Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Senang Membaca

Senang Membaca

Oleh Anna Farida

Minat dan keterampilan baca adalah hal yang sangat penting bagi remaja. Bukan hanya untuk pencapaian akademisnya, tapi juga untuk hidupnya secara keseluruhan. Remaja yang terampil dan gemar membaca biasanya mudah memahami sesuatu, mampu mengkaji informasi dengan cepat dan kritis. Di era teknologi informasi yang serba­digital, mereka tetap memerlukan keterampilan membaca teks secara efektif, baik di buku maupun di layar.

Memang, kebiasaan membaca keluarga sangat dominan dalam menjadikan seorang anak menjadi senang membaca. Pengaruh televisi, komputer, dan aneka gadget kian tidak terbendung. Sedikit banyak budaya digital mengambil sebagian waktu anak-anak untuk berinteraksi dengan buku bacaan. Karenanya, guru dan sekolah mempunyai peran besar. Tidak ada kata terlambat untuk membangun minat baca seseorang.

Sebagai langkah awal, guru dan sekolah bisa merancang program yang membuat murid membaca. Sebagian remaja masih memandang bahwa membaca sebagai pekerjaan membosankan. Mereka belum mengerti bahwa membaca adalah aktivitas produktif yang akan membawa mereka ke banyak hal baru dan seru. Jika pemberian tugas ini dilakukan dengan manajemen kelas yang tepat, murid tidak akan terpaksa. Lambat laun, membaca akan menjadi kebutuhan dan mereka akan membaca karena ingin tahu tentang sesuatu—bukan karena tugas dari guru.

Untuk membangun minat baca murid, hal yang paling mendasar adalah membuka wawasan mereka bahwa banyak buku yang bisa menarik minat mereka. Tak banyak remaja yang paham bahwa di luar buku pelajaran, mereka bisa mendapatkan buku dengan berbagai genre dan gaya penulisan. Guru yang memiliki kebiasaan baca akan menularkan wawasannya kepada murid. Dia akan menjadi guru yang keren di mata murid, dan mereka akan tertarik untuk membangun minat baca.

Langkah awal tersebut sebagian besar bisa bergerak dengan peran serta perpustakaan dan pustakawan yang bertugas. Dengan sesama guru juga perlu dilakukan kerjasama yang terstruktur. Dalam rapat rutin antarguru, disarankan setiap guru menyerahkan daftar bacaan yang akan dijadikan referensi, dan apakah mereka sedang memberikan tugas studi literatur kepada murid. Hal ini perlu dilakukan agar tugas membaca tidak tumpang tindih antarguru. Pemberian tugas membaca bisa dikoordinasikan satu buku dalam seminggu, bergantian untuk masing-masing guru. Bertumpuknya tugas membaca, apalagi untuk murid yang masih membangun minat baca akan kotraproduktif.

Hal lain yang perlu dicatat adalah memberikan bimbingan yang jelas untuk murid yang belum terbiasa membaca. Awalnya, kita bisa memberikan judul tertentu untuk mereka baca. Minta katalog perpustakaan untuk melihat ketersediaan buku. Pembaca pemula tidak akan meluangkan waktu untuk membeli sendiri buku di toko buku. Awali dengan buku-buku yang sudah tersedia dan tinggal digunakan. Berikutnya, setelah beberapa kali memperoleh tugas membaca dengan bahan yang ditentukan, kita bisa mulai menuntun mereka memilih bacaan yang bagus.

Dengan karakteristiknya yang cenderung ingin bersama teman dan ingin diterima oleh lingkungan sebayanya, remaja akan memilih bacaan yang dibaca oleh teman-temannya. Untuk mengetahui buku apa yang sedang mereka baca, kita bisa meminta data ke perpustakaan. Kita juga bisa meminta mereka mengisi lembar daftar buku yang sedang dibaca. Dari sini kita bisa temukan tren tema apa yang sedang berkembang, dan bisa menjadikannya sebagai topik diskusi buku yang seru.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Pilar-pilar Pembangunan Karakter Remaja: Metode Pembelajaran Aplikatif untuk Guru Sekolah Menengah karya Anna Farida (Penerbit Nuansa, 2014)

Pilar-Pilar Anna Farida 755

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *