Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Sorot Mata Kebaikan

Sorot Mata Kebaikan

Oleh Irwan Kurniawan

Malam yang pahit dan dingin. Janggut lelaki tua itu berkaca-kaca oleh embun beku di musim dingin, sementara ia menunggu tumpangan untuk menyeberangi sungai. Menunggu tampak tak ada habisnya. Sebagian tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat tiupan angin utara yang dingin. Dia mendengar samar-samar irama mantap derap kaki kuda mendekat di sepanjang jalan yang tertutup salju.

Dengan perasaan cemas, ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Dia membiarkan yang pertama lewat tanpa upaya untuk mendapatkan perhatiannya. Kemudian lewat lagi yang berikutnya dan lewat lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir lewat, dan lelaki tua itu melambaikan tangan kepadanya. Penunggang kuda segera mendekat ke tempat di mana orang tua itu berdiri seperti patung salju.

Ketika orang ini mendekat, Pak Tua menatap mata si penunggang kuda dan berkata, “Pak, maukah Anda memberikan tumpangan kepada lelaki tua ini ke seberang sana? Tak ada jalan yang bisa dilewati dengan berjalan kaki.”

Sambil memegang kekang kudanya, si penunggang menjawab, “Tentu saja. Silakan naik!”

Melihat orang tua itu tidak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah beku dari tanah, si penunggang kuda turun dan membantunya naik ke atas punggung kuda. Si penunggang kuda membawa orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tetapi ke tempat tujuannya yang berjarak beberapa mil jauhnya.

Ketika mereka sudah sampai di depan sebuah pondok kecil, rasa ingin tahu si penunggang kuda mendorongnya untuk bertanya, “Pak! Saya perhatikan Anda membiarkan beberapa pengendara lain lewat tanpa melakukan upaya untuk meminta tumpangan. Tetapi ketika saya datang, Anda segera meminta tumpangan kepada saya. Saya ingin tahu, apa sebabnya pada malam musim dingin seperti ini, Anda menunggu dan meminta kepada penunggang terakhir? Bagaimana jika saya menolak dan meninggalkan Anda di sana?”

Orang tua itu menurunkan tubuhnya perlahan-lahan turun dari kuda, lalu memandang lurus ke arah mata penunggang kuda, dan menjawab, “Saya sudah ada di sini lama sekali. Saya rasa, saya tahu mana orang yang baik hati dan mana yang tidak.”

Orang tua itu melanjutkan, “Saya memandang mata penunggang yang lain dan segera melihat tidak adanya perhatian pada keadaanku. Akan menjadi sia-sia untuk meminta tumpangan kepada mereka. Tapi ketika saya melihat ke arah matamu, kebaikan dan rasa belas kasih terlihat jelas. Saya tahu saat itu juga bahwa ruh kelembutan akan menyambut kesempatan untuk memberiku bantuan pada saat dibutuhkan.”

Komentar menghangatkan itu menyentuh lubuk hati penunggang kuda.

“Saya sangat berterimakasih atas apa yang Anda katakan,” katanya kepada orang tua. “Mudah-mudahan saya tidak pernah terlalu disibukkan dengan urusan sendiri yang bisa menyebabkan saya gagal dalam merespons kebutuhan oang lain dengan kebaikan dan belas kasih.” (Dikutip dari Jalan Ruhani Bahagia, terbitan Penerbit Marja, 2011)

JALAN RUHANI BAHAGIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *