Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Sejarah dan Evolusi Fiqih

Sejarah dan Evolusi Fiqih

Oleh Abu Ameenah Bilal Philips

Maksud keseluruhan dari buku ini adalah memper­kenalkan kepada pembaca akan faktor-faktor historis di balik pembentukan hukum Islam (fiqh). Tujuannya, agar pembaca bisa memahami lebih baik mengenai bagaimana dan mengapa muncul beragam mazhab dalam hukum Islam. Pemahaman ini pada gilirannya diharapkan bisa memberikan suatu dasar dalam mengatasi problem-problem perbedaan dan sekat-sekat picik yang terjadi ketika para pengikut mazhab yang berbeda-beda, atau orang-orang yang tidak mengikuti mazhab apa pun, mencoba bekerja bersama. Dus, tujuan lainnya dari buku ini ada­lah untuk menjelaskan suatu kerangka teoretis guna menyatu­kan kembali mazhab-mazhab dan menemukan dasar ideo­logis bagi komunitas Islam agar terbebaskan dari efek-efek yang memecah-belah dengan munculnya faksionalisme mazhab.

Kebutuhan mendesak buku ini dapat dengan mudah dilihat dengan adanya dilema dari para muslim muallaf. Jikalau mereka dididik dengan hukum-hukum dasar Islam, seorang muallaf secara bertahap akan diperlihatkan dengan suatu sosok hukum yang didasarkan pada salah satu dari empat mazhab. Pada saat yang sama dia mungkin  diberi informasi bahwa masih ada tiga mazhab yang lain, dan seluruh mazhab yang empat tersebut bersifat ilahiah dan sempurna. Pada tahap demikian tidak ada persoalan bagi muallaf Muslim, karena dia hanya mengikuti hukum-hukum sebagaimana yang diajarkan oleh gurunya, yang tentu saja mengikuti satu mazhab tertentu. Namun, ketika muallaf mulai menjalin hubungan dengan umat Islam lain­nya di berbagai belahan dunia Islam, dia pasti mulai me­nyadari tentang adanya perbedaan-perbedaan tertentu yang berkaitan dengan beberapa hukum Islam yang di­ajarkan oleh masing-masing mazhab. Pengajarnya, yang merupakan seorang muslim sejak lahir, tidak ragu meya­kinkannya  bahwa keempat mazhab tersebut adalah benar, dan selama dia mengikuti salah satu dari keempat mazhab tersebut berarti dia sudah berada di jalan yang benar. Namun, bagaimanapun juga, beberapa perbedaan yang terdapat dalam masing-masing mazhab itu cukup mem­bingungkan bagi seorang muallaf. Sebagai contoh, pan­dangan umum menyatakan bahwa seseorang kehilangan wudlunya sementara yang lain menyatakan sebaliknya. Ada mazhab yang menjelaskan bahwa tindakan-tindakan tertentu bisa membatalkan wudlu, sementara bagi mazhab lainnya tindakan-tindakan tersebut tidak membatalkan wudlu. Bagaimana suatu tindakan tertentu bisa dianggap haram dan halal sekaligus? Kontradiksi ini juga bisa me­nimbulkan persoalan bagi kaum Muslim, baik tua maupun muda, yang memiliki keprihatinan tentang adanya stag­nasi dan kemunduran di dunia Islam dan yang men­du­kung kebangkitan kembali Islam dalam bentuknya yang asli.

Berhadapan dengan beberapa kontradiksi yang tak terelakkan, ada sebagian umat Islam yang memilih meno­lak mazhab dan aturan-aturannya, seraya menyata­kan bahwa mereka hanya bersedia mengikuti al-Quran dan sunnah. Sementara sebagian yang lain beranggapan bahwa meskipun mengalami berbagai kontradiksi, namun perbedaan pandangan tersebut bersifat ilahiah dan kare­nanya orang hanya perlu memilih dan mengikuti salah satu di antaranya tanpa perlu lagi mempertanyakannya. Tentu saja, kedua sikap di atas tidak kita harapkan. Sikap ini hanya akan mengekalkan sektarianisme, yang telah memporak-porandakan derajat kaum Muslim di masa lalu dan berlanjut hingga sekarang. Sikap pertama yang menolak mazhab secara keseluruhan, dan kemudian fiqh yang berasal dari generasi para pendahulu, mendorong pada sikap ekstrim dan menyimpang ketika semua yang bersandar pada Quran dan sunnah berusaha menerapkan hukum syariah dalam situasi-situasi yang baru yang tidak dikemukakan baik dalam Quran maupun sunnah. Jelas kiranya, kedua sikap tersebut merupakan ancaman serius bagi solidaritas dan kemurnian Islam. Sebagaimana ucap­an Nabi SAW, “Generasi yang terbaik adalah genera­siku, kemudian generasi sesudahnya dan seterusnya.” Apabila kita menerima ungkapan bijak dari Nabi SAW tersebut, berarti mempercayai bahwasanya semakin kita jauh dari Nabi SAW, akan semakin kurang mampu me­nafsirkan dan menerapkan hukum-hukum yang dike­hen­daki dalam Quran dan sunnah secara tepat. Dengan demi­kian, satu hal jelas, bahwasanya ketetapan-ketetapan hukum dari para ulama terdahulu lebih mungkin mere­presentasikan tujuan-tujuan yang benar sebagaimana dimaksudkan dalam Quran dan sunnah. Ketetapan-ketetapan hukum yang lama tersebut —yakni dasar-dasar fiqh— karenanya merupakan mata rantai dan petunjuk yang penting yang tidak bisa secara gegabah kita abaikan dalam kajian kita dan dalam mengaplikasikan hukum-hukum Allah SWT. Sikap yang demikian didasarkan atas alasan bahwasanya pengetahuan kita dan penerapannya yang benar atas hu­kum-hukumnya tergantung pada pengetahuan yang me­madai mengenai perkembangan fiqh sepanjang zaman. Demikian juga, studi perkem­bangan ini secara otomatis mencakup studi tentang evolusi mazhab-mazhab dan sum­bangan-sumbangan pentingnya terhadap fiqh, juga alas­an-alasan atas berbagai kon­tradiksi dalam beberapa atur­annya.

Diharapkan, dengan latar belakang pengetahuan seperti ini, seorang pemikir Muslim, baik dia muallaf atau­pun penganut Islam sejak lahir, perlu memahami sumber-sum­ber yang saling bertentangan dan kemudian men­du­duk­kannya dalam perspektif baru yang sesuai. diharap­kan, mereka bersedia ikut bergabung dengan barisan yang hendak bekerja secara aktif demi mengukuhkan kembali persatuan (tauhid), bukan hanya sebagai pendorong uta­ma iman kita kepada Allah, tapi juga dalam kaitannya dengan mazhab-mazhab dan penerapan hukum-hukum yang mendasari dan membentuk cara hidup yang dikenal sebagai Islam.

Materi dasar buku ini diambil dari catatan kuliah dan makalah-makalah penelitian saya untuk program sarjana tentang Sejarah Pensyariatan Hukum Islam (Tarikh Tashri’) yang diampu oleh Dr. ‘Assal di Universitas Riyadh. Bahan-bahan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, selanjutnya dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan mengajar untuk kelas pendidikan Islam yang saya lakukan di sekolah Manaret Riyadh tahun 1980-1981. Diktat ini dipublikasikan di musim semi tahun 1982 oleh As-Suq Bookstore, Brooklyn, New York, dengan judul Lessons in Fiqh. Karya yang ada di hadapan pembaca ini merupakan revisi dan perluasan dari edisi Lessons in Fiqh tersebut.

Saya mengucapkan banyak terima kasih buat saudara perempuan saya, Jamilah Jones, yang dengan penuh ke­sabaran telah mengetik dan membaca ulang manuskrip­nya, juga ayah saya, Bradley Earle Philips, atas dorongan­nya, dan yang dengan penuh kecermatan telah bersedia mengedit teksnya.

Diharapkan, buku tentang sejarah fiqh ini bisa mem­bantu para pembaca menempatkan mazhab-mazhab dalam perspektif yang semestinya dan membantu meng­apresiasi adanya kebutuhan yang mendesak untuk mela­kukan reunifikasi mazhab.

Akhirnya, saya berdoa semoga Allah Yang Maha Tinggi berkenan menerima usaha kecil ini dalam rangka klarifikasi agama yang diridhai-Nya, yaitu Islam.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Sejarah dan Evolusi Fiqih: Aliran-aliran Pemikiran Hukum Islam  karya Abu Ameenah Bilal Philips (Penerbit Marja, 2015)

sejarah&evolusi fiqh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *