Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Sekolah Masa Depan

Sekolah Masa Depan

Oleh Anna Farida, Suhud Rois, Edi S. Ahmad

Bagaimana kalau ada sekolah yang cirinya kebalikan dari keluh­an di atas? Sebuah sekolah yang selalu didatangi anak-anak dengan antusias. Sekolah yang masih saja meriah dengan canda riang murid-muridnya walau jam sekolah telah usai. Sekolah yang membuat orangtua betah berbincang tentang pendidikan dengan para guru dan orangtua lain. Sekolah yang selalu dirindukan siapa pun yang pernah ada di dalamnya, sehingga alumni sering datang dan bernostalgia dengan asyiknya belajar di sekolah itu.

Apakah sekolah seperti itu hanya mimpi atau dongeng? Ter­nyata tidak. Ada sekolah yang benar-benar menyenangkan, dan ini bukan mimpi. Konsep sekolah ini berangkat dari pertanyaan sederhana: benarkah anak-anak harus dipaksa supaya belajar?

Belajar tidak perlu dipaksakan. Peran guru adalah memberikan stimulasi yang membuat anak tertarik dan mau belajar. Guru merancang kegiatan yang membuat anak bergairah dan ketagihan belajar.

Tentu definisi belajar yang menjadi pijakan juga berbeda. Belajar adalah aktivitas pengembangan diri, bukan sekadar menguasai hafalan atau mengerjakan latihan. Belajar tidak identik dengan membaca atau menulis. Belajar itu sangat luas ruang lingkup dan caranya. Tujuan besarnya bukan mendapatkan nilai yang baik, tapi menguasai sejumlah keterampilan (lifeskill) yang diperoleh dari proses belajar. Konsentrasinya bukan pada hasil, tapi pada prosesnya.

Lifeskill inilah yang menjadi bekal anak menjalani kehidupannya kelak. Sejumlah materi pelajaran wajib di sekolah dasar, misal­nya, kadang tidak terpakai ketika anak menekuni profesinya di kemudian hari. Karenanya, visi sekolah harus menjangkau jauh ke depan. Mengedepankan keunggulan akademis semata adalah tujuan yang perlu dipertanyakan. Apalagi dengan cara-cara yang kontraproduktif dengan tujuan pendidikan, yaitu membangun manusia yang utuh. Model sekolah yang menyenangkan dengan pendekatan yang ramah anak (juga ramah orangtua) dan kontekstual merupakan model sekolah masa depan.

Masyarakat kian menyadari bahwa ada yang jauh lebih penting daripada nilai rapor yang bagus. Kualitas pendidikan ternyata tidak bisa dilihat semata-mata melalui angka ujian. Apalagi jika kita mencoba menelisik, dari mana nilai ujian tersebut berasal.

Orangtua kian kritis, dan mulai menuntut output pendidikan yang bukan melulu rapor. Hasil yang diharapkan adalah kemampuan anak memecahkan masalah, kemampuan berdaptasi, dan ke­terampilan hidup apa yang dikuasainya.

Pendidikan untuk anak seharusnya didesain agar bisa me­mengaruhi pola pikir, pola tindakan, cara pemecahan masalah, dan perfomance mereka. Untuk memungkinkan proses pembelajaran semacam itu terjadi, sekolah mesti menciptakan atmosfer yang membuat setiap anak “hidup”, merasa diterima, nyaman, dan bebas mengekspresikan dirinya. Mereka bisa belajar dalam arti yang sesungguhnya, menjadi manusia yang kaya ilmu lahir batin, dalam suasana ceria penuh makna. Singkatnya, sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka.

Buku ini adalah rekam jejak pengalaman dan cita-cita se­buah sekolah yang sangat ingin diingat sebagai sekolah yang menyenangkan. Sekolah yang mencoba menjalin sinergi dengan pendidikan keluarga dan masyarakat. Sekolah yang menjadikan Fun and Discovery Learning sebagai titian.

Learning Society

Sekolah yang menyenangkan memandang orangtua (dan ma­syarakat) sebagai sumber dan mitra belajar. Pendampingan orang­tua terhadap anak adalah kemestian―karena pendidikan anak merupakan tanggungjawab orangtua, sedangkan sekolah dan masyarakat adalah mitra. Tiga komponen ini harus bersinergi dalam membimbing anak menjadi pribadi yang utuh, dan menjadikan belajar sebagai tradisi yang menantang―dan karenanya menyenangkan.

Kolaborasi antara sekolah-orangtua-masyarakat membuat o­rang­tua paham kurikulum, kegiatan sekolah, dan bisa mem­berikan saran dan masukan aktif. Lebih dari itu, orangtua dan masyarakat diharapkan berperan sebagai pengendali (social control) penyelenggaraan sekolah. Bahkan orangtua juga bisa dilibatkan dalam pembelajaran sebagai outsoucer sesuai dengan kompetensinya. Kita akan bahas peran orangtua di sekolah yang menyenangkan di bagian keempat buku ini.

Asyiknya Petualangan Belajar

Di sekolah yang menyenangkan, belajar benar-benar sebuah petualangan. Menjelajah medan yang sebelumnya tidak dikenal, mencoba hal-hal baru, serta menikmati prosesnya. Antusias saat memulainya, mempertahankan semangat dalam perjalanan, dan cepat bangun saat jatuh ke lubang. Merasakan pahitnya kegagalan tanpa meratap dan berputus asa, mengecap manisnya keberhasilan, dan merayakan apa pun wujud kesuksesannya.

Sebuah petualangan menyiratkan upaya membimbing, agar anak mencoba, merasakan, dan  akhirnya tahu—bukan hanya kata guru dan buku. Sebuah petulangan dengan kegembiraan di dalamnya, siapa tak mau.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Sekolah yang Menyenangkan: Metode Kreatif Mengajar dan Pengembangan Karakter Siswa  karya Anna Farida, Suhud Rois, Edi S. Ahmad (Penerbit Nuansa, Cetekan IV 2015)

Sekolah yang Menyenangkan 2014 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *