Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

ULANG TAHUN

ULANG TAHUN

Oleh K.H.M. Yusuf Chudlori

Tanya: Gus, mohon penjelasan sebenarnya bagaima­nakah hukum merayakan dan memeriahkan hari ulang tahun dengan berbagai pesta. Dalam adat Jawa ada istilah nylameti hari weton, misalnya Jumat Kliwon. Acara yang diadakan biasanya dengan memberikan bancakan makanan kepada para tetangga. Sejauh manakah kita harus mengucapkan “selamat hari ulang tahun,” sebagai doa untuk orang yang sedang merayakannya?—Maulida, Mungkid

Jawab: Ulang tahun atau peringatan hari kelahiran memang sudah menjadi tradisi sejak dahulu, mulai dari kalangan orang yang kekurangan sampai mereka yang berkecukupan. Kebiasaan ini bukan hanya di negara kita saja, tapi menyeluruh di pelosok dunia. Hanya saja karena perbedaan adat dan kondisi lingkungan mereka maka cara dan pelaksanaannya pun tidak sama antara satu daerah dengan daerah yang lain. Namun, tradisi ini masih dipermasalahkan, karena dianggap tradisi Barat yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan identik dengan pesta dan kemaksiatan.

Dalam sejarah Islam, ucapan ulang tahun sebenarnya sudah ada dalam cerita Nabi Yahya As. Disebutkan dalam Al-Quran, Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (Qs Maryam: 15)

Dan juga dalam sejarah Nabi Isa As yang disebutkan dalam Al-Quran, Dan kesejahteraan semoga terlimpahkan kepadaku pada hari aku di lahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Qs Maryam: 33)

Jelas sudah dalam keterangan ayat di atas menerangkan bahwa Allah memberikan salam (kesejahteraan) kepada Nabi Yahya dan Nabi Isa As. Ayat ini menjadi dasar diperbolehkannya mengucapkan selamat ulang tahun, begitu juga memperingatinya. Karena pada saat itu kita mendapatkan nikmat yang agung dari Allah berupa umur yang panjang dan Allah sendiri menganjurkan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain sebagai wujud syukur atas nikmat tesebut. Allah Swt berfirman, Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Qs adh-Dhuhâ: 11)

Jadi perayaan ulang tahun tersebut bertujuan untuk mewujudkan rasa syukur atas nikmat Allah. Bahkan dalam satu riwayat hadis, pada saat Nabi Saw ditanya mengenai alasan berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab bahwa puasa tersebut untuk memperingati hari kelahirannya. Dalam Shahîh Muslim, hlm. 1977, disebutkan:

“Di riwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari Ra, bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya tentang puasa Senin, maka beliau menjawab, ‘Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.’.”

Adapun mengenai wujud acara yang ada dalam perayaan ulang tahun memang sangat berbeda-beda. Dalam arti, kita tidak bisa langsung menetapkan bahwa perayaan ulang tahun adalah kemaksiatan, tetapi kita kembalikan semuanya pada nilai-nilai yang ada dalam perayaan tersebut. Kalau memang ada unsur kemaksiatan, seperti pesta dansa atau minum-minuman yang memabukkan, maka jelas tidak diperbolehkan. Berbeda apabila diisi dengan acara yang bernilai ibadah, seperti membaca doa keselamatan, bersedekah atau yang lain sejenisnya, maka hukumnya boleh.

Demikian keterangannya, tinggal nanti Anda meng­ukur sejauh mana manfaat dan nilai yang Anda peroleh dari perayaan tersebut, sejauh itu pula hukum syariat mengiringinya. Sekian. Wallâhu a‘lam.

Baca selengkapnya dalam Fikih Sosial Praktis dari Pesantren: Dari Hukum Makelar hingga Sumpah Pocong karya K.H.M. Yusuf Chudlori (Bandung: Marja, 2015)

Fikih sosial dari Pesantren 755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *