Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani

Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani

Oleh Syaikh Muhammad al-Kaznazani al-Husaini

Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani lahir di Jailan, sebelah barat Iran, pada tahun 1077 M, dari pasangan suami-istri sufi ternama pada zaman mereka. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad Saw dari kedua orangtua beliau. Ayah beliau, Sayyid ‘Abdullah az-Zahid (secara harfiah “sang Sufi”) adalah putra Sayyid Yahya, ibn Sayyid Muhammad, ibn Sayyid Dawud, ibn Sayyid Musa, ibn Sayyid ‘Abdullah, ibn Sayyid Musa al-Jun, ibn Sayyid ‘Abdullah al-Mahdh, ibn Sayyid Hasan al-Mutsanna, ibn Imam Hasan As, ibn Imam ‘Ali ibn Abi Thalib Ra, Kw, saudara sepupu laki-laki Nabi Muhammad Saw. Dan as-Sayyidah Fathimah az-Zahrah As, putri Nabi Muhammad Saw.


Ibu Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani adalah Umm al-Khair (secara harfiah “Ibu Kebaikan”) Fathimah, binti Sayyid ‘Abdullah as-Sauma’i az-Zahid, ibn Sayyid Jamal ad-Din Muhammad, ibn Sayyid Mahmud, ibn Sayyid Abi al-‘Atha’ ‘Abdullah, ibn Sayyid Kamal ad-Din ‘Isa, ibn Imam Abi ‘Ala’ ad-Din Muhammad al-Jawad As, ibn Imam ‘Ali ar-Ridha As, ibn Imam Musa al-Kazhim As, ibn Imam Ja‘far ash-Shadiq As, ibn Imam Muhammad al-Baqir As, ibn Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin As, ibn Imam Husain As, ibn Imam ‘Ali ibn Abi Thalib Ra, Kw, dan as-Sayyidah Fathimah az-Zahrah As.

Kedua orangtua Syaikh ‘Abd al-Qadir adalah Sufi yang menempuh kehidupan sufi yang sempurna, betul-betul terpisah dari dunia ini, dan patuh pada Allah ‘Azza wa Jalla. Demikianlah kedua orangtua yang sufi ini dilukiskan dalam ucapan putra mereka yang sufi, “Ayahku menjauhi dunia ini, meskipun beliau tidak mampu memperoleh sebagian darinya [yaitu, harta kekayaan] di dalamnya, dan ibuku setuju dengan beliau berkenaan dengan hal itu dan ridha terhadap tindakan beliau. Mereka tergolong dalam kaum yang saleh, religius, dan penuh kasih sayang kepada makhluk.”

Sayyid ‘Abdullah az-Zahid terkenal karena doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan karena prediksinya yang akurat tentang peristiwa-peristiwa masa depan. Sayyid Abdullah as-Sauma’i juga dikenal karena berkah-berkahnya dan sejumlah besar karamah yang ditunjukkannya, sehingga khalayak biasa memohon syafaatnya sewaktu mereka merasa dalam tekanan. Pada suatu hari, sekelompok kafilah dagang dari Jailan sedang mengadakan perjalanan dari Jailan menuju Samarkand, dan sekelompok penyamun menghentikannya. Para saudagar ini tidak mampu melakukan sesuatu selain memohon pertolongan kepada Sayyid ‘Abdullah as-Sauma’i, yang tiba-tiba mereka saksikan berada di tengah-tengah mereka sambil melantunkan suatu formula bacaan. Kelompok penyamun itu berlari meninggalkan tempat, dan Sayyid ‘Abdullah as-Sauma’i pun sirna dari pandangan, semendadak seperti saat beliau muncul. Sewaktu kembali ke kota, mereka menceriterakan peristiwa tersebut pada penduduk Jailan, para merkantil ini diberitahu bahwa Sayyid ‘Abdullah as-Sauma’i tidak pernah meninggalkan Jailan pada saat mereka mengadakan perjalanan.

Syaikh Jilani mulai menunjukkan keajaiban mirip mukjizat segera setelah lahir. Semasa masih bayi mungil, beliau tidak mau menyusu pada ibunya pada sepanjang siang hari di bulan Ramadhan. Pada saat cuaca mendung yang mencegah orang-orang untuk bisa mengamati bulan-sabit guna mengetahui hari pertama Ramadhan, lalu orang-orang bertanya pada ibu beliau tentang beliau, lalu sang ibu memberitahukan bahwa beliau tidak menyusu pada pagi itu. Untuk masa selanjutnya, terbukti bahwa hari itu—sesungguhnyalah—hari pertama bulan Ramadhan.

Sepeninggal ayahnya, Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani tinggal bersama ibunya hingga berusia 18 tahun; pada usia ini, setelah mengalami suatu visi, beliau berpamit untuk pindah ke Baghdad, ibu kota sufisme dan ilmu pengetahuan. Di kota ini beliau bergabung dengan Syaikh Hammad ad-Dabbas, seorang sufi ternama pada masanya, yang memprediksi bahwa Syaikh ‘Abd al-Qadir akan mencapai maqâm spiritual yang sedemikian tinggi hingga menyatakan, “Kakiku berada di atas leher setiap sufi.” Selama hampir 20 tahun, Syaikh ‘Abd al-Qadir mengadakan lawatan di padang pasir dan reruntuhan Irak. Selama beberapa tahun beliau tidak makan selain sesuatu yang sangat penting guna menjaga kelangsungan hidup beliau, dan selama kurang lebih 40 tahun tidak pernah tidur di malam hari, kecuali untuk beribadah pada Allah. Alhasil, beliau biasa melakukan shalat subuh dengan air wudhu yang diambilnya sewaktu akan melakukan shalat Isya’.

Satu di antara sekian keajaiban mukjizati yang menjelaskan status spiritual Syaikh ‘Abd al-Qadir yang luar biasa dan peran Allah ‘Azza wa Jalla yang disandangkan pada beliau dalam mendakwahkan Islam berlangsung pada suatu Jumat tahun 1117 M. Sewaktu dalam perjalanan ke Baghdad, Syaikh ‘Abd al-Qadir berjumpa dengan seorang lelaki lemah dan sakit yang memberikan penghormatan pada beliau dengan mengucapkan “as-salâmu ‘alaik.” Syaikh ‘Abd al-Qadir menjawab salam itu; lelaki tersebut minta tolong beliau untuk duduk. Sewaktu Syaikh ‘Abd al-Qadir menolongnya, badan lelaki yang sakit itu mendadak berkembang meninggi. Orang itu selanjutnya bertanya pada Syaikh ‘Abd al-Qadir, apakah beliau mengenalnya, tetapi sang syaikh menjawab tidak. Lalu, lelaki tersebut menjelaskan pada Syaikh ‘Abd al-Qadir, “Aku adalah agama kakekmu. Aku selama ini sakit dan menderita, tetapi Allah telah membangunkan-kembali aku dengan pertolonganmu.” Setelah perjumpaan ini, Syaikh ‘Abd al-Qadir terus pergi melanjutkan perjalanan, beliau menuju masjid untuk melakukan shalat Jumat. Di masjid itu, seorang lelaki mendekati beliau dan memberinya sepasang sepatu dan memanggil beliau dengan gelar muhy ad-din, yang berarti “Pembaharu Agama”, yang dengannya beliau menjadi terkenal. Sesungguhnyalah, Syaikh ‘Abd al-Qadir mensyiarkan Islam di mana pun di dunia ini, dan pengaruh serta bimbingan beliau sedemikian besar hingga sebagian besar mazhab sufi yang ada dewasa ini memandang beliau sebagai orang yang membidaninya.

Syaikh ‘Abd al-Qadir selanjutnya menyertai pembimbing sufi agung pada zamannya, Syaikh Abu Sa‘id al-Makhzumi dan menggantikannya sebagai syaikh tarekat setelahnya, tahun 1127 M. Syaikh Abu Sa‘id al-Makhzumi menempatkan Syaikh ‘Abd al-Qadir sebagai orang yang bertanggungjawab dalam pengelolaan hauzah-nya yang terkenal di Baghdad. Tetapi, Syaikh ‘Abd al-Qadir tidak duduk untuk memberikan ceramah. Pada suatu hari sebelum shalat Zuhur pada tahun yang sama, Syaikh ‘Abd al-Qadir bermimpi berjumpa dengan kakek beliau, Nabi Muhammad Saw yang bertanya kepada beliau, mengapa beliau tidak mau memberikan ceramah pada khalayak. Sang cucu yang sufi menjawab bahwa dia tidak mampu berbicara di hadapan para orator Baghdad, sebab bahasa-ibunya bukan Bahasa Arab. Nabi Saw selanjutnya meludahi mulutnya tujuh kali, dan memintanya memulai memberikan ceramah kepada khalayak dengan sarana ucapan dan amal saleh. Setelah shalat, Syaikh ‘Abd al-Qadir duduk dan orang-orang berkumpul di seputar beliau, tetapi beliau gugup. Pada titik ini, beliau menyaksikan kakek-buyutnya yang lain, Imam ‘Ali ibn Abi Thalib As Kw, di hadapan beliau, dan meludahi mulut sang cucu enam kali. Syaikh ‘Abd al-Qadir bertanya kepada Imam ‘Ali ibn Abi Thalib, mengapa beliau meludahi mulutnya enam kali dan bukannya tujuh kali, maka Imam ‘Ali menjawab bahwa beliau melakukan hal itu disebabkan penghormatannya terhadap Nabi Saw. Inilah salah satu peristiwa mukjizati yang menggarisbawahi jawaban Syaikh ‘Abd al-Qadir pada pertanyaan tentang asal-usul pengetahuan Ilahinya di bawah ini: “Di masa lalu, itu adalah Hammad ad-Dabbas, tetapi kini aku minum dari dua lautan—lautan Kenabian dan lautan keksatriaan [futuwwah].” Sebagian besar di antara buku-buku yang ditulis oleh Syaikh ‘Abd al-Qadir tentang hukum (syarî‘ah) maupun tasawuf (tharîqah) memberikan kesaksian tentang kedalaman pengetahuan Ilahinya.

Peristiwa ajaib ini memberi Syaikh ‘Abd al-Qadir pengetahuan spiritual dalam kadar yang besar, dan piawai berkhutbah di hadapan khalayak secara fasih dan dengan kecakapan berbahasa yang sempurna. Dengan demikian, hauzah Syaikh ‘Abd al-Qadir, tempat beliau memberikan kuliah tiga kali dalam seminggu, menjadi tujuan akhir para pencari kebenaran dan pengetahuan Ilahi. Beliau memberikan kuliah di hauzah selama kurang lebih 40 tahun, semenjak pengajaran diserahkan kepada beliau pada tahun 1127 M hingga wafat beliau pada tahun 1166 M. Buku yang ada di tangan sidang-pembaca kini terdiri dari sejumlah besar kuliah yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abd al-Qadir di hauzah-nya. Beliau juga mengajar dan bertindak sebagai pakar hukum selama 30 tahun sejak 1133 M.

Syaikh ‘Abd al-Qadir mencapai hâl dan maqâm spiritual yang tidak dicapai oleh seorang sufi lain pun sesudahnya. Dalam dunia sufisme, beliau diangkat pada status yang sedemikian tinggi hingga pada tahun 1165 M, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan beliau membuat pernyataan yang unik dan terkenal, “Kakiku berada di atas leher setiap sufi,” sebagaimana yang telah diprediksikan oleh Syaikh Hammad ad-Dabbas dan sejumah kecil sufi lainnya. Seluruh sufi pada zamannya mendengarkan ucapan-ucapan beliau, dan bertekuk lutut sesuai dengan perintah Tuhan ini. Inilah awal mulanya beliau dikenal dengan gelar sulthân al-auliyâ’.

Syaikh Muhammad al-Kasnazani menegaskan bahwa pernyataan unik ini mengandung makna bahwa kaki Syaikh ‘Abd al-Qadir berada di atas leher setiap sufi yang akan lahir hingga Hari Kebangkitan, dan bahwa setelah masa Syaikh ‘Abd al-Qadir tidak akan ada seorang sufi pun yang lebih besar darinya hingga Hari Kebangkitan.[]

Baca lebih lanjut Ritual Cinta: Menjadikan Tuhan sebagai Kekasih Hati karya Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani (Marja, 2012)

ritual cinta 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *