Cart

Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Teori Penyebab Kenakalan Anak

Teori Penyebab Kenakalan Anak

Oleh Dr. Abu Huraerah, M.Si.

Teori yang paling banyak dianut pada saat ini untuk memahami penyebab kenakalan anak adalah Teori Penyebab Ganda (Multiple Causation Theory). Friedlander dan Apte dalam Soetarso (2004) menjelaskan bahwa kenakalan tidak disebabkan satu sumber, antara lain faktor heredeter, struktur biologis, atau pengaruh lingkungan, tetapi oleh beranekaragam faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut antara lain heredeter dan biologis: kesehatan yang buruk, cacat fisik, ketidaknormalan, gangguan saraf, berbagai tingkatan gangguan mental termasuk psikosis, instabilitas mental, perasaan selalu tidak aman, dorongan seksual tidak terkontrol, atau perilaku neurotis. Faktor-faktor lingkungan: penelantaran atau penolakan oleh orangtua, anggota keluarga lain atau teman; pengaruh merusak keluarga pecah; sikap kriminal keluarga, tetangga atau kelompok penjahat di daerah kumuh; kemiskinan keluarga; perjudian; pergaulan buruk; pendidikan rendah; kurangnya rekreasi sehat; pengaruh merusak dari TV, radio, koran, cerita kriminal, bioskop dan buku komik.

Sementara itu Muhidin (1997: 57-58) melihat bahwa sebab-sebab dari kenakalan anak sangat kompleks. Sebab-sebab kenakalan anak-anak dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu faktor individu, faktor keluarga, dan faktor masyarakat.

Faktor individu. Termasuk faktor individu adalah kondisi biologis, seperti cacat fisik, kelemahan biologis yang mengakibatkan pertumbuhan dan tingkah laku abnormal. Anak-anak yang mengalami kemunduran mental (mentally retarded) dan pertumbuhan intelegensi di bawah normal, psychopathic, dan neorosa yang memungkinkan anak-anak melakukan tindakan asosial. Bentuk-bentuk lain yang mengakibatkan
tingkah laku kenakalan termasuk ketidakstabilan emosi yang disebabkan oleh rasa rendah diri, temperamen yang tidak terkontrol dan konflik-konflik dalam diri. Sebab-sebab lain dari kenakalan yang termasuk faktor individu adalah kebiasaan pada waktu kecil yang selalu dalam keadaan ketakutan dan penyalahgunaan
alkohol dan narkotika.

Faktor keluarga. Pengaruh negatif dari kehidupan keluarga, seperti perceraian atau perpecahan rumah tangga, adalah anak-anak menjadi terlantar. Anak-anak tidak mendapatkan kasih sayang dan perawatan yang wajar. Keluarga yang selalu bertengkar, tanpa disiplin serta kondisi perumahan yang tidak memadai, kurangnya waktu luang dan rekreasi serta kurangnya pendidikan moral dan agama dalam keluarga, juga menyebabkan kenakalan.

Faktor masyarakat. Pengaruh dari “gang” dan street corner association (kelompok anak jalanan) yang disebabkan oleh kurangnya rekreasi yang sehat dan community centre atau youth centres mendorong anak untuk berkumpul dan berkenalan dengan peminum, penjudi, dan prostitusi. Juga pengaruh negatif dari film, majalah, buku, dan surat kabar dapat mendorong anak untuk melakukan tindakan avonturir.

Mengapa Kekerasan Di Sekolah Terjadi?

Kekerasan di sekolah bisa terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

Pertama, karena kebanyakan guru kita kurang menghayati pekerjaannya sebagai panggilan profesi, sehingga cenderung kurang memiliki kemampuan mendidik dengan benar serta tidak mampu menjalin ikatan emosional yang konstruktif dengan siswa (Mulyadi, 2006).

Kedua, dengan dalih demi kedisiplinan siswa, guru kerapkali kehilangan kesabaran hingga melakukan hukuman fisik, atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan melanggar batas etika dan moralitas, seperti memukul, meninju, dan menendang (kekerasan fisik) serta mengeluarkan kata-kata yang tidak mendidik, yang dapat menyinggung perasaan siswa atau ucapan-ucapan yang dapat mendiskreditkan siswa (kekerasan verbal/kekerasan psikologis/kekerasan emosional), misalnya: sindiran, perkataan seperti kalian anak yang bodoh, anak bandel, susah diatur, dan sebagainya.

Ketiga, kurikulum terlalu padat dan kurang berpihak kepada siswa, sehingga mengakibatkan guru cenderung menjalankan tugasnya sekadar mengejar target kurikulum. Ini tentu terkait dengan belum optimalnya upaya peningkatan kualitas dan kesejahteraan siswa (Mulyadi, 2006).

Kekerasan verbal yang telah dilakukan oknum guru, baik dalam bentuk kata-kata yang berupa sindiran atau teguran kepada siswa dengan maksud merendahkannya di hadapan teman satu kelasnya, adalah satu bentuk pelecehan (Listiyono, 2005). Sementara Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 54 mengatakan bahwa ‘anak-anak di dalam dan lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.’ Atau bunyi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 ayat 1 yang dengan tegas juga menyatakan bahwa, “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Komisi Nasional Perlindungan Anak masih terus menyimpan catatan panjang yang bisa membuat mata terbelalak mengenai tindakan kekerasan yang terjadi di sekolah. Predikat guru yang seharusnya
digugu dan ditiru, tanpa disadari sering tergelincir menjadi sosok (figur) yang memberi contoh keliru yang tidak patut diikuti, yaitu tindak kekerasan. Hal inilah yang sering menjadi fenomena yang sampai saat ini masih sulit dimengerti.

Dikutip dari buku Kekerasan Terhadap Anak karya Dr. Abu Huraerah, M.Si.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *