Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

SUDAH DEKATKAH KITA DENGAN ALLAH?

SUDAH DEKATKAH KITA DENGAN ALLAH?

Oleh: Irwan Kurniawan

Dulu, di zaman pemerintahan orde yang lalu, di sebuah ibukota kabupaten, diadakan proyek pelebaran jalan. Karena jalan tersebut berada di tengah kota, proyek itu meminta tumbal. Rumah-rumah warga dan tempat-tempat usaha di sisi kanan-kiri jalan harus dikorbankan. Di antara deretan rumah-rumah itu, ada satu rumah yang kemudian menyebabkan keluarnya sebuah keputusan luar biasa dari penguasa kabupaten waktu itu. Apa sebabnya?

Pemilik rumah tersebut punya anak yang duduk di Sekolah Dasar. Anak tersebut satu kelas dan sepermainan dengan anak bupati, penguasa tertinggi di kabupaten itu. Seperti biasa, anak-anak senang bermain ke rumah temannya. Pun demikian anak bupati itu. Singkat cerita, mengobrollah kedua anak itu tentang rumah mereka. Seperti mendapat kesempatan, anak pemilik rumah yang akan terkena proyek itu bercerita kepada anak bupati bahwa rumahnya akan digusur, dan ia tunjukkan rasa sedih dan bingung akan pindah ke mana, dan yang jelas, mereka akan berpisah.

Sepulang ke rumah, si anak bupati bercerita kepada orangtuanya tentang keluh-kesah temannya si anak warga. Anak itu merengek kepada ayahnya, meminta agar rumah temannya tidak dibongkar. Ia tidak ingin kehilangan dan berpisah dengan teman mainnya.

Sungguh tak dinyana, karena sayang kepada anak, Pak Bupati mengeluarkan sebuah keputusan yang luar biasa, meski sebetulnya hal biasa saja pada masa itu. Ia memerintahkan pimpinan proyek agar pelebaran jalan tidak perlu dibuat lurus; sebelum rumah warga yang satu itu, jalan harus berbelok supaya rumah itu tidak dibongkar. Maka selamatlah rumah tersebut dari pembongkaran.

Apa pesan ‘moral’ dari cerita di atas? Cerita ini hanya contoh saja bahwa jika kita dekat dengan orang penting yang punya pengaruh, kita akan mendapat kemudahan. Dengan kedekatan itu, kita dikecualikan dari aturan-aturan yang mestinya berlaku untuk semua. Tak heran jika di instansi-instansi, baik pemerintah maupun swasta, karyawan ingin dekat dengan pemimpinnya. Berbagai cara pun dilakukan, bisa melalui hobi, olahraga, atau kolega. Tak jarang juga yang main sikut dan main injak kanan-kiri agar bisa menampilkan muka.

Ini kedekatan dengan manusia yang betapapun tinggi kedudukannya dan besar kekuasaannya, tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Swt. Apalagi jika kita dekat dengan Pencipta dan Pemilik alam semesta ini, yang kekuasaan-Nya tidak terhingga. Contohnya dapat kita baca dalam kisah Nabi Ibrahim as. Beliau adalah kekasih Allah yang begitu dekat dengan-Nya sehingga dalam Al-Quran, Allah menyebutnya al-khalîl, sang kekasih.

Karena dianggap telah menghina tuhan-tuhan kaumnya, Ibrahim diputuskan untuk diberi hukuman. Karena tindakannya sudah melebihi subversif, hukumannya pun tak tanggung-tanggung: dibakar hidup-hidup! Rupanya hukuman bakar hidup-hidup sudah ada sejak zaman baheula.

Ternyata hukuman bakar hidup-hidup itu kini hidup lagi. Beberapa waktu lalu, dunia digemparkan oleh kasus pembakaran hidup-hidup seorang tentara Yordania, Mu’adz Kassasbeh, yang menyulut kemarahan raja dan rakyat negara itu. Pelaku pembakaran ini adalah kelompok radikal bengis, ISIS.

Di negeri kita pun ada kasus serupa, tapi pelakunya adalah warga yang kesal atas sering terjadinya tindak pembegalan. Akibatnya, seorang terduga begal pun jadi sasaran amarah warga Pondok Aren. Ia dibakar hidup-hidup hingga meregang nyawa.

Berbeda dengan Mu’adz Kassasbeh dan terduga begal Pondok Aren, meski dibakar hidup-hidup, api tidak menyentuh tubuh Nabi Ibrahim. Padahal, kita tahu sifat api adalah panas dan membakar hingga bisa menghanguskan. Itulah sunnatullah. Tapi mengapa sunnatullah itu tidak berlaku bagi Nabi Ibrahim? Ia keluar dari kobaran api dengan tubuh yang segar-bugar, tanpa sedikit pun tersentuh api.

Itu karena Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Karena kasih-Nya, Allah menyelamatkannya dari tindakan keji kaum Kaldan yang dirajai oleh Namrud. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api, Allah memerintahkan api agar tidak menjadi panas dan membakar bagi sang kekasih. Yâ nâru kûnî bardan (hai api, menjadi dinginlah!), begitu firman Allah Swt kepada api, seperti diabadikan dalam Al-Quran, surah al-Anbiya’: 68.

Itulah untungnya kalau kita dekat dengan Allah. Tapi kedekatan dengan Allah bukan perkara untung-untungan. Kita tahu, bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim as dalam perjalanan mencari hakikat Tuhan. Tentu itu bukan perkara yang mudah, dan butuh banyak pengorbanan.

Kita pun bisa dekat dengan Allah, sehingga kita bisa mendapatkan kemudahan dalam hidup dan juga mungkin dikecualikan dari aturan yang berlaku. Caranya dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Muhammad: 4).

Lalu, apakah kita merasa Allah dekat dengan kita? Bagaimana kita mengukur kedekatan itu? Adakah kriteria untuk mengukurnya?

Jawabnya, ada, yaitu  dengan merasa-rasa bagaimana kedudukan Allah dalam diri kita. Kata Sayidina Ali kw, “Barangsiapa ingin tahu kedudukannya di sisi Allah, hendaklah ia memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya setiap kebaikan memiliki dua dimensi; dimensi dunia dan dimensi akhirat. Pilihlah dimensi akhirat atas dunia. Itulah yang disukai Allah. Barangsiapa memilih dimen­si dunia, itulah orang yang tidak memiliki kedudukan di sisi Allah.” Wallâhu a’lam**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *