Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Menangislah...

Menangislah…

Oleh Hasan bin Muhammad Bamu’aibad

Tangis adalah suatu kondisi yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain. Tangis tidak sekadar bertalian dengan kesedihan saja, tapi ia juga berhubungan dengan kegembiraan. Tangis adalah sebentuk tanda alami yang difitrahkan oleh Allah dan merupakan sebuah manifestasi dari berfungsinya jiwa manusia.

Dengan bentuknya yang vital dan kontradiksional, tangis memiliki berbagai manfaat yang beragam, sebagaimana ketika menangis dan tertawa atau ketika jiwa dalam situasi tertekan (depresi). Air mata tidak akan mengucur kecuali ada fungsi penting untuk menyelamatkan mata, tidak saja dari berbagai racun tetapi membantu badan dalam membuang toksin (kotoran) sehingga pada gilirannya bisa menimbulkan ketenangan jiwa.
Al-Quran telah menyitir tangis di beberapa tempat dan memuji orang-orang yang menangis yang timbul dari makrifat (kenal) kepada Allah dan takut kepada-Nya.

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Qs al-Isrâ’: 109)

Ini sebuah puncak penghargaan Al-Quran dalam menggambarkan, memuji, dan memberikan hak kepada semua orang yang berilmu serta mengamalkannya.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Ada tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah di saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya….(di antaranya disebutkan) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu menderaslah air mata dari kedua kelopak matanya.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar Ra juga berkata, “Dan telah tersurat tangis yang timbul dari perasaan takut kepada Allah, sesuai dengan lafal terjemah hadis Abu Raihanah bahwa neraka haram bagi mata yang menangis karena takut kepada Allah.” (Hr Ahmad & Nasa’i, dan disahihkan oleh Al-Hakim).

Dalam menafsirkan ayat, “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Qs Maryam: 58) Ibnu Katsir berkata, ‘Mereka sujud kepada Tuhan mereka dengan penuh rendah diri (khudhu‘), tenang, sembari memuji syukur atas nikmat-nikmat agung yang dikaruniakan kepadanya. Karenanya para ulama sepakat atas disyariatkannya sujud untuk mengikuti mereka dengan cara mereka pula.

Di masa sekarang ini menangis merupakan suatu kebutuhan bagi kaum laki-laki dan perempuan karena memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.

Menangis bukan menunjukkan sebuah bukti kelemahan atau ketidakmatangan pribadi, tetapi ia adalah sebuah terapi kesehatan yang cukup bermanfaat untuk dipergunakan dalam menghadapi pelbagai penyakit yang berbahaya. Menangis sangat cocok sebagai tawaran-tawaran (bargaining) seperti:

  • Menangis adalah suatu cara alami untuk membuang zat-zat berbahaya dalam tubuh dan menyaringnya di saat orang sedang mengalami kecelakaan atau kecemasan.
  • Lemak mata bertugas menyaring zat-zat kimia bagi air mata yang akan menenangkan rasa sakit.
  • Menangis akan menambah debaran hati dan dianggap sebagai latihan yang efektif bagi katup yang selama ini menyelubungi dan juga berguna bagi otot dada maupun kedua bahu. Setelah menangis debaran hati akan pulih kembali dan normal, sehingga otot terasa kendor dan perasaan menjadi tenang.
  • Jika berdomisili di suatu tempat di mana tangis menjadi kebiasaan dan dapat diterima secara sosial, maka demi kesehatan, jangan ragu untuk menangis dan melepaskan diri dari perasaan sedih dan emosi yang terpendam. Ini merupakan kesimpulan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Universitas Temple, Amerika Serikat. Universitas itu telah mengadakan riset seputar kebiasaan menangis terhadap 100 orang perempuan yang terkena penyakit bisul dan 100 orang perempuan yang tidak menderita penyakit ini. Diperoleh keterangan bahwa para perempuan yang terkena penyakit bisul itu memandang bahwa tangis adalah sebagai sebuah bukti dari kelemahan. Karenanya mereka memiliki kecenderungan untuk menahan perasaan. Sementara para perempuan yang tidak berpenyakit yang sama memandang bahwa tangis itu sebagai sebuah perkara alami belaka jika memang di sebuah tempat dianggap sebagai hal yang lumrah.
  • Sebuah studi yang cukup cerdas yang dilakukan oleh Dr. William Attase Ferry di pusat penelitian mata dan air mata, Santa Bool Rames Medical Centre, yang menyatakan bahwa menangis itu berguna untuk kesehatan jiwa dan perasaan, dan adalah hal yang keliru jika seseorang dianjurkan menahan tangis sementara yang bersangkutan butuh menangis.

Dr. Ferry mengatakan, “Sebetulnya air mata itu berguna untuk membersihkan mata dan memainkan peranan penting bagi kehidupan dalam upaya meringankan diri dari ketegangan jiwa yang mungkin timbul akibat berbagai penyakit yang gawat, seperti radang usus (tifus), tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakit bisul yang terus-menerus mengalirkan nanah kental.”

Dokter itu juga mengaitkan antara perasaan tegang dan air mata dengan cara menganalisa ribuan tetes air mata. Ditemukan air mata-air mata itu mengandung hormon yang diproduksi oleh tubuh pada jiwa sedang tegang. Karenanya ketika menangis, maka hormon ketegangan itu menghilang dan pada gilirannya kita akan merasa kembali baik.

Dalam studinya itu Dr. Ferry menganjurkan agar kita menangis sambil menganggap perlu untuk melupakan pandangan (minor) masyarakat mengenai masalah air mata. Menangis bukan suatu aib atau kekeliruan serta tidak ada keharusan agar sepanjang waktu kita menjadi orang yang kuat, sehingga menahan diri untuk tidak mencucurkan air mata secara alami.

  • Sebuah studi medis memperkuat temuan tersebut, bahwa ternyata 85% dari perempuan dan 73% kaum lelaki itu merasa rileks setelah menangis. Senada dengan pendapat Dr. Ferry yang mensinyalir bahwa kesedihan itu menuntut separuh dari kuantitas air mata yang dicucurkan, di mana pada saat senang hanya menuntut 20%-nya, kemudian pada gilirannya ada dalam kemarahan dan emosi.
  • Dr. Brain Duth, konsultan penyakit jiwa dan penulis buku “Makân âmin li al-Bukâ’, di tengah-tengah ujicobanya yang selama 15 tahun menemukan bahwa ketidakmampuan menangis menjadi penyebab di balik sejumlah penyakit dari pasien yang ia tangani.
  • Para ilmuwan menganalisa air mata dan menemukan bahwa air mata itu mengandung 25% protein dan sebagian zat besi, khususnya magnesium suatu zat beracun yang dikeluarkan saat menangis.
  • Penelitian lain dilakukan Dr. Ferry di Inggris yang sampai pada kesimpulan bahwa perempuan menangis 65 kali dan laki-laki 15 kali dalam setahun. Akan tetapi keduanya menangis dalam waktu yang sama, yaitu ketika keluar dari rahim ibunya. Di bawah asuhan dokter, keduanya didorong untuk menangis, mau atau tidak.

Sementara itu seorang spesialis mata, Dr. Muhammad Abdul Latif Balthiah, menyatakan air mata mempunyai manfaat yang banyak seperti membantu kelangsungan gerak kelopak mata atas dan bawah selain juga membantu melindungi dan membersihkannya secara terus-menerus, menjaganya dari kekeringan, dan untuk menyingkirkan benda yang menggangu mata seperti cabe, asap, atau debu.

Mata akan berfungsi dengan perantaraan perangkat air mata, yaitu dengan mencucurkan air mata dan menjauhkan benda-benda asing supaya ia tetap kembali jernih dan bersih.

Sebagaimana air mata berfungsi untuk menjernihkan kornea dan menjaganya dari kekeringan, ia juga merupakan salah satu faktor yang membantu kejelasan pandangan serta memperkuat dan mempertajam penglihatan.

Dr. Balthiah berpendapat bahwa perangkat air mata dibentuk dari organ primer dan sekumpulan organ lain berupa organ skunder guna menyaring air mata yang membasahi permukaan mata. Kantong air mata berfungsi mendistribusikan air mata yang berlebih supaya perangkat itu bisa menjalankan fungsinya secara sempurna dengan menyaring kondisi air mata yang lengket di bagian atas rongga tulang mata, sehingga mata terselamatkan dari kadar air mata berlebih dengan cara membuka saluran air mata yang ada di kedua sisi kelopak mata atas dan bawah.

  • Para ilmuwan kedokteran penyakit jiwa berpendapat bahwa air mata efektif untuk mengobati terjepitnya saraf yang dihadapi oleh laki-laki dan perempuan di masa sekarang yang diakibatkan oleh problem kehidupan. Maka air mata berfungsi mencuci dan membersihkan mata serta mengosongkannya dari muatan-muatan beracun yang ditimbulkan karean ketegangan jiwa serta saraf dan pengaruh dari sejumlah reaksi.
  • Menahan air mata menimbulkan peracunan secara bertahap. Karena air mata mengeluarkan zat beracun dari tubuh, maka menahannya akan menjadi peracunan secara bertahap. Dan secara fitrah perempuan memiliki kesiapan (mental) yang melebihi laki-laki, maka perempuan biasanya umurnya relatif lebih panjang dibanding laki-laki yang salah satunya dikarenakan pengeluaran racun tubuh dengan cara menangis.

Arthur Fronk dalam sebagian besar penelitiannya mengemukakan nasihat untuk perempuan, agar mereka tidak menahan air mata dan tidak menunda-nunda tangis saat menghadapi persoalan apapun karena terkadang tangis adalah sebagai sebuah solusi.

Tapi, apakah tangis bagi laki-laki adalah aib dan mengurangi maskulinitas? Banyak yang meyakini menangis bagi laki-laki itu adalah sebagai kelemahannya dan kebanyakan dari laki-laki mengikuti pemahaman umum yang pantang untuk menangis ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengharuskannya menuntut menangis. Ada hal yang dilupakan, bahwa laki-laki juga makhluk hidup yang memiliki kebutuhan untuk mengungkapkan rasa dan perlu dalam menghilangkan rasa sedih. Karenanya menangis bagi laki-laki bukan merupakan aib atau kelemahan, karena jika ia tidak menangis atau tidak mengungkapkan kesedihannya, ini berarti menahan banyak hal yang ada di dalam dirinya.

Seringkali memang perempuan menangis melebihi laki-laki, namun ada beberapa momen di mana antara keduanya tidak berbeda seperti misalnya pada saat meninggalnya orang-orang dekat atau harus berpisahnya dengan orang yang di kasihi.

Tangis tidak bisa sekadar dianggap sebagai bagian dari reruntuhan masa lalu yang pura-pura harus ditangisi atau bersikap masa bodoh. Tapi menangis merupakan bagian dari masa kini dan pembidik masa depan setelah diketahui memiliki banyak manfaatnya bagi kesehatan serta sebagai penyembuh untuk berbagai macam penyakit. Menangis pada gilirannya akan menjadi kebutuhan dan tuntutan bagi manusia di segala waktu dan tempat.

Di sini letak kerja penulisan buku ini. Buku ini mengungkap berbagai pengamatan ilmiah, mengidentifikasi bermacam problem dan pemikiran di sekitar tangis dan mata. Dan pada aspek kesehatan tentang berapa pentingnya air mata untuk mengobati penyakit, baik penyakit ringan, sedang, atau berat. Dengan demikin penulisan dari buku ini menuntut untuk menyelami berbagai studi kedokteran spesialis, baik tradisional dan modern. Kami teliti dan selami kedalamannya dengan sebuah tuntutan: pemikiran yang sederhana dan simpel sehingga mudah untuk diterapkan dan kemudian seseorang bisa menjadi dokter bagi dirinya sendiri.

Buku ini adalah hasil dari kerja bersama dan mengupayakan untuk menjadi penghubung antara arus pemikiran Timur dan Barat di seputar masalah tangis dan air mata, dengan berpijak di atas kode etik pengamatan ilmiah dan kedokteran. Selain itu, buku ini juga menawarkan puluhan kiat pengobatan sukses dalam mendiagnosa berbagai penyakit sehingga akan menjadi obat dan penawar. Kertas kerja ini mengusung harapan; semoga bisa menjadi sebuah pelita yang menerangi para peneliti dan pembaca buku kedokteran bedah dan menjadi sumbangsih bagi masyarakat luas.[]

Baca lebih lanjut buku Air Mata Jiwa karya Hasan bin Muhammad Bamu’aibad  (Penerbit Marja, 2012)

air mata jiwa 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *