Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Doa yang Menyembuhkan

Doa yang Menyembuhkan

Oleh Dadang Ahmad Fajar, M.Ag.

Selain merupakan suatu bentuk ibadah, doa dapat dijadikan wahana untuk mencari kesembuhan atau obat bagi orang yang sedang menderita sakit, baik sakit fisik maupun sakit mental.


Dalam doa terkandung unsur zikir, dan zikir memiliki pengaruh terapi terhadap jiwa. Zikir kepada Allah (dzikrullâh) adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungan-Nya dalam bentuk yang meliputi hampir semua bentuk ibadah, perbuatan baik, berdoa, membaca Al-Quran, mematuhi orangtua, menolong teman yang dalam kesusahan dan menghindarkan diri dari kejahatan dan perbuatan zalim. Dalam pengertian sempit, dzikrullâh adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dengan memenuhi tata tertib, metode, rukun dan syarat sesuai yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu petunjuk Al-Quran tentang pelaksanaan dzikrullâh adalah firman Allah Swt, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Qs al-A‘râf [7]: 205), dan firman-Nya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (Qs ar-Ra‘d [13]: 28).

Bagaimana menjelaskan bahwa dzikrullâh akan melahirkan perasaan tenang dan tenteram? Menurut tinjauan psikologis, dijelaskan bahwa dzikrullâh dengan penuh kekhusyuan dan terus-menerus akan membiasakan sanubari kita senantiasa dekat dan akrab dengan Allah Swt. Selanjutnya, secara tak disadari, akan tumbuhlah kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt dan semakin mantaplah hubungan hamba dengan Tuhannya. Secara psikologis, hal ini akan menumbuhkan penghayatan terhadap kehadiran Allah Swt dalam setiap gerak kehidupan. Hasilnya, ia tak merasa hidup sendirian di dunia, karena ada Dzat Yang Maha Mendengar segala kesusahan yang dihadapinya. Ketenangan yang diperoleh dari dzikrullâh akan menghasilkan dampak relaksasi yang berguna bagi seseorang yang sedang menjalani proses penyembuhan.

Dalam psikoterapi doa, ada beberapa tahapan yang mesti dilalui, yaitu sebagai berikut.

Tahap kesadaran sebagai hamba

Inti dari terapi ini adalah pembangkitan kesadaran, yaitu kesadaran terhadap kehambaan dan kelemahan sebagai manusia. Bentuk kesadaran ini akan mengantarkan seseorang yang berdoa untuk merasa sebagai tak berdaya. Tanpa adanya kesadaran akan kelemahan diri ini maka kesungguhan dalam berdoa sulit dicapai. Hakikat berdoa adalah meminta, sehingga derajat orang yang meminta harus lebih rendah daripada yang dimintai. Oleh karena itu, sebelum seseorang berdoa, dia diharuskan merendahkan diri di hadapan Allah serendah-rendahnya.

Bentuk kesadaran diri ini dapat dilakukan dengan melihat ke dalam diri sendiri, misalnya melihat jantung, bahwa organ ini bergerak bukan karena kita yang menggerakkannya, darah yang mengalir bukan atas kehendak kita; atau melihat masalah yang sedang dihadapi serta ketidakberdayaan dan ketidakmampuan mengatasi hal ini yang dimunculkan dalam kesadaran sehingga dapat menghasilkan sikap menerima dan sikap pasrah.

Pada tahap ini, seseorang juga disadarkan akan gangguan kejiwaan atau penyakit yang dialami. Penyakit tersebut bukan ditolak, namun diterima sebagai bagian dari diri lalu memohon kesembuhan darinya kepada Allah.

Tahap penyadaran akan kekuasaan Allah Swt

Selanjutnya, setelah diri sadar akan segala kelemahan dan ketidakmampuannya, maka dilakukan pengisian, yaitu dengan menyadari kebesaran dan kasih sayang Allah, dan terutama adalah bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemberi kesembuhan. Tahap ini juga akan menghasilkan pemahaman tentang hakikat sakit yang dialami, bahwa itu berasal dari Allah dan bahwa Dia yang akan menyembuhkannya. Penyadaran akan kekuasaan Allah ini dapat dilakukan dengan melihat bagaimana Allah menghidupkan dan menggerakkan segala sesuatu.

Tahap ini juga dapat menumbuhkan keyakinan kepada Allah atas kemampuan-Nya dalam penyembuhan. Bagaimamana seseorang dapat berdoa kalau dirinya tidak mengenal atau meyakini bahwa Sang Penyembuh tidak dapat menyembuhkan. Keyakinan seperti ini juga merupakan syarat mutlak dari suatu doa, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya: jika hamba-Nya berprasangka baik kepada-Nya maka Dia pun berprasangka baik kepadanya, dan demikian pula sebaliknya. Halangan utama dalam kemakbulan doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah keraguan. Seringkali ketika seseorang berdoa, hatinya ragu, apakah doanya akan dikabulkan atau tidak.

Tahap komunikasi

Setelah sadar akan kelemahan dan ketakberdayaan, di satu sisi, akan kebesaran dan kemampuan Allah untuk menyembuhkannya, di sisi lain, maka selanjutnya adalah berkomunikasi dengan Allah sebagai bagian penting dari proses terapi. Tahap komunikasi ini bisa dalam beberapa bentuk berikut.

a. pengungkapan pengakuan atas segala kesalahan dan dosa, dan ini merupakan langkah awal, karena dengan hati yang bersih, kontak dengan Allah akan lebih baik.

b. pengungkapan kegundahan hati dan kegelisahan yang dialami. Tahap ini dapat berefek katarsis, yaitu mengeluarkan segala permasalahan ke luar diri, dan dalam kaitan ini, kita menyampaikan segala kegalauan hati kepada Allah. Selain itu, dengan pengungkapan ini, akan tumbuh perasaan dekat dengan Allah. Tahap ini, jika dilakukan dengan benar, sudah bisa menjadi terapi jiwa.

c. permohonan kesembuhan atas apa yang diderita. Doa bukanlah permohonan yang memaksa Allah untuk mengabulkannya. Oleh karena itu, doa yang dipanjatkan harus disertai dengan kerendahan hati dan perasaan butuh kepada Allah.

Tahap diam menunggu tetapi hati tetap memohon kepada Allah

Doa merupakan bentuk komunikasi antara yang meminta dan yang memberi. Ketika proses permintaan sudah disampaikan maka proses pemberian harus ditunggu. Syarat untuk dapat menerima pemberian atau jawaban ini adalah dengan keyakinan, sikap rendah diri, dan ketenangan.

Secara khusus, dengan tumbuhnya kesadaran kaum Muslim untuk kembali pada pengobatan cara Nabi Muhammad Saw dan mencari pengobatan alternatif karena pengobatan medis yang dilakukannya tidak mendatangkan kesembuhan, maka salah satu cara yang mereka tempuh adalah pengobatan dengan ruqyah atau ‘azhimah. Ruqyah sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak zaman jahiliah, yaitu sebelum Nabi Muhammad Saw diutus sebagai nabi. Pengobatan cara ini pun dikenal oleh sebagian besar masyarakat Yahudi dan Nasrani.

Apa makna ruqyah? Secara etimologis, ruqyah berarti jampi atau mantera, sedangkan pengertiannya yang dikenal dalam Islam ialah membaca ayat-ayat Al-Quran, zikir-zikir dan doa-doa di hadapan orang yang sakit dengan harapan diberi kesembuhan oleh Allah Swt—silakan lihat Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Al-Qaul al-Mufid ‘alâ Kitâb Tauhîd, I/177. Sementara itu, pada zaman jahiliah, ruqyah sering dilakukan dengan menggunakan kalimat-kalimat, sarana-sarana, dan cara-cara syirik yang mengindikasikan kemusyrikan.

Pada prinsipnya, ruqyah diperbolehkan dalam Islam selama memenuhi persyaratan-persyaratannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam Fath al-Bârî fî Syarh Shahîh al-Bukhârî, mengatakan bahwa para ulama telah sepakat tentang bolehnya ruqyah manakala memenuhi tiga syarat berikut:

  1. harus dengan kalam Allah atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
  2. harus dengan bahasa Arab atau bahasa lain yang dipahami maknanya
  3. harus meyakini bahwa bukan esensi ruqyah itu sendiri yang berpengaruh, tetapi Allah Swt yang memberi kesembuhan.

Sementara itu, ruqyah dengan menggunakan selain bahasa Arab atau bahasa lain yang tidak dipahami maknanya dikhawatirkan mengandung pernyataan atau unsur-unsur kemusyrikan (Fath al-Majîd, bab Mâ Jâ’a fî ar-Ruqâ wa at-Tamâ’im).

Ayat-ayat Al-Quran yang biasanya dibacakan dalam ruqyah di antaranya adalah surat al-Fâtihah, ayat al-Kursî, surat al-Ikhlâsh, al-Falâq dan an-Nâs. Bahkan, ruqyah dengan surat al-Fâtihah pernah dilakukan oleh seorang sahabat Nabi kepada seorang kepala suku ketika dia tersengat binatang berbisa. Caranya adalah dengan membaca surat tersebut, lalu mengumpulkan air liurnya, dan menyemburkannya ke bagian tubuh yang sakit. Maka kepala suku itu pun sembuh sama sekali—silakan lihat Shahîh al-Bukhârî, Kitâb ath-Thibb, bab ar-Ruqâ bi Fâtihah al-Kitâb.

Mengenai ruqyah dengan doa, Muslim meriwayatkan dari Aisyah Ra yang berkata, “Apabila ada salah seorang di antara kami sakit, maka Rasulallah Saw mengusap orang itu dengan tangan kanannya sambil berdoa.” (Hr Muslim dalam Kitâb ath-Thibb, bab Istihbâb Ruqyah al-Marîdh).

Sesungguhnya ruqyah adalah penawar segala macam gangguan, baik akibat sihir, kesurupan, cedera atau luka, penyakit jiwa, ke­sedihan maupun sengatan binatang.

Mengenai ruqyah sebagai penawar luka, diriwayat oleh al-Bukhârî: Ketika ada orang mengeluh kepada Rasulullah atau mendapati luka, beliau mengatakan dengan isyarat tangannya, “Demikian dan demikian.” Lalu Sufyan meletakkan jari telunjuk ke tanah kemudian mengangkatnya kembali sambil mengucapkan doa: Bismillâhi turbatu ardhinâ bi raiqati ba’dhinâ yasfî saqîmanâ bi idzni rabbinâ (dengan nama Allah, tanah bumi kami dengan liur sebagian kami menyembuhkan skit kami atas izin Tuhan kami).

Maksud hadis ini, bahwa seseorang meletakkan jari telunjuknya lalu dibasahi dengan liur. Setelah itu, ia meletakkannya ke tanah hingga sebagian tanah melekat pada jari tersebut, kemudian me­letakkannya pada tempat yang sakit—sambil membaca doa tadi. Insya Allah, keluhan penyakitnya akan hilang—dengan izin Allah Swt.

Baca lebih lanjut buku Epistemologi Doa: Meluruskan, Memahami, dan Mengamalkan karya Dadang Ahmad Fajar, M.Ag. (Penerbit Nuansa, 2011)

epistemologi doa 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *