Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Tuhan dan Fisika Baru

Tuhan dan Fisika Baru

Oleh Paul Davis

Selama lebih dari lima puluh tahun lalu, sesuatu yang aneh terjadi dalam sains fisika. Gagasan-gagasan baru yang aneh dan menarik tentang ruang dan waktu, akal dan materi, telah meletus di kalangan komunitas saintis. Baru sekarang ini gagasan-gagasan itu mulai menyentuh khalayak publik. Konsep-konsep yang telah menggugah dan mengilhami para saintis itu sendiri selama dua generasi akhirnya memperoleh perhatian orang awam, yang tidak pernah menduga bahwa revolusi penting dalam pemikiran umat manusia telah terjadi. Fisika baru ini telah muncul di era tersebut.


Dalam kwartal pertama abad ini, dua teori yang monumental telah dikemukakan: teori relativitas dan teori kuantum. Dari dua teori ini mengalir sebagian fisika abad ke-20. Akan tetapi, fisika baru akan segera menunjukkan lebih dari sekadar model alam fisik yang lebih baik. Para fisikawan mulai menyadari bahwa temuan mereka menuntut reformasi radikal terhadap aspek-aspek realitas yang sangat fundamental. Mereka mencoba mendekati masalahnya dengan cara-cara yang tak diduga dan sama sekali baru yang seakan-akan menghidupkan akal sehat di kepalanya dan menemukan kesesuaian yang lebih dekat dengan mistisisme dan materialisme.
Buah revolusi ini baru sekarang mulai dipetik oleh para filosof dan teolog. Banyak orang awam juga, yang mencari akan makna yang lebih mendalam di balik hidup mereka, melihat keyakinan mereka tentang alam sangat selaras dengan fisika baru tersebut. Pandangan fisikawan malah menemukan simpati dari para psikolog dan sosiolog, terutama mereka yang mendukung pendekatan holistik terhadap bidang kajian mereka.
Dalam memberikan kuliah dan ceramah tentang fisika baru, saya melihat suatu perasaan yang sedang tumbuh bahwa fisika dasar menunjukkan jalan menuju apresiasi baru terhadap manusia dan kedudukannya di alam semesta. Pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang eksistensi—Bagaimana alam semesta bermula dan bagaimana ia akan berakhir? Apakah materi itu? Apakah kehidupan itu? Apakah akal itu?—tidaklah baru. Yang baru adalah bahwa kita setidak-tidaknya mungkin berada di ambang memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Prospek yang mengagumkan ini berasal dari beberapa kemajuan spektakuler mutakhir dalam sains fisika—tidak hanya fisika baru, tetapi juga keluarga dekatnya, kosmologi baru.
Untuk pertama kalinya, suatu deskripsi tentang semua penciptaan ada dalam genggaman kita. Tidak ada masalah saintifik yang lebih fundamental atau menakutkan ketimbang teka-teki tentang bagaimana alam semesta mengada atau menjadi ada. Dapatkah itu terjadi tanpa masukan supra-natural samasekali? Fisika kuantum tampaknya memberikan jalan keluar bagi asumsi lama bahwa ‘Anda tidak akan mendapatkan sesuatu bukan untuk apa-apa.’ Para fisikawan kini membicarakan ‘alam semesta yang menciptakan dirinya’: kosmos yang mengada secara spontan, banyak menyerupai partikel sub-nuklir yang kadang-kadang muncul entah di mana melalui proses energi tingkat tinggi tertentu. Pertanyaan ‘apakah perincian teori ini benar atau salah’ tidak begitu penting. Yang relevan adalah bahwa sekarang ini ada suatu kemungkinan untuk memahami penjelasan saintifik tentang semua penciptaan. Apakah fisika modern manghapus samasekali Tuhan?
Ini bukanlah buku tentang agama. Sebaliknya, ia adalah buku tentang dampak fisika baru terhadap apa yang dulu menjadi persoalan-persoalan keagamaan. Secara khusus, saya tidak berupaya membahas pengalaman keagamaan atau masalah moralitas. Ini juga bukan buku sains. Ini adalah buku tentang sains dan implikasinya yang luas. Secara tak terelakkan, diperlukan di sana-sini untuk menjelaskan beberapa teknik secara cermat, tetapi saya tidak mengklaim bahwa pembahasan saintifik itu sistematis atau utuh. Pembaca tidak harus terhalang oleh pemikiran bahwa dia berada dalam matematika yang menyiksa atau serangkaian terminologi khusus. Saya telah mencoba menghindari sebanyak mungkin jargon teknis.
Buku ini pada dasarnya ditujukan bagi pembaca umum, baik ateis maupun beriman, yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang sains. Namun, saya berharap bahwa buku ini juga berisi beberapa bahan yang benar-benar bernilai ilmiah. Secara khusus, saya tidak percaya bahwa sebagian buku yang paling mutakhir tentang kosmologi sebelumnya telah menjadi perhatian para filosof dan teolog.
Tema utama buku ini meliputi apa yang saya sebut empat besar pertanyaan tentang eksistensi:
Mengapa hukum alam seperti itu?
Mengapa alam semesta terdiri dari hal-hal seperti itu?
Bagaimana hal-hal itu muncul?
Bagaimana alam semesta mencapai keteraturannya?
Menjelang akhir buku ini, jawaban-jawaban tentatif terhadap pertanyaan-pertanyaan ini mulai muncul—jawaban-jawaban yang didasarkan pada konsepsi fisikawan tentang alam. Jawaban-jawaban tersebut bisajadi sepenuhnya salah, tetapi saya percaya bahwa fisika ditakdirkan untuk memberikan jawaban itu. Mungkin terlihat aneh, tetapi dalam pandangan saya, sains menawarkan jalan yang lebih meyakinkan menuju Tuhan ketimbang agama. Benar atau salah, fakta bahwa sains benar-benar telah berkembang hingga titik di mana pertanyaan-pertanyaan yang dahulu dipandang religius dapat diatasi secara serius itu sendiri menunjukkan konsekuensi fisika baru yang sangat luas.
Meskipun saya telah berupaya tidak memasukkan pandangan keagamaan saya sendiri sepanjang buku ini, pemaparan saya tentang fisika secara tak terelakkan bersifat personal. Tak heran, banyak di antara kolega saya sangat tidak sependapat dengan kesimpulan-kesimpulan yang coba saya tarik. Saya menghargai pendapat mereka. Ini hanyalah persepsi salah seorang tentang alam semesta, masih banyak lainnya. Motivasi saya menulis buku ini adalah keyakinan saya bahwa ada yang lebih daripada sekadar alam yang dijumpai mata.

Baca lebih lanjut buku Mencari Tuhan dengan Fisika Baru karya Paul Davies (Penerbit Nuansa, 2006)

Mencari tuhan dengan fisika baru 600x560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *