Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Serat Cabolek dalam Konteks Kekinian: Menemukan Titik Hubung Antara K.H. Ahmad Mutamakin dan K.H. Abdurrahman Wahid

Serat Cabolek dalam Konteks Kekinian: Menemukan Titik Hubung Antara K.H. Ahmad Mutamakin dan K.H. Abdurrahman Wahid

Oleh Enoch Mahmoed dan Mahpudi

Presiden K.H. Abdurrahman Wahid adalah tokoh kon­troversial, sekontroversial caranya dipilih melalui  Majelis Permusyawaratan Rakyat waktu itu (tahun 1999). Kon­troversi seputar Gus Dur, demikian presiden keempat Republik Indonesia akrab disebut, bukan saja karena fisiknya yang dianggap kurang mampu melihat dengan baik tapi juga lontaran-lontaran pemikirinnya atau sikapnya yang sering “nyeleneh” dan “melawan arus” jauh sebelum ia masuk dalam kancah politik dewasa ini.

Sebut saja pernyatannya beberapa tahun silam tentang usulan agar kata assalamu‘alaikum diganti dengan “selamat pagi, selamat sore, atau selamat ma­lam”. Caranya menyebut inisial dalam provokator berbagai kerusuhan di Tasikmalaya, Banyuwangi, dan kota-kota lainnya, penentangan terhadap pen­dirian ICMI, membentuk Forum Demokrasi (Fordem), serangannya terhadap kaum “Islam Eks­trem,” serta pan­dangannya tentang hubungan dan kerjasama (Indonesia) dengan Israel.

Perilaku Gus Dur semakin sukar ditebak pada era reformasi. Ketika ia de­ngan lantang menyatakan dukungannya atas pencalonan Megawati sebagai ca­lon presiden, mengun­jungi mantan presiden Soeharto di saat semua orang men­jauhinya, atau kepeloporannya mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang ber­orientasi kebangsaan padahal partai ini menjadikan kyai dan pesantren sebagai basis untuk meraih dukungan.

Gus Dur adalah fenomena. Dan tak banyak yang me­mahami mengapa Kyai nyentrik ini bertingkah laku demikian. Para pengikutnya me­nye­but ia keturunan wali atau setingkat dengan wali, sementara orang-orang yang tak menyukainya menuduh Gus Dur plin plan dan asal bunyi. Sementara yang lain mempermaklumkan apa yang dikatakan atau dilakukan­nya dengan menyata­kan bahwa Gus Dur sebenarnya tengah melakuakan hal yang jauh melebihi dari apa yang kita capai atau bayangkan.

Sebagai sebuah fenomena, tampaknya Gus Dur tak bisa dipahami cukup dengan mencari jawaban apa yang dilakukan, tapi harus dicari jawaban dari mengapa ia mengemukakan atau melakukan hal-hal yang terkadang controversial. Dan beberapa hari terakhir ini fenomena Gus Dur mulai terkuak. Salah satunya adalah pengakuan Gus Dur setelah beberapa hari terpilih sebagai Presiden, Gus Dur berziarah ke Desa Kajen, Margoyoso, Pati tepatnya ke makam keluarga dan para leluhurnya. Dalam sebuah kesempatan ziarah itu ia mengatakan de­mi­kian: “Saya datang ke sini bukan sebagai presiden, tetapi sebagai keturuan dari Mbah Mutamakin, dan ini bukan untuk syukuran, tetapi untuk slametan, karena kita selamat bisa melaksanakan perjuangan Mbah Mutamakin. Beliau melawan sistem yang salah. Beliau menegakkan keadilan demi kepentingan rakyat dan mudah-mudahan ini bisa terwujud tidak lama lagi.” (Kompas, 24/10/99).

Pernyataan itu menyiratkan sebuah sinyalemen apa yang melatar­belakangi kiprah Gus Dur selama ini, sekaligus menyingkap siapa yang menginspirasi ucapan dan langkah Presiden kita ini. Pertanyaannya: Siapa sih Mbah Mutama­kin yang dijadikan sandaran legitimasi perjuangan Gus Dur itu? Jawaban atas pertanyaan ini akhrinya dapat penulis temukan dalam sebuah naskah Jawa Klasik yakni Serat Cabolek. Kitab ini dengan sangat gamblang meng­hadirkan sosok Mbah Mutamakin alias Haji Ahmad Mutama­kin alias Ki Cabolek sebagai tokoh kontroversial yang hidup pada masa Sunan Amangkurat IV (1719-1726M) dan puteranya Paku Buwana II (1726-1749M). Tu­lis­an ini tak ber­maksud untuk melakukan komparasi atas perilaku Gus Dur dengan perilaku Ki Cabolek ini, tapi sekedar menyajikan keberadaan Ki Cabolek sebagai tokoh yang meng­inspirasi perjuangan Gus Dur. Agar kita dapat melihat fenomena Gus Dur tidak lagi sebagai fenomena “apa” melainkan sebagai fenomena “mengapa”.

Serat Cabolek, Pemikiran Islam Periode Pertama di Jawa

Serat Cabolek (Cebolek) sebagaimana diteliti oleh S. Soebardi (1967) ditulis oleh seorang pujangga keraton Surakarta abad ke-18 yang sangat produktif, Raden Ngabehi Yasadipura I. Serat ini melukiskan ketegangan dalam kehidupan keagamaan orang-orang Jawa yang timbul adanya kontak dengan ajaran agama Islam. Inti dari ketegangan ini ialah pertentangan antara ulama pembela syariat dengan mereka yang menolak ajaran Islam legalistik serta tetap memegang ajaran mistik Jawa. Konflik tersebut menjadi tema yang akrab dalam cerita-cerita Jawa, seperti cerita Syaikh Siti Jenar, Sunan Panggung, Syaikh Among Raga, dalam Serat Centini.

Serat Cabolek ditulis dalam bentuk macapat yang terdiri atas 11 pupuh dan menggunakan gaya bahasa Jawa Baru. Serat ini tergolong karya Yasadipura I yang paling memikat, karena pengenalannya yang mendalam atas tata cara dan adat kebiasaan Jawa serta sangat berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya. Demikian pula dialog dan cara tokoh me­nyampaikan gagasan dan pendapat begitu jernih mengalir. Men­­­cer­­mati kandungan pemikiran yang terdapat di dalam­nya, S. Soe­bardi memasukkan Serat Cabolek sebagai salah satu karya besar dalam tradisi pemikiran Islam Nusantara periode pertama yaitu periode pemikiran yang berkembang sebelum adanya sentuhan dengan paham-paham pembaharuan dari Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Muhammad Iqbal, dan sebagainya.

Serat Caboleh sendiri terdapat dalam berbagai versi manuskrip, meskipun demikian keseluruhan versi tersebut umumnya berisi cerita tentang Haji Ahmad Mutamakin, cerita Dewa Ruci, dan  Malang Sumirang. Salah satu versi ini ditafsirkan secara lebih meluas oleh Kuntowijoyo dalam menjelaskan hubungan antara perlawanan kaum agama terhadap penguasa. Dalam Serat Cabolek ini setting utamanya adalah perdebatan yang seru antara Ketib Anom dari Kudus dengan Haji Mutamakin dihadapkan para ulama dan penguasa Keraton Kar­tasura. Dalam perdebatan itu, Mutamakin mengalami kekalahan secara telak. Namun, tidak seperti generasi pendahuluannya—seperti Syaikh Siti Jenar yang mati dihukum pancung, Sunan Panggung dibakar api, Ki Bebeluk maupun Syaikh Among Raga yang dihukum mati—Mutamakin tidak dihukum  karena Raja Pakubuwana II memaafkannya.

Mutamakin dan Ideologi “Persatuan” Dewa Ruci

Haji Ahmad Mutamakin tinggal di Desa Cabolek, Tuban, sebuah wilayah pesisir Jawa Timur. Ia mengajarkan ilmu hakikat kepada orang-orang. Ia mengabaikan syariat. Tingkah lakunya menimbulkan aib kepa­da orang Islam di seluruh Tuban. Kebanyakan orang mengang­gapnya sebagai musuh bukan saja karena ia dianggap melangggar ajaran Nabi teta­pi karena dia pun dipandang tidak setia kepada raja.

“Ajarannya tentang ilmu mistik yang sesat/karena (ia menyebut dirinya) sama dengan kekuasan kemauan Tuhan/yang menjadi perselisihan/ dengan kukuh, keras dan kasar/ ia menguraikan keyakinannya tanpa bisa dihentikan/ yang berakibat adanya tuduh-menuduh/ dan ini menjadi sungguh-sungguh dan luar biasa/ pesisir timur (Jawa) ada dalam kekacauan/ dan daerah Tuban Haji Ahmad Mutamakin/ menjadi musuh orang banyak.” Tapi haji Mutamakin/ tak tergoyahkan, mantap (dan) berani/ ia tidak lari dari bahaya/ tapi berani menghadapi hukuman/ banyak yang mencoba mencegah (dia). (tapi) ia tidak mundur/ dan banyak ulama datang/ memberinya nasihat./ malah ia tetap terus menternakkan anjing/ dari Kudus sebanyak duabelas, yang terbesar/ diberi nama Abdul-Kahar. Ia mempunyai empat anak anjing/ pemimpinnya dinamai Kamarul-Din …” (Cabolek, Pupuh I, 6-9). Asal tahu Abdul Kahar dan Kamarudin diambil oleh Mutamakin dari nama penghulu dan ketib Tuban.

Apa yang diajarkan dan dilakukan Mutamakin ini mendorong para ulama pesisir memutuskan untuk malaporkannya kepada Raja Kartasura yang kala itu adalah Sunan Amangkurat IV. Sayangnya, ketika para ulama berangkat manuju ibukota kerajaan sang Raja wafat. Karenanya penyelidikan kasus Mutamakin ditangguhkan sampai pengangkatan raja berikutnya, Paku Buwana II. Penyelidikan dilakukan oleh seorang Bupati Jero bernama Raden Demang Urawan. Maka Ahmad Mutamakin pun dipanggil meng­hadap. Dalam perjalanan ini, seperti dilaporkan Demang Urawan kepada Sang Raja, Ahmad Mutamakin membacakan kitab laporan Dewa Ruci yang berisi kiprah tentang Dewa Ruci. Mendengar laporan Demang Urawan  ini Raja me­mutus­kan untuk mengampuni Ahmad Mutamakin dan me­nyatakan ketidaksenangannya terhadap usaha para ulama untuk mengadili Mutamakin.

Namun demikian, tampil Ketib Anom dari Kudus mem­pertahankan keyakinan para ulama. Menurutnya bukan maksud para ulama untuk mengganggu raja, namun sebalik­nya dengan melaporkan peristiwa di Tuban itu para ulama berniat melindungi dan membela raja dan hal itu merupakan kewajiban mereka. Ketib Anom berpendapat bahwa apa yang dilakukan Mutamakin tidaklah pada tempatnya, dan kalau pengaruh kegiatan ini makin luas, maka akan merupakan tantangan terhadap kewibawaan raja.

Ketib Anom adalah prototype tokoh yang menekankan pen­tingnya penerapan syariat dalam kegiatan beragama, perlunya menegakkan hukum Nabi, dan karenanya digambarkan sebagai sosok ulama yang berperangai ksatria. Sementara itu, Mutamakin adalah prototype tokoh yang mengabaikan syariat dan lebih menekankan hakikat. Ajaran­nya lebih dikenal dengan nama Tekad (asal dari kata i‘tiqad?) yang berintikan menyatunya hamba dengan Tuhannya (ma­nung­galing Kawula lan Gusti).

Sarat Cabolek menggambarkan Mutamakin sebagai berikut: “Sang Praba berkata lagi: Tentang si Haji Mutamakin/rupanya seperti apa?/Raden Demang berkata hormat: “Ia seperti Wisangkata, seorang calon pertapa/( dan kelakuannya seperti trenggiling lagi sekarat./Tak ada yang perlu dikatakan tentang penampilannya/sangat dungu./seperti kepala dandang/ia nglumpruk kalau duduk/dalam satu pertemuan (ia seperti)/layaknya orang kena kutuk./tapi dia itu mantap/(satu sifat) yang hamba tidak sangka,/juga di antara kelompoknya/ia itu tanpa guna./(hamba) merasa heran atas kemauan Sang Sukma Agung/(orang ) seperti itu dapat menjadi haji./Ia telah dianugerahi memenuhi rukun (yang kelima)/dan diberi kesempatan mengunjungi makam Nabi,/Nabi terbesar di jagad ini./Kalau ia tidak pergi naik haji,/ia pantas menjadi penjual jerami/atau berdagang itik.”(Cabolek, Pupuh IV, 29-32).

Meskipun demikian, ternyata Sang Raja memberikan pan­dangan lain, ”telah menjadi suratan, ia diciptakan dengan tampang dungu/ tapi diberi hati yang suci/ untuk menjadi petugas sukma/ (ia telah) ditakdirkan memiliki hati suci.” (Cabolek, Pupuh IV, 33) dan atas alasan inilah, sang Raja meng­am­puni Mutamakin yang tentu saja menimbulkan kegeraman para ulama, khususnya Ketib Anom dari Kudus yang menyampaikan ketidaksetujuan atas keputusan raja.

Akhirnya digelar suatu perdebatan antara Haji Ahmad Muta­makin dengan Ketib Anom. Perdebatan dilakukan seputar pengakuan Muta­makin tentang ajaran yang dianutnya. Menurut penuturan Mu­tama­kin, ajaran mistiknya diperoleh dari gurunya yang berasal dari Yaman yang bernama Syaikh Zain, yang intinya sama dengan yang dibacanya dalam kitab Bhima Suci yakni ajaran Dewa Ruci. Ketib Anom pun mendebatnya dengan menantang Mutamakin membaca kembali kitab Bhima Suci dan menafsirkan maknanya. Mutamakin tak mampu memenuhi tantangan ini, sedangkan Ketib Anom dengan piawai menjelaskan isi ajaran Dewa Ruci tersebut.

Pada bagian inilah, Ketib Anom menasihati Mutamakin, “Kesalahanmu, Mutamakin ialah/kau telah dituntun setan/yang men­janjikanmu ilmu gaib/(ilmu) yang sehalus setan sendiri/sungguh anakku/engkau tidak membaca banyak kitab agama/karena itulah dengan mudah engkau telah disihir iblis/dan berperilaku begitu rendah. Sampai memberi nama anak anjingmu Kamaruldin/dan anjingmu diberi nama Abdulkahhar/orang Besar dari Arab, anakku/ adalah sumber ilmu agama/karena itu beritahukan larangan-larangan Nabi/menjadi kewajiban unutk memelihara/kesempurnaan ajaran agama/hanya hukum Muhammad saja/ yang menjadi sumber semua ilmu/jangan ada seorang pun yang menyangkal.” Pada akhir nasehatnya Ketib Anom berkata: “Anakku, ilmu mistikmu baik/tapi karena tidak memiliki wadah yang patut/tak dapat dielakkan menjadi sumber gangguan.” (Cabolek, Pupuh VIII, 7-8). Ketib Anom menasihati Mutamakin agar pergi kembali ke Arab untuk belajar pada gurunya lebih serius lagi, dan lebih banyak membaca kitab-kitab agar dapat berdebat lagi dengan Ketib Anom.

Meskipun Mutamakin gagal memaparkan penafsirannya tentang ajaran Dewa Ruci yang terdapat dalam kitab Bhima Suci, namun sepintas dapat disingkap bahwa ajaran inilah yang diidealkan olehnya. Serat Cabolek sendiri dengan tajam berhasil memaparkan prinsip ajaran Dewa Ru­ci yang disampaikan melalui perkataan Ketib Anom, yakni tentang prinsip-prinsip kesempurnaan hidup. Lebih jauh Ketib Anom men­­je­­las­­kan inter-relasi pula antara inti ajaran ini dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Bagian kitab Bhima Suci yang mendapat penekanan dalam Serat Cabolek adalah episode ketika Werkudara dinasihati Dewa Ruci tentang cara mencari kesempurnaan hidup. Nasihat ini menegaskan perlunya “persatuan” sebagai suatu tujuan hidup manusia. Dalam kisah itu diperlihatkan jalan menuju persatuan ini dalam bentuk perlambang-per­lambang seperti simbolisasi cahaya, Golek Gading, dan warna-warna. Hal yang dimaksud terakhir adalah pengenalan terhadap perlambang kejahatan yang harus ditolak manusia melalui simbolisasi warna-warna merah, hitam, dan kuning. ”Mengenai tiga sifat hati ini/ mereka mencegah perbuatan baik,/(namun) siapa yang membebaskan dirinya sendiri dari itu/pasti akan memperoleh Persatuan dengan yang Maha Gaib.” (Cabolek, Pupuh VIII, 22).

Sayangnya, langkah Mutamakin yang sembrono dan kurang ilmu pengetahuan dalam mendalami ideologi Dewa Ruci ini, menyebabkan dirinya tersesat dan berperilaku membingungkan.

Benang Merah Mutamakin dan Gus Dur

Apa yang dapat ditarik kesimpulan dari kisah dalan Serat Cabolek dengan pangakuan Gus Dur sebagai keturunan Mutamakin dan komitmennya dalam memperjuangkan ide-ide Mutamakin? Agak ber­­beda dengan Kuntowijoyo yang mengaitkan Serat Cabolek dengan Pem­­bangkangan Islam yang memperlihatkan bahwa perlakuan Mutamakin adalah bentuk ketegangan vertikal berupa penentangan Islam terhadap penguasa, S. Soebardi secara jeli menemukan bahwa sebenar­nya yang terjadi adalah ketegangan horisontal yang terjadi antara penganut Islam legal formalistik (syariah) dengan penganut Islam hakikat. Dengan satu catatan, bahwa Mu­tamakin mendapat pembelaan dari Sang Penguasa dengan diampuni dirinya dan terbebas dari ancaman hukuman mati. Dan ini merupakan cikal bakal ketegangan horisontal yang terus ber­lang­sung pada masa selanjutnya dalam berbagai manifestasinya. Soebardi sendiri, pada bagian akhir analisis disertasinya, manyatakan bahwa bentuk-bentuk ketegangan seperti inilah yang mendasari kenapa paham Islam formal legalistik  tak pernah berhasil menjadi dominan di kalangan masyarakat Jawa pada masa-masa berikutnya.

Lalu apa hubungannya dengan Gus Dur? Sebagai orang yang mengaku keturunan Mutamakin dan secara sadar menyatakan dirinya sebagai penerus perjuangan Mutamakin, maka Gus Dur tentu paham betul dengan konsep ide­o­logi dan letak kelemahan gerakan Mutamakin. Dalam hal ini, menjadi ter­buka pemahaman mengapa Gus Dur melontar­kan ungkapan selamat pagi seba­gai pengganti assalamu‘alaikum, menentang berdirinya ICMI, lebih memilih “Persatuan Nasional” dari pada “Keislaman”, menguman­dangkan pen­dekatan “Islam Kultural” daripada “Islam Formal”.

Gus Dur lebih banyak menimbulkan ketegangan dengan kelompok Islam legalistik formal daripada dengan non-muslim. Bahkan, keme­nangan Gus Dur dalam pemilihan presiden beberapa waktu lalu lebih ditafsir­kan bukan ke­menangan atas kaum nasionalis, tapi justru sebagai ke­menangan “Islam Hakikat”-nya Mutamakin atas “Islam legalistik for­mal”-nya Ketib Anom. Itu pun berkat kerelaan “sang penguasa hati” untuk memaklumi kelakuan “generasi penerus Mutamakin” dari pada mem­beri ruang hidup bagi sang perlambang “merah, hitam, dan kuning.”

Jadi bila Gus Dur berujar “mudah-mudahan ini bisa terwujud tidak lama lagi” itu artinya mewujudkan “persatuan” sebagai ideologi Muta­ma­­kin adalah tugas dan tanggung­jawabnya. Jangan kaget pula bila Gus Dur melakukan langkah atau menyatakan hal-hal yang aneh alias membingungkan. Karena begitulah watak dasar ideologi dan gerakan Muta­makin. Ada yang lebih dari itu yang harus dipahami.[]

Baca lebih lengkap dalam buku Serat Cabolek: Kuasa, Agama, Pembebasan: Pengadilan K.H.A. Mutamakin dan Fenomena Shaikh Siti Jenar karya Dr. S. Soebardi (Penerbit Nuansa, 2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *