Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Syair Cinta untuk Rasul

Syair Cinta untuk Rasul

Oleh K.H. Jalaluddin Rakhmat

Ketika Iblis dikeluarkan dari surga, berlangsunglah per­cakapan antara dia dengan Tuhan.
Iblis : Tuhanku, Engkau telah mengeluarkan aku dari surga karena Adam. Lalu, di mana rumahku?
Tuhan  : Toilet.
Iblis : Di mana majelisku?
Tuhan : Pasar.
Iblis : Apa bacaanku?
Tuhan : Puisi.
Iblis : Apa tali jebakanku?
Tuhan : Perempuan.
Iblis : Apa ucapanku?
Tuhan : Pergunjingan dan dusta.

Kutipan di atas diambil dari buku tasawuf Bustân al-‘Arifîn. Memang bukan hadis. Hanya kisah yang diceritakan orang saleh bernama ‘Atha’ bin Dinar. Tetapi buat sebagian ulama, riwayat ini memperkuat anggapan mereka bahwa membuat syair atau puisi adalah perbuatan tercela. Begitu hati-hatinya mereka terhadap syair, sehingga ada di antara mereka yang tidak mau menuliskan Basmalah sebelum puisi. Masruq (wafat 63 H), seorang faqih besar yang datang ke Madinah di zaman pemerintahan Abû Bakar, tidak mau mencemari bukunya dengan satu bait syair pun. Menurut mereka, Allah mengecam para penyair: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? (Qs asy-Syu‘arâ’, 26: 224-226).

Pada zaman Jahiliah, para penyair membacakan puisi mereka di Pasar Ukaz. Mereka menyampaikan pujaan yang berlebihan pada para pemimpin kabilah. Dusta menjadi bagian penting dari syair. Perempuan dihadirkan untuk meramaikan suasana. Seperti kata Iblis, dalam puisi berkumpul bacaan, jebakan, dan ucapan Iblis. Rasulullah Saw diriwayatkan pernah bersabda: “Perut yang dipenuhi tinja lebih baik dari perut yang dipenuhi syair.”
Walaupun kita meragukan Rasulullah Saw yang terkenal fasih dan suci dapat “mencemari” lidahnya yang mulia dengan kata-kata kotor, hadis ini dihitung para ulama sebagai hadis yang sangat sahih. Dalam salah satu pengajian, seorang peserta mengajukan pertanyaan yang lebih terdengar sebagai hujatan: “Betulkah membaca Barzanji itu bid‘ah dan bahkan syirik? Bukankah di situ kita menemukan kebohongan dan kultus individu? Dikatakan bahwa ketika Nabi Saw lahir, semua binatang memberitakan kelahirannya dengan kalimat Arab yang fasih. Nabi Saw dipanggil sebagai nûrun fauqa nûrin, cahaya di atas cahaya.” Saya menjawabnya dengan mengatakan bahwa Barzanji itu buku yang ditulis untuk mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Cinta memang sukar dilukiskan tanpa menggunakan hiperbola dan metafora. Hiperbola bukan kebohongan dan metafora bukan kemusyrikan.

Saya berhasil membungkam penanya. Untunglah, ia tidak mengutip ayat Al-Quran dan hadis di atas. Untungnya juga, sepanjang sejarah, mayoritas kaum Muslim tidak pernah menggubris larangan ini. Kita dapat menemukan bahwa di antara laci terbesar dalam khazanah kebudayaan Islam adalah puisi. Apalagi kalau kita membicarakan Rasulullah Saw. Sepanjang hidupnya, Rasulullah Saw dekat dengan syair dan para penyair. Setelah wafatnya, jutaan bait puisi ditulis oleh kaum Muslim untuk menggambarkan keagungan Nabi Saw atau sekadar mengungkapkan kerinduan para pecintanya. Sekadar contoh, Yûsuf an-Nabhânî, seorang faqih besar dari Libanon, menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan puisi-puisi tentang Nabi Saw. Antologi puisi Nabhani ini, Al-Majmû‘ah an-Nabhâniyyah, terdiri dari empat jilid buku tebal. Ia sendiri menulis ribuan bait pujian untuk Nabi Saw. Kedalamannya dalam ilmu fiqih tidak mengusiknya dari kecintaannya kepada puisi.

Para faqih yang mencintai puisi meninjau kembali ayat Al-Quran dan hadis yang dijadikan argumen (hujjah) untuk melarang puisi. Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang mengecam penyair itu hanya khusus ditujukan untuk para penyair yang tidak punya pendirian—mereka mengembara di tiap-tiap lembah, melayani kepentingan siapa saja yang membayarnya tanpa mempedulikan halal dan haram, serta mengkhutbahkan apa yang tidak mereka lakukan. Penyair dikecam bukan karena menulis puisi. Ia dikecam karena isi puisinya. Bukankah surah asy-Syu‘arâ’ diakhiri dengan firman Allah yang memuji para penyair juga: Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Qs asy-Syu‘arâ’, 26: 227).

Hadis-hadis juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw mencintai syair. Para sahabat senang berbalas-balasan syair di depan Nabi Saw. Beliau juga tidak jarang membalas syair sahabatnya atau minta dibacakan syair penyair di hadapannya. Dalam Perang Khandaq, sambil sibuk menggali parit, Nabi Saw berpuisi:

 

Ya Allah tidak ada kehidupan

kecuali kehidupan akhirat.

Ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin

 Sahabat Anshar menjawabnya:

Kami yang berbaiat kepada Muhammad

Akan kami penuhi janji sepanjang hayat

Dalam riwayat lain, dikisahkan Nabi Saw pernah berjalan dan tergelincir. Jemarinya berdarah. Beliau bersyair:

 Engkau cuma jari yang berdarah

Padahal kau tidak menemuinya di jalan Allah

 Ka‘ab bin Zuhair, seorang penyair, bertobat di depan Nabi Saw. Ia pernah mengecam beliau dan kini menyesali perbuatannya. Di depan beliau, ia membacakan syair yang memohonkan ampunan beliau. Berdasarkan ungkapan pertama dalam bait pertamanya, syair itu terkenal dalam literatur sastra sebagai syair Banât Su‘ad. Nabi Saw menutupkan jubahnya—burdah—kepadanya sebagai tanda ampunan beliau. Bersama Hasan bin Tsabit dan ‘Abdullâh bin Rawâhah, Ka‘ab menjadi penyair Rasulullah Saw. Untuk merekalah turun ayat Al-Quran terakhir surah asy-Syu‘arâ’.

Di samping mereka, banyak sahabat lain me­nyenandungkan syair-syair di hadapan Nabi Saw. Dalam tarikh, syair-syair itu menjadi tonggak-tonggak peristiwa penting atau pedoman untuk merujuk makna ketika menafsirkan Al-Quran atau menjelaskan hadis. Nabi Saw juga sering mengenang peristiwa dengan mengingat syair yang berkaitan dengan itu.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Seorang Arab badui tergopoh-gopoh menemui Nabi Saw. Ia berkata, ‘Ya Rasulullah, kami datang menemuimu karena unta tidak bisa melangkah dan bayi tidak bisa lagi menyusu.’ Lalu ia membacakan syair:

Kami temuimu dan dada perawan telah menampakkan darahnya

Dan ibu baru tidak lagi menghiraukan bayinya

Dengan tangan menadah, pemuda datang merendah

Tubuhnya lunglai dan lapar

mulutnya bisu dan pedar

Pada kami tidak tersisa lagi makanan yang dulu

Selain biji hanzal dan butiran kasar bercampur bulu

 Bagi kami, selainmu,

tidak ada lagi tempat pelarian

Ke mana lagi manusia lari

kecuali kepada para Utusan

“Lalu Rasulullah Saw berdiri. Beliau mengenakan serbannya dan naik ke mimbar. Beliau menadahkan tangannya ke langit. Beliau berdoa: Ya Allah, turunkan kepada kami hujan deras melimpah ruah, dengan segera tidak tertunda, berguna tidak berbahaya, sehingga payudara dipenuhi susu, tanaman tumbuh subur, dan bumi hidup lagi setelah kematiannya. (Anas bin Malik lalu berkata:) Demi Allah, belum kembali tangan Rasulullah Saw, langit sudah mencurahkan air hujannya. Penduduk lembah berteriak: Ya Rasulullah, banjir, banjir!

Kemudian Rasulullah Saw berdoa: “Ya Allah, ber­katilah kami. Jangan siksa kami!” Tiba-tiba awan berpencar sampai melingkari Madinah seperti mahkota. Rasulullah Saw tertawa sehingga tampak gusinya. Beliau bersabda: Kukenang lagi, ya Allah, Abû Thâlib. Sekiranya ia hidup, pastilah bahagia hatinya. Siapakah yang mau membacakan puisinya bagiku. (Nabi Saw teringat pada peristiwa ketika, sebelum Islam, Makkah dilanda kekeringan. Abû Thâlib membawa Muhammad kecil yang berwajah putih dan memohon hujan dengan wajahnya yang mulia. Hujan turun menggenangi lembah Makkah. Dalam gembiranya, Abû Thâlib melantunkan puisinya).

“‘Alî bin Abî Thâlib berdiri seraya berkata: Ya Rasulullah, mungkin inilah puisi yang engkau maksud? ‘Alî membacakan puisi Abû Thâlib:

Awan diharapkan mengalirkan hujannya

Melalui wajahnya yang putih

pelindung anak yatim pembela janda

 Kepadanya berlindung keluarga Hasyim yang malang

Di sisinya mereka dalam kenikmatan dan kemuliaan

 Bohonglah kalian, Demi Rumah Allah,

Muhammad diserahkan

Padahal kami belum berjuang untuknya dan belum membelanya

 Takkan kami serahkan dia

sebelum kami terbujur di sampingnya

Dan mengabaikan istri dan anak-anak kami

Kata Rasulullah Saw, “Bagus.” Lalu, seorang lelaki dari Bani Kinanah berdiri, membacakan syair lagi:

Bagi-Mu pujian, pujian dari yang bersyukur

berkat wajah sang Nabi, kepada kami air hujan mengucur

 Dia memohon kepada Tuhan

dengan doa yang diperkenankan

dan kepadanya

pandangan mata dihadapkan

 Dengan hanya satu kelebatan serban

Bahkan lebih cepat lagi, kami saksikan hujan

Dengan hujan lebat, meluas, dan deras

Tuhan menyirami dataran tinggi Mudhar

Semua seperti yang diucapkan Sang Paman

Abu Thalib, pemilik selendang dan kemuliaan

 Karena engkau, Allah turunkan hujan dari awan

 Biarkan puisi ini menjadi kesaksian

Barangsiapa bersyukur kepada Allah mendapat tambahan

Barangsiapa yang kufur kepada Allah dapat kecelakaan

“Rasulullah Saw bersabda, ‘Jika ada penyair yang berbuat baik, maka engkau sudah berbuat baik.’.”

Dengan sabdanya itu, Rasulullah Saw bukan saja memberikan peng­hargaan pada penyair spontan itu, tetapi juga kepada penyair-penyair lain yang menggunakan puisi untuk kebaikan. Beliau juga mengenang kebaikan dan kasih sayang pamannya melalui puisi yang diingatnya. Dalam peristiwa berikutnya, syair yang anonim diingat orang sebagai tonggak yang menandai peristiwa Hijrah. Peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Ummu Ma‘bad.

Sekelompok sahabat Nabi Saw melewati tenda Ummu Ma‘bad di padang pasir, dan berusaha membeli daging dan kurma darinya, tetapi wanita itu sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Lalu Nabi Saw menunjuk kepada satu-satunya domba yang dimilikinya, yang sedang berbaring di pojok, dan bertanya, “Apakah ia mempunyai susu?”

Dia berkata, “Ia terlalu lemah.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau mengizinkan aku untuk memerah susu­nya?”

Dia berkata, “Engkau lebih kusayangi daripada ayah dan ibu. Jika aku tahu ia mempunyai susu, maka aku pasti telah memerahnya sebelumnya.”

Lalu Rasulullah memanggil domba itu, dan meletakkan tangannya pada ambingnya, dan menyerukan nama Allah, serta berdoa untuk wanita itu dan dombanya. Tiba-tiba domba itu menegakkan kakinya ke arahnya, dan susu mulai mengalir. Nabi Saw meminta sebuah wadah untuk menampung susu itu, dan memerah banyak susu ke dalamnya. Lalu dia memberikannya kepada wanita itu agar diminum hingga kenyang, dan dia sendiri minum paling akhir. Setelah mereka memuaskan rasa dahaga, Nabi Saw memerah susu sekali lagi sampai wadah itu penuh, dan dia meninggalkannya dan mereka meneruskan perjalanan.

Beberapa lama kemudian suami wanita itu, Abu Ma‘bad, tiba dengan menuntun beberapa ekor kambing lapar yang rupanya sangat menyedihkan dan yang sumsumnya hampir kering. Ketika ia melihat susu itu, dia terkejut dan bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, Ummu Ma‘bad? Sebab domba itu telah kering dan tidak ada ternak perah di rumah ini.”

Wanita itu berkata, “Benar, tetapi seorang pria mulia telah melewati tempat ini dan begini dan begitu….”

Dia berkata, “Lukiskan penampilannya, Ummu Ma‘bad!”

Wanita itu berkata, “Aku melihat seorang pria yang sangat bersih dengan wajah cemerlang, dan sopan santun sempurna. Dia tidak kurus dan tidak botak, lemah lembut dan anggun; matanya hitam legam dengan bulu mata melengkung, suaranya merdu dan lehernya bersinar, janggutnya tebal. Alis matanya melengkung indah. Ketika dia diam, kemuliaan melingkupinya dan ketika dia berbicara, dia tampak berwibawa dan kecemerlangan cahaya mengelilinginya. Seorang pria yang paling tampan dan bercahaya dari jauh dan yang paling manis dan lembut hati dari dekat….”

Kata Ummu Ma‘bad, “Dia, demi Allah, orang Quraisy yang terkenal keadaannya pada kita, seperti yang sering disebut-sebut di Makkah. Aku bermaksud menemaninya dan sungguh aku akan menemaninya sekiranya ada kesempatan. Tiba-tiba terdengarlah dari Makkah sebuah suara. Tidak diketahui siapa yang berbicara. Ia melantunkan syair:

Semoga Allah memberikan pahala paling baik

Bagi dua sahabat yang berkata:

Dua kemah Ummu Ma’bad

 Keduanya turun dengan petunjuk dan berpegang kepadanya

Beruntunglah orang yang menjadi sahabat Muhammad

Tanyalah saudaramu tentang kambing dan bejana susunya

Sebab jika kalian tanya kambing kalian akan menyak­sikannya

 Dia mendoakan kambing yang kurus sampai kambingnya

Mendadak mengalirkan air susu yang melimpah ruah

Para penyair di zaman Rasulullah Saw membuat untaian puisinya untuk menengarai peristiwa-peristiwa penting seperti dilakukan ‘Abdul Muththalib, Abû Thâlib dan para penyair lainnya. Para penyair sepeninggal Rasulullah Saw umumnya menggubah puisi untuk membacakan doa kepadanya (lazimnya kita sebut shalawat) atau mengungkapkan kerinduan kepadanya. Seringkali keduanya bergabung.

Kumpulan shalawat memerlukan buku tersendiri. Sebagai contoh saja dari beberapa shalawat yang popular, bagian terakhir dari buku ini berisi berbagai shalawat kepada Nabi Saw. Salah satu di antaranya adalah Burdah, yang artinya jubah. Burdah terkenal pada hampir semua negeri Islam. Di Indonesia, Burdah menjadi bagian yang sangat penting dalam kumpulan shalawat dan puisi tentang Nabi Saw yang kita kenal sebagai Al-Barzanji. Menurut riwayat, Syaikh al-Bushirî menderita sakit yang parah. Ia lumpuh. Untuk kesembuhan penyakitnya, ia memohon doa Rasulullah Saw. Selama sakit digubahnya untaian puisi yang menggambarkan kecintaannya yang bergelora kepada Sang Utusan.

Ketika ia tertidur dalam melagukan senandung rindunya, ia berjumpa dengan Rasulullah Saw dalam mimpinya. Ia melihat Rasulullah Saw menutup­kan jubahnya kepadanya, sebagaimana dahulu Rasulullah mengenakan jubah­nya pada Ka‘ab bin Zuhair. Bila Ka‘ab diampuni dosa-dosanya, Al-Bushirî disembuhkan dari penyakitnya. Esok harinya, ia berjalan-jalan dengan ceria. Di berbagai tempat, Burdah sering dibaca sebagai doa untuk kesembuhan dan perlindungan.

Seperti Al-Bushirî, seorang saleh yang lain—seperti dikisahkan oleh As-Suyuthî—berjumpa dengan Nabi Saw:

Suatu malam aku bershalawat kepada Nabi Saw dan jatuh tertidur. Aku sedang berada di dalam satu ruangan dan, aduh, Nabi Saw mendatangiku melalui pintunya, dan seluruh ruangan itu menjadi bercahaya karenanya. Lalu, dia bergerak ke arahku dan berkata, “Berikanlah kepadaku mulut yang telah melantunkan shalawat bagiku begitu sering agar aku bisa menciumnya.” Dan kerendahan hatiku, aku tidak akan membiarkannya mencium mulutku; maka aku memalingkan wajahku dan dia mencium pipiku. Lalu aku bangun dengan gemetar dari tidurku, dan istriku yang ada di sampingku terbangun, dan aduh, rumahku menjadi berbau harum akibat keharuman badan Nabi Saw, dan bau harum dari ciumannya tetap menempel di pipiku sampai sekitar delapan hari. Istriku mengenali bau itu setiap hari.

Jadi untuk apakah buku ini ditulis? Walaupun saya bukan penyair, seperti Ka‘ab bin Zuhair, saya ingin menyampaikan permohonan ampunan maaf Kanjeng Rasul. Seperti kisah orang yang rakus makan dalam cerita Rumi, saya sudah sering mengotori rumah Rasulullah Saw dengan perilaku saya yang buruk. Kiranya Rasulullah Saw berkenan menerima buku kecil ini dan beliau tidak pernah mengecewakan tamunya. Berikanlah kepada aku dan semua pembaca buku ini maafmu, wahai Kekasih Allah. Tutupkan jubah kasihmu pada kami.

Seperti Al-Bushirî, saya mengumpulkan tulisan ini untuk bershalawat dan mengungkapkan kerinduan kepadamu. Seperti shalawat Alfu Salam, saya akan senandungkan di hadapan Junjunganku:

Jangan dukakan daku tanpa dikau

Sapalah daku walau dalam mimpi

Melalui buku ini, kita ingin menggabungkan diri dengan semua penyair besar yang mencintai Rasulullah Saw. Kita mulai dengan puisi para Keluarga Rasul sejak ‘Abdul Muththalib sampai ‘Alî bin Abî Thâlib. Dari situ kita menyertai ungkapan kerinduan saudara-saudara kita sebangsa, sejak Hamzah Fansuri, Chik Pantee Kulu sampai penyair mutakhir seperti Taufiq Ismail, Hamid Jabbar, Abdul Hadi W.M., A. Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Motinggo Busye, D. Zawawi Imran, Husni Jamaluddin, Yustan Azziddin, dan Ebiet G. Ade. Dari tanah Melayu, kita terbang ke angkasa para penyair dunia Islam seperti Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, Sa‘di Shirazi, Imam Khumaini, Abdul Rauf Bhatti, Ahmad Raza Khan Baralvi, dan masih banyak lagi. Kita meneruskan perjalanan kita ke Dunia Barat. Kita kumandangkan juga madah-madah tentang Sang Nabi lewat pemaparan penulis Barat, baik yang Muslim maupun bukan. Buku ini kita akhiri dengan sebagian dari shalawat.

Tentu saja masih banyak puisi dan shalawat Nabi Saw yang tidak dapat kita cantumkan di sini karena keterbatasan ruang. Mudah-mudahan saya hanyalah pengantar untuk karya-karya lain yang akan disumbangkan oleh kaum Muslim di Indonesia khususnya. Akhirnya, terimakasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada para penyair besar Indonesia. Di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka berkenan mengirimkan puisi-puisinya. Saya tidak dapat berterimakasih yang memadai kepada mereka. Semoga Allah Swt menghimpunkan mereka dalam dekapan kasih Nabi Muhammad Saw, Sayyid al-Mursalin. Saya juga berutang budi kepada Miftah Fauzi Rakhmat, yang telah mengerjakan apa yang tidak sanggup dan tidak mampu saya kerjakan. Semua terjemahan Persia adalah murni karyanya. Semua hubungan dengan para penyair Indonesia juga melalui kerja kerasnya. Semoga Rasulullah Saw berkenan memberikan kepadanya dan kedua orangtuanya air Telaga al-Kautsar dengan tangannya yang mulia, sehingga mereka tidak kehausan lagi selama-lamanya.

Akhirnya, kepada semua peserta Majelis Pengajian Az-Zahra, terimakasih tak terhingga saya sampaikan sambil mengiringinya dengan doa—semoga kita semua digabungkan bersama Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci. Amin.[]

 

Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Afkar Penghantar: Sekumpulan Kata Pengantar (Penerbit Nuansa, 2016)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *