Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Syukurkah Kita atau Kufur?

Syukurkah Kita atau Kufur?

Seperti kita maklumi, tugas kita dalam hidup di dunia ini adalah ibadah kepada Allah. Ibadah yang diembankan Allah pada kita sesungguhnya adalah untuk menguji kita, sejauh manakah syukur kita kepada-Nya. Mengapa? Karena ibadah kepada Allah merupakan bentuk syukur kepada-Nya. Semakin besar syukur seseorang makin baik ibadahnya. Inilah firman Allah, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS al-Mulk: 2)

Sebaliknya, orang yang kurang bersyukur akan kurang pula ibadahnya. Terlebih jika ia kufur maka ia pun enggan ibadah pada-Nya. Bahkan tak sedikit mereka yang menafikan keberadaan-Nya.

Inilah dua jalan yang ditawarkan Allah pada kita. Apakah kita akan menjadi orang yang bersyukur atau orang yang kufur. Masing-masing jalan yang kita tempuh ada konsekuensinya. Allah berfirman, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah (nikmat) padamu, dan jika kamu ingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih. (QS Ibrahim: 7)

Hendaklah kita memilih jalan syukur, karena begitu banyak nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kalau kita memilih jalan syukur maka hendaklah kita sungguh-sungguh dalam ibadah kepada-Nya, karena hanya dengan ibadahlah kita dapat mewujudkan syukur kita kepada-Nya.

Saking banyaknya nikmat Allah, kita tidak mampu menghitungnya: wa in ta’uddû ni’matallâhi lâ tuhshûhâ (dan jika kau hitung nikmat Allah, taklah kau dapat menghitungnya)—QS Ibrahim: 4.

Saking banyaknya nikmat Allah, kita lupa bahwa nikmat itu adalah nikmat. Kita akan menganggap anugerah Allah sebagai nikmat ketika nikmat itu jarang kita dapatkan, dan umumnya kita menganggap nikmat itu berupa limpahan materi. Misalnya, saat kita mendapat uang dalam jumlah besar tanpa disangka-sangka maka kita anggap itulah nikmat, dan karenanya kita lalu bersyukur. Padahal banyak nikmat Allah yang jauh lebih besar diberikan pada kita. Namun karena nikmat itu diberikan Allah setiap saat dalam sepanjang umur kita maka kita lupa menghitungnya sebagai nikmat. Ketika limpahan nikmat itu tiba-tiba terhenti, barulah kita sadari keberadaannya sebagai nikmat.

Ketika kita lahir secara normal, lengkap dengan pancaindera, maka secara bertahap kita bisa melihat, mendengar, mengecap, mencium, dan meraba. Kelima kemampuan itu dianugerahkan Allah pada kita sepanjang hidup kita. Karena kemampuan itu kita miliki dan kita rasakan sejak kecil, maka kita tidak menganggapnya sebagai nikmat. Namun bila salah satu kemampuan itu dicabut oleh Allah, barulah kita sadar betapa tak terhingga nilainya. Ketika tiba-tiba kita sakit mata, misalnya, apalagi bila sampai menjadi buta, barulah kita sadar betapa besar nikmat penglihatan. Ketika tiba-tiba fungsi pendengaran kita terganggu atau bahkan menjadi tuli maka saat itulah kita sadar betapa anugerah itu tak tergantikan. Demikian seterusnya dengan nikmat-nikmat lainnya.

Atas semua nikmat itu, Allah tidak menghendaki balasan dan imbalan. Apa sih yang kita miliki untuk membalas nikmat-nikmat-Nya pada kita? Sekiranya kita bisa membalas pun, Allah tidak butuh, karena Dia Mahakaya dan tidak butuh apa pun dari ciptaan-Nya. Ketika Dia menyuruh kita bersyukur dan beribadah kepada-Nya, itu bukan untuk kepentingan-Nya. Itu semua untuk kita juga. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebagai wujud syukur dan ibadah kita kepada Allah adalah untuk kita sendiri, karena kebaikan-kebaikan itu akan kembali lagi kepada kita.

Kita tentu menginginkan kebaikan dalam segala hal. Kita senang diperlakukan baik oleh orang lain. Kita juga senang bila dihargai, dimuliakan dan dihormati. Namun mesti kita ingat, tidak mungkin kita mendapatkan kebaikan dari orang lain kalau kita tidak mau berbuat baik kepada orang lain. Dalam kehidupan kita sesama manusia selalu ada imbal-balik. Jika imbal-balik ini terjadi dalam kebaikan maka akan tercipta ketenangan dan kedamaian.

Imbal-balik juga terjadi antara manusia dan Allah Swt. Allah limpahkan kebaikan dan nikmat pada manusia, dan sebagai imbal-baliknya, Allah menuntut kita bersyukur pada-Nya. Tapi hebatnya, Allah Yang Maha membalas kebaikan (Asy-Syakûr) akan membalas lagi syukur kita pada-Nya. Setiap syukur kita dibalas Allah dengan tambahan nikmat-Nya: la azîdannakum (sungguh akan Kutambah nikmat untuk kalian)—QS Ibrahim: 7.

Allah juga melihat niat dan iktikad baik kita kepada-Nya: ana ‘inda zhanni ‘abdî bî (Aku menurut prasangka hamba-Ku pada-Ku). Jika kita berprasangka baik kepada Allah maka akan Dia limpahkan kebaikan pada kita. Dalam Al-Quran, Allah nyatakan bahwa tindakan-Nya pada manusia sesuai dengan sikap manusia pada-Nya: jika kamu menolong Allah niscaya Dia menolongmu (QS Muhammad: 7);  ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu (QS al-Baqarah: 157).

Seperti disebut dalam surah al-Mulk ayat 2 di atas, hidup kita adalah ujian dari Allah. Jika kita lewati ujian ini dengan perbuatan baik untuk meraih ridha-Nya, kita akan dibalas lebih baik dan lebih banyak. Allah berfirman, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir ada seratus biji. Allah lipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS al-Baqarah: 261). Atau dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sejengkal, Aku mendekat padanya sehasta; jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa. Jika ia mengingat-Ku dalam kesendirian, Aku mengingatnya di tengah keramaian.” Wallâhu a’lam**

Sebaliknya, orang yang kurang bersyukur akan kurang pula ibadahnya. Terlebih jika ia kufur maka ia pun enggan ibadah pada-Nya. Bahkan tak sedikit mereka yang menafikan keberadaan-Nya.

Inilah dua jalan yang ditawarkan Allah pada kita. Apakah kita akan menjadi orang yang bersyukur atau orang yang kufur. Masing-masing jalan yang kita tempuh ada konsekuensinya. Allah berfirman, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah (nikmat) padamu, dan jika kamu ingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih. (QS Ibrahim: 7)

Hendaklah kita memilih jalan syukur, karena begitu banyak nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kalau kita memilih jalan syukur maka hendaklah kita sungguh-sungguh dalam ibadah kepada-Nya, karena hanya dengan ibadahlah kita dapat mewujudkan syukur kita kepada-Nya.

Saking banyaknya nikmat Allah, kita tidak mampu menghitungnya: wa in ta’uddû ni’matallâhi lâ tuhshûhâ (dan jika kau hitung nikmat Allah, taklah kau dapat menghitungnya)—QS Ibrahim: 4.

Saking banyaknya nikmat Allah, kita lupa bahwa nikmat itu adalah nikmat. Kita akan menganggap anugerah Allah sebagai nikmat ketika nikmat itu jarang kita dapatkan, dan umumnya kita menganggap nikmat itu berupa limpahan materi. Misalnya, saat kita mendapat uang dalam jumlah besar tanpa disangka-sangka maka kita anggap itulah nikmat, dan karenanya kita lalu bersyukur. Padahal banyak nikmat Allah yang jauh lebih besar diberikan pada kita. Namun karena nikmat itu diberikan Allah setiap saat dalam sepanjang umur kita maka kita lupa menghitungnya sebagai nikmat. Ketika limpahan nikmat itu tiba-tiba terhenti, barulah kita sadari keberadaannya sebagai nikmat.

Ketika kita lahir secara normal, lengkap dengan pancaindera, maka secara bertahap kita bisa melihat, mendengar, mengecap, mencium, dan meraba. Kelima kemampuan itu dianugerahkan Allah pada kita sepanjang hidup kita. Karena kemampuan itu kita miliki dan kita rasakan sejak kecil, maka kita tidak menganggapnya sebagai nikmat. Namun bila salah satu kemampuan itu dicabut oleh Allah, barulah kita sadar betapa tak terhingga nilainya. Ketika tiba-tiba kita sakit mata, misalnya, apalagi bila sampai menjadi buta, barulah kita sadar betapa besar nikmat penglihatan. Ketika tiba-tiba fungsi pendengaran kita terganggu atau bahkan menjadi tuli maka saat itulah kita sadar betapa anugerah itu tak tergantikan. Demikian seterusnya dengan nikmat-nikmat lainnya.

Atas semua nikmat itu, Allah tidak menghendaki balasan dan imbalan. Apa sih yang kita miliki untuk membalas nikmat-nikmat-Nya pada kita? Sekiranya kita bisa membalas pun, Allah tidak butuh, karena Dia Mahakaya dan tidak butuh apa pun dari ciptaan-Nya. Ketika Dia menyuruh kita bersyukur dan beribadah kepada-Nya, itu bukan untuk kepentingan-Nya. Itu semua untuk kita juga. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebagai wujud syukur dan ibadah kita kepada Allah adalah untuk kita sendiri, karena kebaikan-kebaikan itu akan kembali lagi kepada kita.

Kita tentu menginginkan kebaikan dalam segala hal. Kita senang diperlakukan baik oleh orang lain. Kita juga senang bila dihargai, dimuliakan dan dihormati. Namun mesti kita ingat, tidak mungkin kita mendapatkan kebaikan dari orang lain kalau kita tidak mau berbuat baik kepada orang lain. Dalam kehidupan kita sesama manusia selalu ada imbal-balik. Jika imbal-balik ini terjadi dalam kebaikan maka akan tercipta ketenangan dan kedamaian.

Imbal-balik juga terjadi antara manusia dan Allah Swt. Allah limpahkan kebaikan dan nikmat pada manusia, dan sebagai imbal-baliknya, Allah menuntut kita bersyukur pada-Nya. Tapi hebatnya, Allah Yang Maha membalas kebaikan (Asy-Syakûr) akan membalas lagi syukur kita pada-Nya. Setiap syukur kita dibalas Allah dengan tambahan nikmat-Nya: la azîdannakum (sungguh akan Kutambah nikmat untuk kalian)—QS Ibrahim: 7.

Allah juga melihat niat dan itikad baik kita kepada-Nya: ana ‘inda zhanni ‘abdî bî (Aku menurut prasangka hamba-Ku pada-Ku). Jika kita berprasangka baik kepada Allah maka akan Dia limpahkan kebaikan pada kita. Dalam Al-Quran, Allah nyatakan bahwa tindakan-Nya pada manusia sesuai dengan sikap manusia pada-Nya: jika kamu menolong Allah niscaya Dia menolongmu (QS Muhammad: 7);  ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu (QS al-Baqarah: 157).

Seperti disebut dalam surah al-Mulk ayat 2 di atas, hidup kita adalah ujian dari Allah. Jika kita lewati ujian ini dengan perbuatan baik untuk meraih ridha-Nya, kita akan dibalas lebih baik dan lebih banyak. Allah berfirman, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir ada seratus biji. Allah lipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS al-Baqarah: 261). Atau dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sejengkal, Aku mendekat padanya sehasta; jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa. Jika ia mengingat-Ku dalam kesendirian, Aku mengingatnya di tengah keramaian.” Wallâhu a’lam**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *