Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Tujuan Membaca: Membaca untuk Informasi dan Membaca untuk Memahami

Tujuan Membaca: Membaca untuk Informasi dan Membaca untuk Memahami

Oleh Mortimer Adler & Charles Van Doren

Anda memiliki sebuah pikiran. Sekarang, anggap saja bahwa Anda juga memiliki sebuah buku untuk dibaca. Buku tersebut berisi bahasa yang ditulis oleh seseorang untuk mengomunikasikan sesuatu kepada Anda. Keberhasilan Anda dalam membaca tulisan tersebut ditentukan oleh sejauhmana Anda menerima semua yang ingin dikomunikasikan oleh si penulis.

Tentu saja itu terlalu sederhana. Alasannya adalah ada dua hubungan yang bisa terjadi antara pikiran Anda dengan buku tersebut, bukan hanya satu. Kedua hubungan ini digambarkan oleh dua pengalaman berbeda yang mungkin Anda dapatkan dengan membaca buku.

Buku di satu pihak; dan pikiran Anda di pihak lain. Saat Anda membaca halaman demi halaman, Anda bisa memahami secara sempurna semua yang ingin dikatakan oleh si penulis, atau Anda tidak memahami. Jika Anda memahaminya, Anda mungkin memperoleh informasi, tapi pemahaman Anda bisa saja tidak meningkat. Jika buku itu sepenuhnya Anda pahami, mulai dari awal sampai akhir, maka si penulis dan Anda ibarat dua pikiran di dalam satu cetakan. Simbol-simbol di atas halaman itu hanyalah mengungkapkan kesamaan pemahaman yang Anda berdua miliki sebelum Anda berdua bertemu.

Mari kita bahas alternatif kedua. Anda tidak memahami buku itu secara sempurna. Bahkan, mari kita beranggapan—sesuatu yang tidak menyenangkan tidak selamanya benar—bahwa Anda cukup sadar bahwa Anda samasekali tidak memahaminya. Anda menyadari bahwa buku itu mengatakan lebih banyak dari yang bisa Anda pahami dan dengan demikian, dia berisi sesuatu yang dapat meningkatkan pemahaman Anda.

Apa yang Anda lakukan kemudian? Anda bisa membawa buku itu pada seseorang yang, menurut Anda, dapat membaca secara lebih baik dari Anda, dan memintanya menjelaskan bagian-bagian yang sulit kepada Anda. (“Dia” bisa seorang yang masih hidup atau sebuah buku lain—sebuah buku komentar atau sebuah buku teks). Atau, Anda bisa memutuskan bahwa apa yang ada di kepala Anda tidak layak dipikirkan, bahwa Anda cukup memahami. Apa pun yang terjadi, Anda tidak melakukan tugas membaca seperti yang diinginkan oleh buku itu.

Itu hanya dilakukan dengan satu cara. Tanpa bantuan apa pun dari luar, Anda sendiri berusaha memahami buku itu. Tanpa bantuan apa pun selain kemampuan pikiran Anda sendiri, Anda mengoperasikan simbol-simbol di hadapan Anda sedemikian rupa sehingga Anda secara bertahap mengangkat diri Anda dari sebuah kondisi kurang memahami ke kondisi lebih memahami. Peningkatan tersebut, yang dicapai oleh otak yang mencerna sebuah buku, adalah membaca dengan keahlian tingkat tinggi, sejenis aktivitas membaca yang layak diperoleh sebuah buku yang menantang pemahaman Anda.

Jadi, secara kasar kita bisa mendefinisikan apa yang dimaksud dengan seni membaca sebagai berikut: sebuah proses, dimana pikiran, yang tidak mengoperasikan apa pun selain simbol-simbol pada naskah yang bisa dibaca, dan tanpa bantuan dari luar,* meningkatkan dirinya sendiri dengan kekuatan-kekuatan operasionalnya sendiri. Pikiran tersebut beralih dari posisi kurang memahami menjadi lebih memahami. Operasi-operasi terlatih yang memicu kejadian ini adalah aksi-aksi yang disebut seni membaca.

Meningkat dari posisi kurang memahami menjadi lebih memahami melalui upaya-upaya intelektual Anda sendiri, yaitu dengan membaca, mirip dengan melepaskan kaki Anda sendiri dari tali-tali sepatu boot. Rasanya memang seperti itu. Itu adalah sebuah upaya yang penting. Jelas, itu adalah jenis kegiatan membaca yang lebih aktif dari yang pernah Anda lakukan sebelumnya, melibatkan tidak hanya beragam aksi, tapi juga lebih banyak keahlian dalam melakukan aksi-aksi yang dibutuhkan. Selain itu, dapat dipahami, bahwa naskah-naskah yang biasanya dianggap lebih sulit untuk dibaca, dan karenanya hanya untuk para pembaca yang lebih baik, adalah tulisan-tulisan yang mungkin lebih layak dan menuntut model membaca seperti ini.

Perbedaan antara membaca untuk memperoleh informasi dan membaca untuk memahami adalah lebih dalam dari ini. Mari kita coba menjelaskan lebih jauh tentang hal ini. Kita harus mempertimbangkan kedua tujuan membaca tersebut karena garis pemisah antara apa yang bisa dibaca dengan cara ini dan apa yang harus dibaca dengan cara itu kerap masih kabur. Selama kita dapat membedakan kedua tujuan membaca ini, kita dapat menggunakan kata “membaca” dalam dua arti yang berbeda.

Arti yang pertama adalah membaca yang membuat kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri, seperti membaca koran, majalah, atau membaca tulisan lain yang sesuai dengan keahlian dan bakat kita, yang langsung bisa kita pahami. Hal-hal seperti itu mungkin meningkatkan simpanan informasi kita, tapi tidak dapat meningkatkan pemahaman kita, karena pemahaman kita masih sama seperti sebelum kita mulai membaca itu. Jika tidak, maka kita akan terkejut dengan kebingungan dan ketidak-pahaman yang muncul—tentunya, jika kita benar-benar menyimak sekaligus jujur.

Arti yang kedua adalah membaca yang memicu semacam perasaan bahwa ada sesuatu yang pada awalnya tidak sepenuhnya dipahami. Dalam hal ini, tulisan yang akan dibaca pada dasarnya lebih baik atau lebih tinggi dari si pembaca. Si penulis mengomunikasikan sesuatu yang dapat meningkatkan pemahaman si pembaca. Komunikasi di antara dua orang yang tidak setara seperti itu seharusnya bisa terjadi, jika tidak, seseorang tidak akan pernah bisa belajar dari orang lain, baik secara lisan maupun melalui tulisan. Yang dimaksud dengan ‘belajar’ dalam hal ini adalah memahami lebih banyak, bukan mengingat lebih banyak informasi yang tingkat keterpahamannya (intelligibility) sama dengan informasi lain yang sudah Anda miliki.

Jelas, tidak ada semacam kesulitan intelektual dalam memperoleh informasi baru melalui membaca jika fakta-fakta baru tersebut serupa dengan jenis informasi yang sudah Anda miliki. Seseorang yang mengetahui sejumlah fakta tentang sejarah Amerika dan memahaminya dengan cara tertentu, dapat langsung memperoleh lebih banyak fakta serupa dengan membaca, dalam arti pertama, dan memahaminya dengan cara yang sama. Namun, misalkan dia sedang membaca sebuah buku sejarah yang tidak hanya menawarkan beberapa fakta, tapi juga memberinya sebuah sudut pandang yang baru dan lebih jelas tentang semua fakta yang dia miliki. Misalkan, di sini tersedia pemahaman yang lebih besar dari yang dia miliki sebelum dia mulai membaca. Jika dia mampu memperoleh pemahaman yang lebih besar seperti itu, maka dia membaca dalam arti yang kedua. Dia benar-benar meningkatkan dirinya melalui aktivitasnya, meskipun tentu saja, secara tidak langsung, peningkatan tersebut terjadi berkat si penulis yang memiliki sesuatu untuk mengajarinya.

Apakah kondisi-kondisi yang dibutuhkan agar aktivitas membaca seperti ini—yaitu membaca untuk memahami—terjadi? Ada dua kondisi. Pertama, ada ketidak-setaraan awal dalam pemahaman. Si penulis harus lebih ‘superior’ dari si pembaca dalam hal pemahaman, dan bukunya harus mengungkapkan, dalam bentuk yang bisa dibaca, pemahaman-pemahaman yang dia miliki dan yang tidak dimiliki oleh calon-calon pembaca. Kedua, si pembaca harus mampu mengatasi ketidak-setaraan ini pada tingkatan tertentu, barangkali jarang secara penuh, tapi selalu mendekati kesetaraan dengan si penulis. Jika kesetaraan itu diraih, kejelasan dalam berkomunikasi tercapai.

Dengan kata lain, kita bisa belajar hanya dari ‘orang-orang yang lebih baik’ dari kita. Kita harus mengetahui siapa mereka dan bagaimana belajar dari mereka. Orang yang memiliki pengetahuan semacam itu menguasai seni membaca yang merupakan topik utama kita di dalam buku ini. Semua orang yang dapat membaca mungkin memiliki sejumlah kemampuan untuk membaca dengan cara ini. Namun, kita semua, tanpa kecuali, dapat membaca lebih baik dan secara bertahap memperoleh lebih banyak dengan berupaya, dengan membaca bacaan-bacaan yang lebih bermutu.

Kami tidak ingin memberikan kesan bahwa membedakan antara fakta-fakta yang membawa kita pada lebih banyak informasi, dan wawasan yang membawa kita pada pemahaman yang meningkat, adalah pekerjaan mudah. Dan kami harus mengakui bahwa kadang-kadang, sebuah pemaparan fakta-fakta saja dapat membawa kita kepada pemahaman yang lebih tinggi. Yang ingin kami tegaskan di sini adalah bahwa buku ini membahas seni membaca yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman. Untungnya, jika Anda belajar melakukan itu, Anda pun akan mampu membaca untuk memperoleh informasi.

Tentu saja, masih ada tujuan lain dari membaca, selain untuk memperoleh informasi dan pemahaman, yaitu untuk kesenangan. Akan tetapi, buku ini tidak akan terlalu banyak membahas tentang membaca untuk kesenangan. Membaca untuk kesenangan adalah bentuk membaca yang paling tidak menuntut, dan dengan upaya yang paling sedikit. Selain itu, tidak ada aturan-aturan yang terkait dengan itu. Setiap orang yang tahu cara membaca, bisa membaca untuk kesenangan jika dia menginginkannya.

Kenyataannya, setiap buku yang dapat dibaca untuk dipahami atau untuk informasi, juga dapat dibaca untuk kesenangan, seperti juga sebuah buku yang dapat meningkatkan pemahaman kita dapat juga dibaca hanya untuk memperoleh informasi dari dalamnya. (Logika ini tidak dapat dibalik: tidak semua buku yang dapat dibaca untuk kesenangan juga dapat dibaca untuk meningkatkan pemahaman). Kami juga tidak melarang Anda untuk membaca sebuah buku yang baik sekadar untuk bersenang-senang. Yang kami maksud adalah, jika Anda ingin membaca sebuah buku yang baik untuk pemahaman, kami percaya bahwa kami bisa membantu Anda. Dengan demikian, subyek kami adalah seni membaca buku-buku yang baik, jika sasaran Anda adalah membaca untuk pemahaman.[]

Baca lebih lengkap dalam buku How to Read a Book: Seni Membaca dan Memahami Beragam Jenis Bacaan karya Mortimer Adler & Charles Van Doren (Penerbit Nuansa, 2015)

How to Read a Book 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *