran lokal dengan membuat berbagai macam resep masakan sudah dihasilkan lebih dari 50 resep masakan berbahan dasar sayuran lokal. Beberapa hasil penelitian tes organoleptik konsumen terhadap masakan sayuran lokal pada saat dilakukan promosi (pameran) menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap sayuran lokal cukup besar.

Hasil penelitian Balitsa terkait dengan diversifikasi peng­olahan produk beberapa jenis sayuran lokal menunjuk­kan prospek yang cerah sebagai pe­luang bisnis kuliner lokal, regional hingga nusantara. Beberapa hasil olahan berbahan baku sayuran lokal, seperti tongkol kemangi dan keripik kemangi, merupakan jenis makanan yang dinilai mempunyai rasa sangat enak. Demikian pula tumis katuk, cendol labu siam, pepes kecipir, dan kreasi pizza koro ternyata banyak diminati oleh anak-anak.

Kreasi menu seperti pizza koro yang terkesan makanan modern pada jenis sayuran lokal yang lain perlu diciptakan agar anak-anak lebih mengenal sayuran tersebut. Keripik kemangi dan paria isi daging dinilai sebagai masakan yang menarik. Konsumen menilai keripik kemangi sebagai jenis masakan yang sangat kreatif. Biasanya daun kemangi hanya digunakan untuk pelengkap masakan supaya lebih beraroma, tetapi ternyata kini dapat dijadikan bahan utama keripik dengan aroma dan citarasa yang khas. Sentuhan inovasi teknologi pada potensi sayuran lokal yang semula tidak bernilai ekonomis bisa mengubahnya jadi komoditas yang bernilai tinggi sekaligus membuka peluang dan prospek yang semakin cerah.

Prospek Bisnis dan Budidaya Sayuran Lokal

Jumlah penduduk dunia saat ini mencapai sekitar 7 miliar jiwa. Dalam 40 tahun ke depan, seperti dikutip dari FAO, penduduk dunia akan bertambah 2 miliar jiwa. Pertambahan jumlah penduduk tersebut akan memengaruhi kebutuhan pangan dunia yang diperkirakan akan meningkat sebesar 40% pada 2030, dan 70% pada 2050. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memproyeksikan jumlah penduduk dunia sebanyak 10 miliar jiwa pada 2050, sehingga dalam rentang waktu sekitar 15–20 tahun dari sekarang (2030–2035) diperlukan peningkatan ketersediaan pangan 50% dari ketersediaan saat ini. Fenomena ini akan terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Proyeksi perkembangan penduduk menunjukkan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang berpenduduk sangat besar pada beberapa dekade mendatang. Mengadaptasi skenario moderat menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI), perkiraan jumlah penduduk Indonesia pada 2015 sekitar 255,8 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,4%, dan pada 2045 diproyeksikan sekitar 361,8 juta jiwa dengan laju pertumbuhan di bawah 1,0%. Tentu hal ini membutuhkan imbangan permintaan dan penawaran komoditas pangan yang menjadi indikator penting dalam perencanaan pencapaian ketahanan pangan masyarakat. Proyeksi kebutuhan pangan tersebut didasarkan pada pertumbuhan penduduk, pendapatan, tren diversifikasi dan preferensi pangan masyarakat, perubahan harga, dan areal lahan garapan yang tersedia.
Tanaman sayuran lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari sayuran pada khususnya dan bahan pangan pada umumnya. Prospek bisnis dan budidaya sayuran lokal sangat terbuka lebar dan menjanjikan yang ditunjang dengan semakin meningkatnya permintaan pasar, baik pasar domestik maupun luar negeri melalui ekspor. Segmen konsumen sayuran lokal juga jelas. Hampir setiap individu pasti mengonsumsi sayur untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Selain individu, pelaku usaha yang bergerak di bidang makanan juga membutuhkan stok sayuran segar setiap hari, ditambah lagi para pedagang sayur yang ada di pasar atau supermarket. Kondisi ini menunjukkan bahwa segmen yang bisa digarap dengan usaha sayuran, termasuk sayuran lokal, sangat beragam dengan permintaan yang cenderung terus meningkat.

Konsumsi sayuran terus meningkat setiap tahun. Mekipun demikian, tingkat konsumsi sayuran di Indonesia masih jauh di bawah standar konsumsi sayuran yang direkomendasikan FAO. Bahkan, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga, seperti Singapura, Cina, Kamboja, dan Vietnam. Tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia saat ini sekitar 36–40 kg/kapita/tahun, sedangkan tingkat konsumsi sayuran yang direkomendasikan Organisasi Badan Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization, FAO) sebesar 73 kg/kapita/tahun. Kesenjangan ini merupakan peluang bisnis budidaya sayuran, termasuk sayuran lokal, untuk mendorong dan menghela peningkatan produksi, produktivitas dan kualitas produk guna meningkatkan hidup sehat bergizi dengan kecukupan pangan, vitamin, mineral, serat dan antioksidan. Selain itu, prospek bisnis dan budidaya sayuran lokal semakin cerah bila didukung dengan upaya pengembangan keanekaragaman (diversifikasi) produk yang berbahan baku sayuran lokal.

Sayuran lokal telah ada yang diko­mersialkan, di antaranya adalah katuk, kucai dan kecombrang. Namun, ketersediaan sayuran tersebut di pasaran juga sangat terbatas. Bunga kecombrang (Nicolaia speciosa Horan) telah umum digunakan sebagai bahan bumbu makanan nusantara, dengan berbagai nama. Kecombrang selain memiliki fungsi antioksidan juga menunjukkan potensi penggunaannya sebagai antimikroba atau pengawet makanan alami. Bunga kecombrang dinobatkan sebagai “Si Cantik Yang Awet Alami” (The Beautiful Natural Preservatives) dalam buku 104 Indonesia Innovations 2012. Inovatornya terdiri atas Dr. Rifda Naufalin, SP. M.Si.; Prof. Dr. Ir. Herastuti; Sri Rukmini, M.S.; Dr. Ir. Tri Yanto, M.T., dan Dra. Erminawati, M.Sc., Ph.D. dari Pusat Penelitian Pangan, Gizi dan Kesehatan LPPM Universitas Jenderal Soedirman.
Contoh lain adalah tanaman kelor (Moringa oleifera Lam) yang dinobatkan dengan tema “Kusuka Kerupuk Kelorku” (I Love My Moringa Crackers). Daun kelor dapat dijadikan sumber protein nabati karena 100 gram daun kelor mengandung protein setara dengan sebutir telur. Tepung daun kelor tinggi protein berpotensi untuk dijadikan bahan substitusi tepung singkong dalam pembuatan kerupuk, yaitu kerupuk substitusi daun kelor sebagai pangan fungsional untuk mencegah kurang energi protein (KEP). Inovatornya terdiri atas Ai Kustianti, Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi, Rahayu Kania Rukmana, Ratia Yulizawaty, Novi Luthfiana Putri, dan Prof. Dr. drh. Clara M. Kusharto, M.Sc. dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Aneka jenis sayuran lokal lain masih menanti inovasi untuk menjadi komoditas bernilai tinggi dan mempunyai prospek yang baik.

Pepatah bijak mengatakan bahwa “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam satu belanga.” Inovasi teknologi bisa menjodohkan aneka jenis sayuran lokal yang kurang mendapat perhatian ke budidaya intensif di lahan sempit dan pekarangan sebagai sumber berkah. Buku ini menyajikan sayuran lokal yang meliputi beluntas, ginseng jawa, katuk, kelor, dan mangkokan, kecipir, labu siam, oyong, paria belut, roay, kecombrang, kucai, temu kunci, turi, dan okra.

Dikutip dari buku Budidaya Sayuran Lokal karya Dr. Rahmat Rukmana dan Herdi Yudirachman, M.T., Penerbit Nuansa 2016

budidaya sayuran lokal 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *