Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Realisme Hukum

Realisme Hukum

Oleh Jerome Frank

Kita telah banyak membicarakan tentang hukum. Namun apakah “hukum” itu? Definisi lengkap hukum mustahil dilakukan dan bahkan definisi fungsi akan menghabiskan ke­sabaran pembaca. Namun mungkin tidak salah untuk menanyakan, dalam pengertian kasar, apa arti hukum bagi rata-rata orang di masa sekarang ketika dia berkonsultasi dengan pengacaranya.

Keluarga Jones memiliki Blue & Gray Taxi Company, sebuah perusahaan yang beroperasi di Kentucky. Perusahaan itu membuat kontrak dengan A. & B. Railroad Company, juga sebuah perusahaan di Kentucky, yang menyetujui bahwa Blue & Gray Taxi Company akan memiliki hak istimewa eksklusif untuk mendapatkan bisnis taksi di dan berdekatan dengan stasiun perusahaan kereta api tersebut.

Sebuah perusahaan taksi saingan, yang dimiliki oleh keluarga Williams, Purple Taxi Company, mulai mengabaikan kontrak ini; dia membuka bisnis dan memarkir taksinya di tempat-tempat yang disediakan oleh perusahaan kereta api pada Blue & Gray Company dan menghilangkan keuntungan Blue & Gray Company yang dirundingkannya dengan persetujuan dengan perusahaan kereta api.

Keluarga Jones menjadi marah; keuntungan mereka yang didapatkan dari saham Blue & Gray, yang mereka miliki, ter­ancam. Mereka berkonsultasi pada pengacara mereka, seorang praktisi Louiseville, dan ini, dapat kita duga, adalah apa yang dia katakan pada mereka: “Saya kira kontrak Anda tidak sah secara hukum. Saya sudah memeriksa beberapa keputusan pengadilan tertinggi di Kentucky dan mereka dengan jelas mengindikasikan bahwa Anda tidak bisa bebas memiliki perjanjian semacam itu di negara bagian ini. Pengadilan Kentucky menganggap kontrak semacam itu sama buruknya seperti monopoli yang tidak sah. Namun saya akan memikirkan lagi masalah ini. Anda kembali lagi saja besok dan sementara itu saya akan mencoba mencari jalan keluar.”

Jadi, keesokan harinya, keluarga Jones kembali. Dan kali ini pengacara mereka berkata bahwa dia telah menemukan cara untuk mempertahankan kontrak tersebut: “Begini, caranya begini. Di kebanyakan pengadilan, kecuali yang ada di Kentucky dan beberapa negara bagian lain, kesepakatan semacam ini sangatlah bagus. Namun, sayangnya, karena aturan yang ada sekarang, Anda harus pergi ke pengadilan Kentucky.

“Jika kita berhasil membuat kasus kita diproses di pengadilan Federal, ada kesempatan yang bagus kita mendapatkan hasil yang berbeda, karena saya pikir pengadilan Federal akan mengikuti mayoritas aturan yang ada dan bukan aturan di Kentucky. Saya tidak yakin dengan itu, tapi ini layak dicoba.

“Jadi inilah yang akan kita lakukan. Kita akan membuat Blue & Gray Company baru di Tennessee. Dan Blue & Gray Company Anda di Kentucky akan mentransfer semua asetnya ke Blue & Gray Company yang ada di Tennessee. Kemudian kita akan meminta perusahaan kereta api untuk mengeksekusi kontrak baru ­dengan Blue & Grey Company Tennessee yang baru, dan pada saat yang sama membatalkan kontrak yang lama, dan segera setelah itu membubarkan Blue & Gray Company yang lama yang berlokasi di Kentucky.”

“Tetapi,” salah satu keluarga Jones menyela, “apa kebaikan yang bisa dihasilkan dari tipu-tipu itu?”

Sang pengacara tersenyum lebar. “Hanya ini,” jawabnya de­ngan kebanggaan akan kepandaiannya. “A. & B. Railroad Company dijalankan di Kentucky. Begitu juga Purple Taxi yang ingin kita kalahkan. Pengadilan Federal akan memperlakukan perusahaan-perusahaan ini seolah-olah mereka adalah warga Kentucky. Sedangkan sebuah perusahaan yang merupakan warga Kentucky tidak bisa membawa tuntutan semacam ini ke pengadilan Federal melawan perusahaan lain yang juga merupakan warga Kentucky. Namun, jika perusahaan Anda menjadi perusahaan Tennessee, itu akan dianggap seolah-olah perusahaan itu adalah warga Tennessee. Kemudian perusahaan baru Anda di Tennessee dapat menuntut dua perusahaan lainnya di pengadilan Federal, karena tuntutan akan dipegang antarwarga dari negara bagian yang berbeda. Dan tuntutan semacam itu, berdasarkan pada apa yang kami sebut sebagai ‘perbedaan kewarganegaraan’, dapat dibawa ke pengadilan Federal oleh perusahaan yang dijalankan di Tennessee melawan perusahaan yang merupakan warga negara bagian lain, Kentucky. Dan pengadilan Federal, seperti yang saya katakan, harus meneruskan kontrak Anda.”

“Kedengarannya itu sangat licik,” kata salah satu keluarga Jones memuji. “Apakah Anda yakin ini akan berhasil?”

“Tidak,” jawab pengacaranya. “Anda tidak bisa sepenuhnya yakin terhadap rencana semacam itu. Saya tidak bisa menemukan satu kasus pun yang mendukung cara kita dengan semua fakta ini. Tetapi saya puas karena itulah hukum dan itulah cara pengadilan Federal harus memutuskan. Saya tidak menjamin kesuksesan. Namun saya merekomendasikan untuk mencoba usulan saya.”

Nasihat pengacara itu tadi diikuti. Tidak lama setelah Blue & Gray Company Tennessee dibentuk dan memasukkan kontrak baru, tuntutan dimasukkan oleh Blue & Gray Corporation Tennessee baru milik keluarga Jones di Pengadilan Distrik Federal melawan Purple Company dan perusahaan kereta api. Dalam perkara ini, Blue & Gray Taxi Company Tennessee meminta pengadilan untuk mencegah campur tangan penyelesaian kontrak kereta api­nya.

Seperti yang diharapkan pengacara Jones, pengadilan Federal berpendapat, melawan protes dari pengacara Purple Company, pertama, tuntutan semacam itu bisa dimasukkan di pengadilan Federal, dan, kedua, kontraknya sahih. Sesuai dengan itu pengadilan melarang Purple Company untuk turut campur dengan bisnis stasiun Blue & Gray Company milik keluarga Jones. Keluarga Jones menjadi sangat gembira, karena sekarang keuntungan mereka tampaknya lebih terjamin.

Tetapi tidak untuk waktu lama. Pihak yang satunya meminta banding kasus tersebut di Federal Circuit Court of Appeals. Dan pengacara keluarga Jones bagaimanapun merasa cemas bahwa pe­ngadilan mungkin mundur ke pengadilan Federal yang lebih rendah. Namun ternyata tidak dan keluarga Jones lagi-lagi merasa bahagia.[1]

Purple Company masih bertahan. Perusahaan itu membawa kasusnya ke Mahkamah Agung Amerika Serikat. Pengadilan tersebut terdiri dari sembilan hakim. Dan pengacara keluarga Jones tidak dapat memastikan bagaimana hakim-hakim itu akan bereaksi terhadap semua permasalahan yang dilibatkan. “Beberapa orang baru akan berperan di situ, dan Anda tidak akan pernah bisa tahu tentang Holmes dan Brandeis. Mereka sangat aneh,” adalah komentarnya.

Ketika Mahkamah Agung Amerika Serikat memberikan ke­putusan­nya, dia menemukan bahwa enam dari sembilan hakim setuju dengan keluarga Jones. Tiga hakim (Holmes, Brandeis dan Stone) memiliki opini yang berlawanan. Namun suara mayoritas menentukan di Mahkamah Agung Amerika Serikat, dan kekayaan ke­luarga Jones akhirnya berhasil mendapat dukungan kuat.

Sekarang apakah arti “hukum” bagi keluarga Jones, yang memiliki Blue & Gray Company, dan keluarga Williams, yang memiliki Purple Company? Jawabannya tergantung pada tanggal pertanyaan tersebut. Jika ditanyakan sebelum perusahaan baru Tennessee tercantum dalam kontrak, mungkin bisa dikatakan hampir pasti “hukum” yang akan membuat keluarga Jones kalah; karena tuntutan apa pun yang melibatkan kesahihan kontrak dapat dibawa hanya ke pengadilan negeri Kentucky dan keputusan awal pengadilan tersebut tampaknya bertentangan dengan perjanjian semacam itu.

Setelah saran dari pengacara keluarga Jones dijalankan dan perusahaan baru Tennessee memiliki kontraknya, “hukum” menjadi lebih meragukan. Banyak pengacara akan setuju dengan pengacara keluarga Jones bahwa ada kesempatan bagus bahwa keluarga Jones dapat menang jika tuntutannya dibawa ke pengadilan Federal. Namun mungkin sejumlah pengacara lainnya dalam jumlah yang seimbang akan menolaknya: mereka akan berkata bahwa pembentukan perusahaan baru di Tennessee adalah sebuah muslihat yang digunakan untuk keluar dari pengadilan Kentucky dan masuk ke pengadilan Federal, sebuah tipu muslihat yang tidak akan disetujui oleh pengadilan Federal. Atau bahwa, apa pun permasalahannya, pengadilan Federal akan mengikuti aturan Kentucky yang sudah jelas mengenai ketidaksahihan kontrak semacam itu sebagai pembuatan monopoli yang tidak sah (khususnya karena penggunaan real estate Kentucky dilibatkan) dan oleh karena itu pengadilan Federal akan memutuskan menentang keluarga Jones.[2] “Hukum”, setiap kali sebelum keluarnya keputusan dari Mahkamah Agung Amerika Serikat, sesungguhnya belum pasti.1 Tidak ada yang tahu apa yang akan diputuskan pengadilan. Apakah akan mengikuti kasus Kentucky? Jika demikian, hukum tidak memiliki “hak” yang diberikan oleh kontrak. Membicarakan hukum yang pasti yang mengatur perselisihan tersebut, atau hak hukum tetap pihak-pihak tadi, yang mendahului keputusan Mahkamah Agung, akan terlalu bertele-tele. Jika dua hakim lagi di meja majelis sudah menyetujui Justice Holmes, Brandeis, dan Stone, hukum dan hak dari pihak-pihak yang terlibat akan bertolak belakang.

Setelah keputusan itu, “hukum” telah ditetapkan. Tidak ada pengadilan lain di mana banding dapat diarahkan. Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tidak bisa diganggu gugat dan “hak” hukum keluarga Jones dan keluarga Williams telah diputuskan untuk selamanya.

Kita sekarang dapat mengajukan definisi kasar hukum dari sudut pandang orang kebanyakan: Untuk manusia awam mana pun, hukum, dalam kaitan dengan fakta-fakta tertentu, adalah keputusan dari sebuah pengadilan dalam kaitan dengan fakta-fakta tersebut sejauh keputusan memengaruhi orang itu. Sampai suatu pengadilan menyerahkan fakta-fakta itu tidak ada hukum dalam subyek tersebut. Sebelum adanya keputusan itu, hukum yang ada adalah opini dari pengacara mengenai undang-undang yang berhubungan dengan orang itu dan fakta-fakta itu. Opini semacam itu sebenarnya bukan hukum tetapi hanya sebuah prediksi tentang apa yang akan diputuskan suatu pengadilan.2

Maka, hukum pada situasi apa pun baik itu (a) hukum aktual, misalnya keputusan spesifik pada masa lampau, terkait dengan situasi tersebut,3 atau (b) hukum yang mungkin, misalnya sebuah prediksi mengenai keputusan tertentu di masa depan.

Biasanya ketika seorang klien berkonsultasi pada pengacaranya tentang “hukum”, tujuannya adalah untuk memastikan bukan apa yang sebenarnya telah diputuskan oleh pengadilan di masa lampau melainkan apa yang mungkin akan diputuskan pengadilan di masa depan. Dia bertanya, “Apakah saya memiliki hak, sebagai pemegang saham American Taffy Company di Indiana, untuk melihat pembukuan perusahaan?” Atau, “Apakah saya harus membayar pajak warisan kepada Negara Bagian New York terkait obligasi yang ditinggalkan untuk saya dari istri saya yang sudah meninggal, jika tempat tinggal kami berada di Ohio, tetapi obligasinya, pada saat kematiannya, ada dalam kotak penyimpanan di New York?” Atau, “Adakah hak untuk penjagaan ‘damai’ dalam pemogokan di Negara Bagian California?” Atau, “Jika Jones menjual bisnis sepatunya di Chicago kepada saya dan setuju untuk tidak bersaing selama sepuluh tahun, apakah perjanjian itu mengikat?” Jawabannya (meski­pun mungkin menyebutkan “Hak semacam itu ada”, “Hukumnya adalah bahwa properti tidak kena pajak”, “Penjagaan semacam itu tidak sah”, “Perjanjian itu tidak mengikat secara hukum”) sebenarnya adalah ramalan atau prediksi tindakan yudisial.4 Dari sudut pandang inilah praktik hukum telah benar-benar diistilahkan sebagai seni prediksi.[3]

Keputusan-keputusan aktual yang spesifik di masa lalu, dan prediksi tentang keputusan-keputusan aktual yang spesifik di masa depan. Begitukah biasanya para pengacara mendefinisikan hukum? Sama sekali tidak.[]

Catatan:

  1. Yaitu, belum jelas apakah keluarga Williams memiliki energi, kesabaran, dan uang untuk mengajukan banding. Jika tidak maka keputusan pengadilan Federal yang lebih rendah merupakan hukum aktual bagi keluarga Jones dan Williams.
  2. Mahkamah Agung Amerika Serikat secara main-main disebut “Mahkamah Rekaan Agung”.
  3. Yaitu, keputusan di masa lampau dalam suatu kasus yang muncul antara orang-orang tertentu tersebut menyangkut kenyataan spesifik tertentu. Bahkan suatu keputusan di masa lampau dapat menetapkan hak pihak-pihak dalam perkara hanya sampai taraf terbatas. Dengan kata lain, apa yang sebenarnya telah ditetapkan pengadilan di antara pihak-pihak itu mungkin sebagian masih terbuka untuk dipertanyakan oleh pengadilan lain dan dengan demikian bisa terus menjadi subyek dugaan.
  4. Penekanan dalam buku ini pada tindakan hakim memang palsu. Pengacara dan klien mereka sangat perhatian pada cara-cara yang diambil oleh semua pejabat pemerintah dan pada reaksi orang-orang non-pejabat tentang cara-cara para hakim dan para pejabat lainnya. Ada kebutuhan mendesak untuk melatih pengacara agar mengenal dan memelajari semua fenomena ini secara jelas dan tanpa malu-malu sebagai bagian dari bisnis sah para pengacara.
    Tetapi mari kita bahas satu per satu. Lantaran sebagian besar porsi waktu seorang pengacara sekarang dicurahkan untuk meramalkan atau menghasilkan keputusan para hakim, hukum yang dipertimbangkan dalam buku ini adalah “hukum pengadilan”. “Hukum aktual” dan “hukum kemungkinan” yang dibahas di sini berarti “hukum pengadilan yang aktual atau memungkinkan.” Pembatasan ini, meskipun dibuat-buat, mungkin lebih dapat dimaklumi karena secara kasar terkait dengan dugaan orang awam zaman sekarang ketika berkonsultasi pada pengacaranya.
    Tentu saja, siapa pun dapat mendefinisikan “hukum” sesukanya. Kata “hukum” itu bermakna ganda dan mungkin akan bagus jika kita bisa menghilangkannya. Namun sebelum sebuah kata pengganti ditemukan, tampaknya bukannya tak wajar untuk menggunakannya pada apa yang dianggap paling penting dalam pekerjaan pengacara yang berpraktik. Buku ini terutama menyangkut “hukum” yang memengaruhi pekerjaan pengacara praktik dan kebutuhan klien yang menyewannya.
    Dari sudut pandang tersebut, hukum pengadilan secara kasar bisa didefinisikan sebagai keputusan yudisial tertentu pada masa lampau atau masa depan yang dijalankan atau dipatuhi.

Baca lebih lanjut buku Hukum dan Pemikiran Modern karya Jerome Frank (Penerbit Nuansa, 2013)

hukum dan pemikiran modern 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *