Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Syekh Djambek dan Kiai Fuad Affandi

Syekh Djambek dan Kiai Fuad Affandi

Oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, M.A.

Sebelum membicarakan sang aktor dalam buku ini, saya akan menceritakan tentang sosok seorang alim terkemuka dari Sumatera Barat, tepatnya dari Kampung Tengah Sawah, Pasar Bawah, Bukiting­gi. Seperti yang pernah saya ceritakan di Harian Republika 1 April 2008 dalam tulisan berjudul “Syekh Djambek,” yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Djamil Djam­bek, seorang alim ahli fikih, ushul fikih, ilmu falak, dan ilmu dakwah yang sangat handal.


Salah seorang anaknya, Kolonel Dahlan Djambek, telah dibunuh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) saat PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) telah menyerah kepada Jakarta awal 1960-an. Tambahan perkataan Djambek untuk syekh ini adalah karena ia senang memanjangkan janggut dan kumis sampai di usia lanjutnya, ketika seluruh jambangnya telah memutih. Perjalanan hidup tokoh ini penuh rona dan drama, dan jika di­filmkan akan memancarkan sinyal pendidikan dan kearifan yang memukau.

Sosok syekh besar ini perlu ditampilkan lagi sekarang, saat pihak keluarga, para murid, dan simpatisannya sedang berupaya me­renovasi surau/pesantren yang dibangunnya sekitar seabad yang lalu agar berfungsi kembali secara efektif. Sebuah panitia yang diketuai cucunya, Sudirman Suwin, S.E., awal Februari 2008, mengadakan berbagai kegiatan, seperti seminar 100 Tahun Syekh Djambek, bedah buku, dan tabligh akbar. Semuanya ini bertujuan, di samping menghimpun dana untuk renovasi, juga yang terpenting untuk menggali kembali semangat pembaruan dan perjuangan syekh yang cukup fenomenal. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau syekh, Kampung Tengah Sawah, Pasar Bawah, Bukittinggi.

Mengapa tokoh ini patut dikenang? Jauh sebelum tampil sebagai alim besar yang disegani, Muhammad Djamil adalah seorang petualang liar yang menyebabkan ayahnya, seorang alim, hampir putus asa. Saat berusia 20-an, Djamil adalah seorang ‘parewa’ dengan segala tabiat buruk yang melekat pada dirinya. Dia ahli sihir, pemabuk, dan bahkan suka mencuri.

Petualangan ini dilakukannya selama 10 tahun, kemudian karena terselamat dari gebukan orang kampung sewaktu akan mencuri, ia kemudian insaf; ia bersembunyi di dalam kolom yang ditutupi rumput air yang di Minangkabau disebut banto. Dari kolam tempat menyelamatkan diri inilah kesadaran itu muncul pada diri Djamil, semakin lama semakin kental dan kuat untuk kembali ke jalan yang benar: beragama secara sungguh-sungguh. Bukankah ini sebuah drama yang sarat dengan sinyal moral?

Ringkas cerita, setelah ayahnya yakin betul anaknya sudah tobat, tahun 1894, saat usia Djamil telah menginjak 34 tahun, dibawa ke Mekkah untuk berhaji dan mencari ilmu. Djamil belajar di kota itu selama sembilan tahun sampai ia sudah menguasai ilmu-ilmu seperti yang tersebut di atas dengan membawa semangat juang yang mendidih untuk membebaskan kaumnya dari segala bentuk kemusyrikan, takhayul, bidah, dan khurafat, yang menjadi panorama umum di seluruh ranah Minang di awal abad ke-20. Revolusi Padri seperti tidak berbekas lagi di kalangan rakyat banyak. Ajaran tarekat yang mematikan akal pikiran begitu kuat di kalangan umat Islam.

Djamil yang sebelum belajar di Mekkah juga telah mendalami ajaran tarekat Naqsyabandi. Selama di Mekkah, otak dan hati Djamil dicuci, antara lain, oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangbawi, se­orang perantau Minang yang menjadi salah seorang imam di Masjidil Haram, yang pernah juga menjadi guru H. Agus Salim, yang sebelumnya nyaris saja akan menjadi seorang ateis. Dengan bekal ilmu agama inilah kemudian Syekh Muhammad Djamil Djambek bersama dengan Syekh Dr. Abdul Karim Amrullah, Dr Abdullah Ahmad, dan masih ada yang lain, mengadakan revolusi pemikiran yang sempat menghebohkan ranah Minang. Di ujung perjalanan mereka berhasil.

Tak berbeda dengan gerakan pembaruan di seluruh Dunia Islam, mula-mula dimusuhi, dicaci-maki, bahkan dikafirkan, tetapi karena berangkat dari keyakinan yang mendalam, akhirnya secara diam-diam diikuti. Dan, seluruh karier Djambek sampai wafatnya tahun 1947 membuktikan semuanya ini. Minangkabau telah ter­cerahkan. Maka, mengingat jasanya yang luar biasa itu Syekh Djamil Djambek telah dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama pada 7 Agustus 1995, oleh Presiden Soeharto, tiga tahun sebelum meletakkan jabatannya sebagai presiden RI kedua.

Dalam artikel di Republika tersebut saya sudahi dengan ung­kapan, “… saya berharap agar upaya menghidupkan kembali Djambek dalam semua dimensinya dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak kepalang tanggung. Djambek adalah sebuah mutiara yang teramat mahal untuk dijadikan cermin. Kita semua akan sangat rugi, jika mutiara ini tetap saja dibiarkan terbenam dalam kultur am­nesia kolektif yang tengah menghinggapi bangsa ini sejak be­berapa dasawarsa terakhir. Djambek adalah cermin untuk kita semua….”

Maka, harapan itu agaknya sekarang sudah terpenuhi dengan mengenal panjang lebar kisah perjuangan K.H. Fuad Affandi dalam buku ini.

Adakah hubungannya Syekh Djambek dengan Kiai Fuad?

Dari silsilah biologis memang tidak ada. Kiai Fuad, se­bagaimana ditulis dalam buku ini, secara biologis masih bergaris keturunan Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo dari Cirebon. Dari sisi keilmuan juga tidak sama persis, Syekh Djambek berguru ke Mekkah, Kiai Fuad berguru ke beberapa pesantren di Tanah Jawa dan mengembangkan tradisi keilmuan secara otodidak. Tetapi di luar itu, ada banyak kesamaan di antara keduanya.

Pertama, tentu saja dalam hal jenggotnya. Kedua, seperti Syekh Jambek, masa remaja Kiai Fuad juga sempat merepotkan ke­luarganya karena seringnya membangkang adat kebiasaan orang tuanya yang feodalistis dan anti kemajuan. Hanya saja Kiai Fuad tidak sampai memiliki pengalaman menjadi penyihir, mencuri, dan mabuk.

Ketiga, baik Syekh Djambek maupun Kiai Fuad sama-sama gemar berpetualang, memiliki etos kerja yang ulet, “memuja” ilmu pengetahuan dan memiliki keberanian melakukan perubahan sebagai pelopor. Kisah perjuangan Kiai Fuad di kawasan pedalaman Pasundan yang terekam secara akrobatik dalam buku ini meng­ingatkan akrobat Syekh Djambek. Bahkan tradisi derma sosial keluarga Syekh Djambek dengan keluarga Kiai Fuad nyaris sama persis.
Keempat, sebagaimana Syekh Djambek, Kiai Fuad juga pernah beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Pemerintah; di antaranya ialah Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI Bachrudin Jusuf Habibie (2001), Kalpataru dari Presiden Megawati Sukarno Putri untuk Kategori penyelamat Lingkungan (2003), Penghargaan Organisasi Sosial Berprestasi oleh Kementerian Pertanian (2005), Penghargaan dari Bank Danamon (Danamon Award) Kategori penghargaan Nirlaba (2007) dan sejumlah piagam penghargaan lain.
Seperti Syekh Djambek pula, Kiai Fuad banyak melakukan pembaruan keagamaan dan pembaruan sosial. Sekalipun latar belakang pendidikannya tradisional, Kiai Fuad memiliki sejumlah nalar ijtihadi yang kuat sehingga mampu mengubah tradisi yang kurang baik dan mentradisikan unsur baru yang lebih baik. Pembaruan demi pembaruan yang dilakukan Kiai Fuad selama 39 tahun melayani umat di kawasan Bandung Selatan itu paling tidak menegaskan bahwa masih ada masa depan yang baik manakala para pemimpin umat benar-benar serius berjuang, rela berkorban dan “memilih” garis perjuangan yang paling mendasar untuk di­perjuangkan umat Islam saat ini.

Apakah yang mendasar tersebut? Ialah memberdayakan kaum petani/buruh tani melalui pola pertanian modern dan ramah lingkungan. Kiai Fuad sekalipun hanya jebolan kelas IV Sekolah Rakjat, sepertinya sedang mencambuk para intelektual di kampus-kampus yang selama ini lebih banyak bicara dan kurang bekerja bersama petani. Kita tahu, kaum tani, seperti juga kaum nelayan dan buruh-buruh kecil di Indonesia adalah elemen masyarakat yang sampai sekarang belum mendapatkan hak-hak hidupnya. Dengan mengambil jalan penyatuan dengan kaum bawah di Kaki Gunung Patuha itu, perjuangan Kiai Fuad tidak hanya dinikmati oleh keluarganya sendiri melainkan oleh ribuan kaum tani. Bahkan sekarang Pesantren Al-Ittifaq menjadi salah satu sarana studi pertanian dari berbagai daerah.

Islam Sebagai Amal

Sikap toleran, moderat, dan penuh semangat menggelorakan kerja keras dan belajar adalah sebuah pesona indah, seindah mutiara Djambek yang telah memberikan kontribusi perubahan di Tanah Minang. Islam adalah agama amal, Kiai Fuad telah banyak meng­amalkan nilai Islam tersebut. Itulah amal saleh yang sejati, yang meliputi semua perbuatan yang dicintai Allah, fisikal maupun spiritual, material, dan immaterial.

Dengan demikian, radius cakupannya sungguh luas hampir tanpa tepi. Orang yang mengira bahwa amal saleh itu hanyalah se­kadar mengisi infaq di saat shalat Jumat, jelas tidak paham subs­tansi amal saleh. Dengan kata lain, amal saleh dalam makna filosofis tidak lain daripada membangun peradaban yang adil dan asri untuk semua makhluk di muka bumi, tanpa kecuali, termasuk untuk mereka yang tidak beriman. Al-Ittifaq dengan ratusan anggota koperasinya yang terdiri dari para petani telah membuktikan bahwa pembangunan peradaban bisa dilakukan oleh paradigma amal saleh.

Islam yang diamalkan Kiai Fuad adalah Islam yang lurus karena menyandarkan paradigma kerja keras untuk meraih hasil. Ia me­nolak tangannya berada di bawah karena kemuliaan manusia saat tangannya berada di atas dengan cara menyantuni mereka kaum mustadh‘afîn. Etos kerja masyarakat kita yang kurang giat diubah menjadi tradisi kerja keras. Keberaniannya mengkritik kemalasan orang-orang sekitarnya dengan menyebut Kabayan mungkin saja menyinggung sebagian kalangan di masyarakat Pasundan. Tetapi karena kepercayaan masyarakat terhadapnya teramat besar, kritik-kritik yang tajam tidak menjadikan masyarakat kecewa. Mereka sadar apa yang dikatakannya sebuah kebenaran sekalipun pahit adanya. Kritik pahit itu menjadi obat mujarab untuk mengusir penyakit malas yang menimpa masyarakat ini.

Minatnya terhadap kajian budaya melalui cara penafsiran simbolis atas sejarah (Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Syekh Siti Jenar) sekilas memang menyederhanakan kom­pleksitas masa lalu. Namun karena Kiai Fuad kreatif dan mahir menyerap ‘simbol-simbol” tersebut, ia tidak salah langkah. Salah satu hal yang menarik misalnya ialah penolakannya terhadap Islam Madzab Kudus. Kita tahu, bagaimana pun juga Sunan Kudus di kalangan kaum Nahdliyin masih dianggap tokoh teladan bahkan jauh dari kritik. Oleh Kiai Fuad pandangan Sunan Kudus tersebut diserap secara mendalam dan akhirnya disimpulkan memiliki sejumlah cacat. Islam kaffah yang kemudian sering disalahpahami oleh golongan Muslim literal sebagai “serba Islam” itu ditentangnya dan dirinya memilih jalan Islam substansial.

Dalam buku ini diceritakan, Kiai Mansyur, kakek Kiai Fuad adalah salah seorang kiai yang terlibat memasok dana DI/TII, sementara Kiai Fuad sendiri menolak konsep negara Islam dan lebih percaya pada konsep “masyarakat Islami”. Pembaruan pemikiran dan aksi inilah yang memungkinkan masyarakat lebih dinamis dan me­miliki masa depan yang lebih baik dengan memilih jalan kehidupan melalui belajar sungguh-sungguh dan bekerja secara tekun untuk meraih kesejahteraan hidup. Secara tidak langsung Kiai Fuad sudah memberi kontribusi meminimalisasi radikalisme di ling­kungan sekitarnya, terlebih lagi karena keberadaannya di Jawa Barat yang nota bene banyak pesantren di zaman dulu yang mewarisi ideologi radikal.

Sekalipun pola pikir Kiai Fuad jauh dari teori-teori akademis, namun di situlah letak nilai lebihnya. Ia seorang kiai tradisional yang berpikir kritis, anti literalisme dan anti formalisme. Cara pandang kreatif ini mengantarkan kepribadian Kiai Fuad sebagai seorang alim moderat; luas bergaul dengan warga non-Muslim, dan lebih menarik dari itu ialah bahwa dirinya tidak alergi terhadap arus pemikiran dari mana pun, termasuk minat mengkaji sumber agama dan ajaran ideologi di luar Islam.

Membaca buku yang berisi banyak penafsiran Islam ala Kiai Fuad, rasanya tidak salah kita berkaca dari sumber utama Islam, Al-Quran. Mengapa Al-Quran? Karena Al-Quran masih setia bersama kita, seharusnya kita pun menunjukkan kesetiaan yang dalam dan sungguh-sungguh kepada Kitab Suci ini dengan me­mahaminya secara cerdas, jujur, tulus, dan bertanggungjawab, sehingga fungsi­nya sebagai hudal-lin-nâs (petunjuk bagi manusia), syifâ’ (obat penawar), nûr (cahaya), rahmah (rahmat), dan furqân (kriterium pem­beda) akan dapat dibawa turun ke bumi. Tujuan jangka panjangnya adalah terciptanya sebuah bangunan peradaban yang asri, toleran, kreatif, dan damai untuk kebahagiaan seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Kiai Fuad dengan gerakan pertanian, pendidikan, tafsir budaya serta sikap humanismenya telah melakukan hal itu.

***

Pada akhirnya saya harus menyatakan apa yang dilakukan Kiai Fuad dengan kendaraan Al-Ittifaq-nya itu telah berhasil mempelopori serta berkiprah dalam proses perubahan sosial pada tingkat masya­rakat akar rumput (grassroots). Pemberian nama Pondok Pesantren dengan “Al-Ittifaq” yang diartikan secara substansial sebagai “kerjasama” sangat relevan dengan kenyataan masyarakat kita yang majemuk. Istilah ini tidak sekadar slogan, melainkan diamalkan secara sung­guh-sunguh dan konsisten sehingga Kiai Fuad mampu menjem­batani kemajemukan, baik agama, etnik, maupun budaya untuk mengangkat martabat kemanusiaan serta kepeloporannya memberi manfaat bagi komunitas/masyarakat di tingkat akar rumput.

Sebuah buku yang layak dibaca oleh para kaum tani, aktivis pemberdaya sosial, para kiai, cendekiawan dan siapa saja yang meng­inginkan perubahan secara bersama. Faiz Manshur sampai batas-batas yang jauh telah berhasil menghadirkan sosok Kiai Fuad dengan segala kiprahnya untuk kepentingan masyarakat luas. Selamat mengikuti karya ini![]

Baca lebih lanjut buku Pesantren Agribisnis: Kisah Suskses Mang Haji Fuad dari Gunung Patuha karya Faiz Masnshur (Penerbit Nuansa, 20015)

pesantren agribisnis slider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *