Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

SENI BERGAUL DALAM ISLAM

SENI BERGAUL DALAM ISLAM

Oleh: Irwan Kurniawan

Islam adalah agama yang indah. Dan tugas setiap Muslim adalah menyebarkan keindahan ini. Antara lain, Islam menawarkan sebuah seni pergaulan agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan antarmanusia; bagaimana suami bergaul dengan istri dan istri dengan suami; bagaimana seseorang bergaul dengan pemimpin dan atasan: di kantor, pabrik, sekolah, perguruan tinggi…

Karena itu, ada istilah “seni bergaul” yang mengajarkan kepada siapa pun untuk bergaul dengan orang lain. Contoh terbaik dalam hal ini adalah shalat Jumat. Orang-orang yang datang ke masjid untuk shalat Jumat berlaku baik satu sama lainnya: saling memberi salam, bersalaman, memberi tempat, dst. Masing-masing tidak merasa dirinya lebih baik dari yang lain meski mungkin jabatannya lebih tinggi, hartanya lebih banyak, kedudukannya lebih terhormat, dst.

Di sisi lain, ada orang yang memperlakukan dirinya dengan baik, dan hubungan dengan Tuhannya juga baik, namun hubungannya dengan orang-orang sekitar atau masyarakat bermasalah.

Dalam urusan ibadah, ia selalu terdepan, sehingga seolah-olah dirinya makin dekat dengan Allah dan sudah memegang tiket ke surga, tapi ia tidak memperhatikan hubungannya dengan keluarganya, kerabatnya, kedua orangtuanya. Ia berkata, “Selama aku bisa khusyuk dalam shalatku, apa urusannya dengan orang lain.”

Ini merupakan keyakinan yang keliru, bahkan penyimpangan yang besar. Selama seseorang berada di jalan yang salah, maka setan akan membuatnya lebih khusyuk dan terus mendorongnya berjalan di jalan itu. Ja’far Shadiq berkata, “Orang yang beramal tanpa mata-hati adalah seperti orang yang berjalan di jalan yang salah, sehingga cepatnya berjalan hanya membuatnya makin jauh dari tujuan.”

Seorang mukmin hendaklah terbang dengan dua sayap: satu sayap untuk mendekat kepada Allah dengan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, dan sayap lainnya untuk bergaul baik dengan sesama manusia.

Nabi saw, ibadahnya tidak kita ragukan. Tapi beliau juga orang yang paling santun kepada keluarganya. Istri-istri beliau berasal dari keluarga biasa, bukan bangsawan, tapi beliau memperlakukan mereka dengan sangat baik. Hingga beliau bersabda, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluargaku.”

Ada kaidah dalam pergaulan dengan istri atau suami, dengan anak-anak, dan dengan kerabat, yaitu memandang semua makhluk sebagai keluarga Allah. Seorang mukmin tidak memandang istrinya sebagai tawanan, dan tidak memandang anak-anaknya sebagai budak. Tetapi ia memandang mereka sebagai amanah dari Allah.

Ada sebagian orang yang berpikir dengan logika yang salah, yaitu hanya dengan akad nikah maka istri dianggap sebagai budaknya yang diperlakukan secara semena-mena. Kadang, ada juga suami yang mau mempertahankan rumahtangganya semata-mata karena kehadiran anak (anak-anak).[]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *