Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu

Roland Barthes

Di keningmu kamu menidurkanku. Seperti ada bahasa yang menjadi penjara hingga aku pulas bersama malam. Perjalanan mestinya tidak selesai di ujung gunung. Bukankah telah kuciptakan perahu. “Sebelum subuh kita harus sampai ke laut,” pintamu.

Bahkan aku telah mencatat
seluruh pesanmu pada tiap lekuk
sungai.

Ayahku anjing, dan aku tidak mau menjadi legenda. Biarkan aku menuntaskan sejarah malam ini juga. Hingga di ujungnya aku menemukan bahasa. Lelaki yang pulang dengan cinta, pasti disambut ibunya dengan bahagia. Bukankah ia telah berdoa sepanjang kala. Agar aku tidak menjadi ayah. Anak yang memperkosa ibunya.
Laki-laki yang kau baringkan di alismu, tidak ingin menjadi apa pun, kecuali menjelma pagi yang berembun. Hingga seorang bayi terlahir dari rahim bunga, sehingga engkaulah ibu bagi bumi dan cinta.

Tapi, mengapa kamu bunyikan kentongan itu, hingga pagi terbangun sebelum fajar? “Kita harus memotong sejarah, malam ini juga!” teriakmu. Lantas kamu menghunus sangkur, menyesar malam dengan hasrat dan dendam perawan.

“Pagi pun mati di rawa-rawa itu”*
Seribu anjing melolong di setiap lorong.
Demikianlah, kita mulai menulis silsilah Rani**

tentang dewa-dewa yang menyelinap
ke balik ranjang dan menghunus belati
di bibir pagi.

 
Bandung, 2012

Dikutip dari buku: Rindu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *