Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Pentingnya Khalwat dan Uzlah

Pentingnya Khalwat dan Uzlah

Oleh Dr. Asep Achmad Hidayat

“Uzlah itu lebih baik jika zaman sudah kacau balau, atau takut fitnah dunia sebagai ujian keimanan.” (Adzkiya’)

“Khalwat (menyendiri) adalah sifat orang-orang suci dan ‘uzlah (mengasingkan diri) adalah lambang orang yang bertauhid.” (Risal al-Qusyairi)

•••

Secara harfiyah uzlah berarti “mengasingkan diri dari keramaian”. Sedangkan khalwat berarti “menyendiri”. Jadi kata uzlah dan khlawat pada dasarnya memiliki hubungan arti yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Secara lebih luas makna istilah ini adalah mengandung arti sebagai upaya menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan sibuk beribadah kepada Allah Swt. Atau bisa diartikan sebagai aktivitas menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan, dan segala hal yang tidak bermanfaat yang berlebihan.

Aktivitas uzlah dan khalwat itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw di Gua Hira. Bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sebaik-baik kehidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali) kuda di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap di atas punggung kuda dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar lembah, yang senantiasa mengerjakan shalat, memberi zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki oleh orang lain kecuali tetap dalam kebaikan.” (Hr Muslim dan Ibnu Majah).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ada keharusan bagi seorang hamba Allah untuk melakukan uzlah agar dapat beribadah kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, membaca ayat-ayat-Nya, melakukan muhasabah terhadap dirinya, berdoa kepada-Nya, meminta ampunan-Nya, menjauhi tindakan-tindakan yang jelek, dan sejenisnya.”

Uzlah itu sendiri banyak macam caranya, di antaranya ada yang samasekali tidak membutuhkan bantuan orang lain. Yang demikian itu benar-benar menyendiri, tidak bercampur dengan orang lain kecuali ketika melakukan shalat Jumat, shalat berjamaah, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha, ibadah haji atau ketika menuntut ilmu atau kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam kehidupan yang sifatnya sangat primer. Jika tidak karena kewajiban-kewajiban di atas, mereka tidak akan pernah bercampur dengan banyak orang.

Jika sesorang hendak beruzlah tetapi kehadiran dirinya sangat diperlukan orang banyak untuk mengajari agama, menjelaskan yang hak dari yang batil, menolak bidah, dan mengajak pada jalan kebaikan, maka ia tidak boleh melakukan uzlah ke tempat jauh. Maka, sebaiknya khalwat dan uzlah dilakukan di rumah saja (di dalam kamar yang sepi).

Justru yang lebih baik baginya adalah berada di tengah-tengah masyarakat untuk menegakkan agama, memberi nasihat-nasihat keagamaan. Nabi bersabada, “Apabila bidah merajalela, sedangkan orang-orang alim tetap berpangku tangan, maka bagi si alim adalah laknat Allah Swt.” Dalam kondisi seperti ini orang yang mengerti agama hendaklah dia bergaul dengan masyarakat luas, di mana pergaulan membutuhkan kesabaran, keuletan, sikap yang lemah lembut, meskipunn dalam hatinya ia tetap merasa menyendiri, yang jika diajak bicara ia jawab seperlunya, jika dikunjungi ia menghormat sepantasnya.
Uzlah dalam hati memang lebih sulit, sebab secara fisik ia tetap bergaul dengan orang banyak dan harus memperhatikan sikap umatnya. Jika mereka berpaling darinya, atau sebaliknya mereka simpati, maka ia harus tetap tegar. Jika umat mencerca, memaki, dan mengasingkan dirinya, maka ia harus bersabar, ia harus menganggap cercaan dan pujian sama, ia harus tetap ramah kepada siapa pun, baik yang menyakiti dirinya maupun yang memujinya.

Abulqashim Abd al-Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi dalam Ar-Risalah menyatakan bahwa untuk dapat berkhlawat dengan tepat, seseorang muslim mesti mempunyai pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, supaya setan tidak menggoda dengan bisikan-bisikannya. Di juga harus mempunyai pengetahuan yang diperoleh dari syariah tentang kewajibannya, supaya segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh. Karena sesungguhnya uzlah dan khalwat itu adalah menjauhi sifat-sifat yang tidak terpuji dan bertujuan mengubah sifat-sifat tersebut, bukan untuk menciptakan jarak yang sejauh-jauhnya dari sesuatu tempat. Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan, “Siapakah orang yang makrifat itu?” Jawabnya, “Orang yang selalu ada tetapi jauh, yakni selalu bersama dengan orang lain, tetapi hatinya jauh dari mereka.” Artinya, bersama dengan sesama manusia secara lahiriah, dan berada jauh dari mereka secara batiniah karena hatinya terus berzikir kepada Allah Swt. Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Pakailah bersama sesama manusia apa yang mereka pakai, dan makanlah apa yang mereka makan, tetapi berpisahlah dari mereka secara batiniyah.”

Menurut Sahal, khalwat tidak dapat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan barang haram dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Swt. Dzun Nun al-Mishri mengatakan, “Saya tidak menemukan satu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain uzlah.”

Menurut Al-Junaid, susahnya uzlah lebih mudah diatasi daripada kesenangan berada bersama orang lain. Menurut Makhul asy-Syami, jika hidup bermasyarakat memperoleh kebaikan, uzlah pun memberikan keselamatan. Sedangkan menurut Yahya bin Mu’azd, menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran.

Jika karakteristik uzlah dan khalwat seperti yang telah diuraikan dipraktikkan, maka akan membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan. Dalam uzlah dan khalwat ada perenungan, muhasabah, penghayatan, tafakur dan tadabur akan kebesaran Allah Swt. Buah hikmahnya adalah hati akan menjadi tenang, pikiran akan menjadi jernih, batin akan menjadi tenteram dan jiwa akan menjadi sehat.

Wahai Saudaraku, karena uzlah dan khalwat itu sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan jiwa kita, maka sempatkanlah dari hari-hari yang Anda miliki untuk melakukan uzlah dan khalwat. Dan berhentilah dari kebiasaan membangun villa yang mewah untuk mencari ketenangan sesaat dengan menghambur-hamburkan uang bersama teman banyak.

Dikatakan bahwa sendiri dalam uzlah adalah sangat kondusif bagi ketenangan jiwa. Yahya ibn Mu’adz menyatakan, “Keheningan adalah sahabat orang jujur.” Sedangkan Al-Junayd mengatakan, “Barangsiapa menginginkan agamanya sehat, raga serta jiwanya tenteram, lebih baik dia memisahkan diri dari orang banyak.”

Pada saat seseorang melakukan uzlah dan khalwat hatinya berada dalam kebahagiaan, ruh dan nuraninya berada dalam kegembiraan. Ahmad ibnu Khalil al-Hambali berkata, “Siapa menginginkan kemuliaan dan ketenangan dari kesedihan panjang melelahkan, ia harus menyendiri dan rela dengan yang sedikit.”

Ibnu al-Mubarak pernah ditanya, “Apakah obat hati yang sakit?” Dia menjawab, “Berjumpa dengan sesama manusia sejarang mungkin.” Dikatakan, “Apabila Allah hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya. Malik ibnu Mas’ud berkata, “Aku tidak menganggap bahwa seseorang yang bersama Tuhan itu kesepian.”

Seorang yang beruzlah dan berkhalwat harus bisa menyimpan ambisi, riya, amarah dan keinginan di dalam hatinya. Ia harus menganggap ibadahlah yang harus dinomorsatukan, tak ada yang lain yang harus didahulukan selain ibadah yang ikhlas. Sebab, ketika seseorang melakukan uzlah dengan benar, ia akan dapat menyelami makna-makna, menangkap butiran-butiran nilai, merenungkan tujuan hidup, dan membangun menara ide serta pemikiran yang jernih. Dari sini akan didapatkan “gagasan” yang cemerlang buah hasil perenungannya. Misalnya, Al-Ghazali. Ia telah melakukan uzlah dan khalwat selama 11 tahun, dua tahun di antaranya di atas menara Masjid Agung Damaskus. Selama itu Al-Ghazali telah menghasilkan tulisan yang sangat banyak mengenai berbagai tema ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Ihya’ Ulum ad-Din, sebuah kitab yang sampai hari ini masih tetap dijadikan salah satu rujukan ilmu tasawuf.

Ahmad ibn Abdu Aziz al-Jurjani telah melukiskan mengenai kenikmatan yang dialami oleh batinnya ketika ia melakukan uzlah. Ia melantunkan bait syair:

Tak pernah kunikmati manisnya hidup hingga
teman dudukku rumah dan buku.
Tak ada yang lebih mulia daripada ilmu
karenanya aku mencarinya untuk teman akrab.

Para sufi yang lainnya membacakan barisan-barisan bait syair berikut:

Buku-buku di sekitarku
tidak meninggalkan tempat tidurku,
Karena di dalamnya terdapat obat
bagi sakit yang kusembunyikan.

Jika kita perhatikan kisah-kisah orang besar, sebagian besar dari mereka menyirami “tanaman” kemuliaan mereka dengan “air uzlah dan khalwat” sampai mereka bisa tegak berdiri. Selanjutnya, tumbuhlah pohon kemuliaan mereka dan menghasilkan buahnya yang bisa dipetik setiap saat dengan izin Tuhan-Nya. Ibn al-Jauzi dalam Sha’id al-Khathir berkata, “Saya tidak melihat dan mendengar manfaat yang lebih besar daripada uzlah. Karena uzlah adalah sebuah ketenangan, sebuah keagungan, sebuah kemuliaan, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dari keburukan dan kejahatan, sebuah kiat untuk menjaga kehormatan dan waktu, sebuah cara untuk menjaga usia, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang mendengki, sebuah perenungan tentang akhirat, sebuah persiapan untuk bertemu Allah, sebuah pemusatan jiwa raga untuk melakukan ketaatan, sebuah pemberdayaan nalar terhadap hal-hal yang bermanfaat.”

Imam Sayyid Bakri al-Maki bersyair:

Uzlah itu lebih baik jika zaman sudah kacau,
atau takut fitnah, sebagai ujian keimanan.
Dalam pergaulan ada maksiat, seperti riya, mengupat,
dan sebagainya terdapat di sana
Batasi pergaulanmu, kecuali untuk menuntut ilmu,
berbuat sesuatu yang berfaedah
Jangan bergaul dengan Ahli Bithalah,
yaitu orang yang menyepelekan agama,
karena itu adalah malapetaka besar bagimu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullanh menjelaskan tentang saat uzlah, yaitu apabila kamu melihat banyak orang yang mengingkari janji dan tidak dapat dipercaya dalam menyampaikan amanat, mereka juga teramat bakhil. Abdullah bin Umar berkata, “Pada saat seperti itu apa yang harus kami lakukan, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Dalam kondisi seperti itu hendaknya kamu tinggal di rumah, jangan banyak bicara, kerjakan apa yang kamu tahu, tinggalkan apa yang kamu tidak mengetahuinya, kerjakan perintah yang sifatnya khusus, dan tinggalkan perintah yang sifatnya umum.” Rasulullah Saw juga menjelaskan bahwa pada zaman itu banyak orang tidak saling percaya satu sama lain, banyak para pendakwah (mubaligh) namun sedikit para ulama, banyak para pengemis namun sedikit orang kaya. Para sahabat bertanya, “Kapan itu terjadi, ya Rasulullah?” Beliau berkata, “Hal itu akan terjadi jika shalat sudah diabaikan, agama sudah diperjualbelikan dengan kemewahan dunia, suap-menyuap sudah merajalela, pada saat itu tak akan ada keselamatan.”

Menurut Abdullah ibnu Umar, “Dalam uzlah ada ketenangan jiwa dari mencampuri orang-orang jahat.” Imam an-Nawawi berkata, “Demi Allah, sudah sepantasnyalah kita uzlah saat ini.” Al-Ghazali berkata, “Jika pada zaman Imam Nawawi saja sudah pantas melakukan uzlah, apalagi pada zaman kita sekarang ini, tentunya lebih wajib lagi!” Sebagian ulama sufi berkata:

Uzlah lebih baik di zaman sekarang ini,
Karena tak ada keramaian yang luput dari maksiat,
perhatikan di sekitarmu dengan akal sehatmu.

Jika pada zaman Al-Ghazali sudah pantas untuk melakukan uzlah, bagaimana pada saat sekarang? Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha telah memberitahukan kepada kita dengan ungkapan amenangi jaman edan (mengalami zaman gila). Dalam keadaan demikian, manusia sering dibuat bingung, ikut bertindak gila sebenarnya tidak sampai hati karena ditentang nurani, tetapi kalau tidak ikut mengincar keuntungan, tidak bisa menjadi serba kekurangan, malah kelaparan. Namun demikian, Serat Kalatidha mengatakan, berkat Tuhan, betapa besarnya kemungkinan yang dipetik mereka yang bermain gila, yang lupa daratan, akhirnya akan lebih bahagia mereka yang sadar dan wasapada.

Mengenai keadaan zaman tersebut, buku Jaka Lodhang mengomentari bahwa pada zaman itu “alim-alim pulasan, njaba putih, njero kuning.” Artinya, alim yang hanya selaput belaka, di luar putih, di dalamnya kuning. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Kelak akan datang suatu periode (zaman), di mana pekerjaan mencarai nafkah sangat sulit didapat kecuali dengan jalan maksiat.” Al-Junayd melukiskan zamannya, “Sesungguhnya zaman ini adalah zaman yang penuh dengan ketakutan, dan orang yang bijak adalah dia yang memilih kesendirian.” Bagaimana zaman sekarang?

Wahai saudaraku, jika Anda sudah menyadari, bahwa siapa saja yang mencintai uzlah, maka itu adalah kemulian dan karunia dari Rabb-Nya. Karena itu, sudah waktunya Anda menyempatkan diri untuk melakukan uzlah (menyendiri) dan khalwat (mengasingkan diri) dari pergaulan yang tiada gunanya. Namun, jika Anda memiliki kemampuan, sempatkan pula waktu Anda untuk mengajak orang pada hal-hal yang bermanfaat dan berfaidah, karena zaman ini zaman penuh kekacauan. Mari simak nasihat Lukman al-Hakim berikut ini, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs Lukmân: 17).[]

Baca lebih lanjut buku Mata Air Bening Ketenangan Jiwa: Pintu Masuk Ketenteraman dan Kemuliaan Hidup karya Dr. Asep Achmad Hidayat (Penerbit Marja, Cet. IV, 2015)

MATA air bening 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *