Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

SEDIH YANG MEMBAWA BERKAH

SEDIH YANG MEMBAWA BERKAH

Oleh: Irwan Kurniawan

Hidup ini tidak satu warna. Dalam kehidupan ini, berbagai keadaan bisa terjadi pada kita, ada kalanya satu keadaan dan keadaan lain saling bertolak belakang. Di satu waktu kita senang, dan di waktu lain, kita susah; kadang gembira dan kadang bersedih, kadang bersuka cita dan kadang berduka. Semua itu hanya kita rasakan di dalam hati dan batin kita, yang kadang terekspresikan dalam penampilan dan perilaku. Namun ada juga yang mampu menyembunyikan dan menutupinya.

Keadaan itu pun tidak diukur dari tampilan fisik materi. Tidak semua orang yang bergelimang harta dan hidup dalam keme­wah­an hatinya gembira dan bahagia. Sebaliknya, tidak semua orang yang hidupnya pas-pasan hatinya berduka dan sengsara. Kata orang bijak, tidak ada korelasi antara kekayaan dan kemewahan dengan kebahagiaan.

Pastilah setiap orang pernah mengalami kesedihan dalam suatu momen dalam hidupnya. Penyebabnya ada yang diketahui pasti dan ada juga yang tidak diketahui. Kalau kita cermati, kesedihan yang menimpa manusia ada tiga kategorinya.

Pertama, kesedihan yang terpuji. Nabi Saw adalah orang yang paling banyak bersedih. Al-Quran menyatakan, Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (QS Thaha: 1-2). Beliau menanggung kesedihan yang amat besar. Namun kesedihan beliau adalah kesedihan yang terpuji; beliau bersedih karena memikirkan keselamatan umatnya. Karena itu, ketika kaumnya menyakitinya, beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu.”

Ketika seorang mukmin merasa bahwa dirinya kurang dalam beribadah, merasa perbuatannya selama ini tidak berarti, atau bertekad untuk menjauhi kemaksiatan tapi ternyata jatuh juga ke dalam kemaksiatan, lalu ia bersedih karenanya, maka itu adalah kesedihan yang terpuji. Kesedihan ini akan membawanya ke tingkatan takwa yang lebih tinggi. Karena itu, untuk kesedihan seperti ini mestinya seorang mukmin berdoa, “Ya Tuhanku, tambahlah kesedihan bagiku.”

Kesedihan ini ibarat alarm, yang menyadarkan seorang mukmin untuk bergiat lagi dalam beribadah kepada Allah dan lebih bertekad dalam menjauhi kemaksiatan.

Kedua, kesedihan yang tidak terpuji. Ini adalah kesedihan dari setan. Misalnya, seseorang hidupnya berkecukupan serta sehat lahir dan batinnya, namun merasa cemas dan gelisah. Ia merasakan cemas akan masa depannya. Ia takut kehilangan jabatannya, takut kehilangan hartanya, dan seterusnya. Dan memang, sejak menciptakan Adam as hingga hari ini, Allah tidak pernah memberikan jaminan kepada siapa pun bahwa sepanjang umurnya ia akan hidup dalam keadaan seperti yang diinginkannya.

Ini adalah kesedihan yang sumbernya adalah duniawi dan ketamakan terhadapnya. Karena itu, ini adalah kesedihan yang tidak yang terpuji.

Ketiga, kesedihan yang tidak diketahui sebabnya dan sering muncul tiba-tiba. Kesedihan seperti ini tidak diketahui kategorinya, apakah terpuji atau tidak: bukan karena kemaksiatan, bukan karena kelalaian, bukan karena merasa jauh dari Allah, bukan pula karena keduniaan. Lalu bagaimana mengatasinya?

Seseorang harus menelisik batinnya, dan mencari tahu apa sebenarnya penyebab munculnya kesedihan ini. Ia akan menemukan bahwa salah satu penyebab kesedihan itu adalah tindakannya yang membuat orang lain bersedih. Jika anda merasakan sedih dalam hati, carilah penyebabnya dalam hati orang-orang yang ada di sekitar anda. Barangkali anda sudah menyebabkan seseorang merasa sedih dan terganggu, sehingga Allah Swt menyegerakan hukuman untuk anda di dunia ini dengan memunculkan kesedihan dalam hati anda, untuk meringankan siksaan anda di akhirat.

Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya, “Mah, bapak/papa mau menikah lagi…” Ia mengatakannya sambil bergurau, dan tindakan itu juga tidak dikategorikan perbuatan dosa besar. Tapi percayalah, si istri akan bersedih mendengarnya. Dan mungkin saja si suami itu suatu saat nanti akan merasakan kesedihan dalam hatinya, yang tidak dia sadari penyebabnya, sebagai peringatan dari Allah atas tindakannya.

Dikisahkan bahwa ada seorang pekerja yang bekerja pada seorang majikan yang keras hati. Maka pada suatu hari, orang itu terlihat sedang duduk bersama seekor anjing. Ia sedang memegang makanan. Lalu sambil makan, ia juga membagi makanannya kepada binatang itu. Ketika ditanya apa alasan dia melakukan perbuatan ini, dia menjawab, “Mudah-mudahan dengan saya memberikan kebahagiaan kepada binatang ini, akan muncul kelembutan dalam hati majikanku, sehingga saya akan terbebas dari perangai buruknya.”

Jika memberikan kebahagiaan kepada binatang saja—padahal binatang itu najis—bisa menyebabkan datangnya kebahagiaan kepada seorang mukmin, maka apalagi memberikan kebahagiaan kepada orang yang beriman kepada Allah. Wallâhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *