Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Dari Kami

Lebih Dekat dengan Borobudur

Lebih Dekat dengan Borobudur

Oleh Dorothea Rosa Herliany

Ada tiga desa di kecamatan Borobudur yang gencar menggalakkan wisata pedesaan di Borobudur. Ketiganya itu adalah Desa Borobudur, Desa Wanurejo, dan Desa Candirejo. Meski demikian, ketiganya tak dapat dilihat lepas dari belasan desa lain di Kecamatan Borobudur dan sekitarnya.

Desa-desa lain di Borobudur jelas memiliki keistimewaan masing-masing sesuai dengan keadaan alamnya maupun geliat usaha warganya. Desa Karanganyar memiliki wisata gerabah. Desa Tanjungsari: usaha pembuatan tahu. Desa Kebonsari: desa kerajinan bambu. Desa Giritengah beberapa waktu dikenal dengan Festival Sendhang Suruh dan kegiatan ternak lebah. Desa Ngargogondo khas sebagai sebagai desa bahasa. Desa Tuksongo tersohor sebagai tempat pembuatan topeng. Sementara di
ketinggian lereng Menoreh, di Desa Giripurno telah muncul kelompok peternak kambing yang mampu
unjuk prestasi di tingkat nasional.

Di lereng Menoreh pula, di Desa Majaksingi, terletak suatu penanda wisata level dunia berupa Hotel
Amanjiwo. Demikianlah suatu rekreasi mengandaikan posisi berjarak dari rutinitas kerja seharihari. Dari jarak atas rutinitas inilah proses melakukan ulang suatu kreasi (re-kreasi) dapat terjadi.
Kreasi terjadi berawal dari melihat sesuatu secara berbeda. Melihat alam misalnya dari sudut
pandang yang lain. Yakni bagaimana itu tak hanya sekedar cerapan kasat mata namun bagaimana kesegaran dalam suatu rekreasi dapat masuk ke dalam sanubari pelakunya.

Alam dan masyarakat seperti apakah yang dapat dilihat dengan sudut pandang berbeda di desa-desa di
Borobudur?

Sunrise dan Andhong Village Tour Di Punthuk Setumbu ada hawa dingin pagi hari yang menerpa kulit serta embun bertebaran di dedaunan. Jika dari sini pandangan mata ditebar ke arah Candi
Borobudur sampai ke pasangan abadi Gunung Merapi dan Merbabu jauh di latar belakang, maka yang akan terlihat adalah lautan awan serta kabut pagi dengan beberapa pucuk pohon muncul di ketinggian.

Kegelapan sisa malam sebelumnya, diiringi kesunyian di sepanjang jalan naik ke puncak Setumbu
semakin membawa tubuh dan perasaan siapa saja terbang ke alam mimpi Borobudur. Pemandangan fajar dari Punthuk Setumbu ibarat perjalanan menembus waktu, lengkap dengan stupa di puncak Candi Borobudur di tengah hamparan kabut yang tak lama akan segera diterangi oleh sinar matahari.

Sunrise view dari sebuah bukit kecil di Desa Karangrejo ini jelas tak akan terasa nuansa gaibnya jika
pengunjung hanya berhenti di areal candi.

Sementara itu, di lain desa yakni Desa Candirejo, mereka memiliki paket Sunrise dalam satu paket perjalanan keliling desa. Bentuk paket ini ialah melihat matahari terbit dengan tracking di watu kendil di sisi selatan desa itu. Lalu wisatawan bisa melanjutkan dengan andong tour untuk berkeliling melihat kehidupan keseharian warga di dusundusun Candirejo. Maka tapak kaki kuda, akan membawa kita
menikmati bentang alam Kali Progo sebagai latar pemandangan ditimpa desir suara alam. Di Dusun Brangkal kita bisa melihat batu kali yang dibentuk para pengrajin menjadi cobek dan nisan. Di situ kita juga bisa mendengarkan riwayat dusun tua itu dan cerita lain tentang masjid tiban dan sendhang kapit makam. Sementara di Dusun Palihan akan diperlihatkan cara warga membuat makanan kecil bernama slondhok. Kalangan yang berminat dapat melihat rumah tradisional Jawa di dusun ini atau ikut
memainkan gamelan Jawa. Bagi kalangan anak-anak yang masih banyak yang asing dengan alam pedesaan akan bisa diperkenalkan aneka jenis tanaman dan buah-buahan seperti kacang, salak, pepaya, dan singkong.

Paket wisata yang disebut “andong village tour” juga disediakan di Desa Wanurejo serta Bumisegoro di Desa Borobudur. Di Desa Wanurejo para pengunjung dapat melihat berbagai pilihan tari-tarian setempat, dolanan yang melihat berbagai pilihan tari-tarian setempat, dolanan yang dimainkan bocah-bocah Wanurejo, maupun upacara tradisi bernama wiwit yang biasa dilakukan para petani sebelum
memanen padinya. Di desa yang kaya potensi wisata ini juga dapat dijumpai kerajinan cetak batu.

Sementara di Bumisegoro, Desa Borobudur pengunjung dapat berkeliling desa untuk menikmati
suasana pedesaan dengan wisata alam seperti sendhang wadon dan pemandian Batu Abad. Lalu mengunjungi lokasilokasi pembuatan kerajinan, baik dari kayu atau bambu. Juga menikmati makanan tradisional atau menyaksikan seni pertunjukan tradisional seperti topeng hitam dan pitutur.
Suasana pedesaan serupa dengan berbagai lokasi wisata tradisional juga dapat ditemui di Dusun Maitan di sisi barat Desa Borobudur.

Pada pertengahan tahun 2011di Desa Borobudur pernah dilakukan uji coba program terbaru keliling desa di sekitar candi dengan nama Program Tilik Desa. Rutenya bergerak dari candi ke Dusun Sabrang Rowo, Bumi Segoro, Gopalan, dan Ngaran, lalu kembali masuk ke candi. Kegiatan yang dilakukan saat musim libur tengah tahun itu disambut meriah oleh para pengunjung candi.

Alternatif wisata lain adalah mengunjungi dusun gerabah bernama Klipoh yang terletak di Desa
Karanganyar. Suasana produksi gerabah segera terasa saat pengunjung masuk ke dusun di kaki Pegunungan Menoreh itu. Di pelataran rumah dan tepian jalan utama dusun sudah tampak warga menjemur aneka bentuk olahan tanah liat yang akan dijadikan gerabah.

Turis manca negara sudah biasa berdatangan mencari souvenir gerabah ke Klipoh. Tak jarang pagi-pagi
benar mereka sudah bermunculan setelah menikmati pemandangan matahari terbit dari pesawahan yang terhampar di sisi timur Desa Karanganyar. Berbeda dengan panorama sunrise Borobudur dari ketinggian bukit di sekitarnya, view dari jalanan Karanganyar menampilkan sinar matahari merekah dari balik candi di atas hamparan sawah dan pepohonan. Embun dan kabut yang tersingkir oleh sinar fajar terlihat jelas dari sisi ini. Memang, wisata pemandangan fajar di Karanganyar dapat dengan mudah
dijadikan satu paket dengan wisata kerajinan gerabahnya. Jalur ke Karanganyar cukup fleksibel, mudah ditempuh, baik untuk track pejalan kaki, bersepeda gunung, maupun dengan sepeda motor, bermobil, atau bahkan dengan …. andong.

Selain turis, Klipoh ini juga sudah sering dikunjungi rombongan murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar dari berbagai kota. Mereka datang silih berganti sudah sejak beberapa tahun belakangan ini. Diantar oleh guru beserta para pendampingnya, anak-anak akan dipertemukan kembali dengan alam melalui tanah liat. Misalnya saja mereka akan diajak untuk berkarya membuat sesuatu dari tanah liat itu. Anak-anak akan riang gembira membuat karya hasil tangannya sendiri. Ini kerja aktif yang mengerahkan kerja sama antara keprigelan tangan, mata, dan imajinasi.

Suasana ceria akan semakin regeng saat anakanak penduduk asli Dusun Klipoh memberi suguhan tamutamu seusia mereka dengan permainan tari Kubro Siswo. Diiringi gamelan perkusi seperti kendhang, puluhan anak berseragam tari aneka warna dan sepatu hitam-putih menari membawa kuda kepang. Bunyi peluit dan lantunan suara tembang dolanan serta pesan-pesan kehidupan akan
berpadu dengan gerak riang bocah-bocah ini.

Ada satu bentuk gerabah buatan Klipoh yang beberapa waktu terakhir ini banyak diminati, yakni senthir
atau lampu minyak kecil. Bentuknya yang mungil, kemasannya yang menarik, serta harganya yang terjangkau kocek semua orang membuat produk ini jadi primadona. Selain itu, Klipoh juga memproduksi gerabah bentuk lain beraneka warna dan ukuran. Ada juga yang berbentuk kurakura,
yang bisa digunakan untuk hiasan sekaligus celengan.

Klipoh yang sudah puluhan tahun membuat aneka gerabah untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti kuali, semacam mangkok, dan sebagainya. Sejak sekitar tahun 1996 desa ini telah membuka diri dan mengembangkan produk-produk lain yang lebih banyak disukai para pengunjung. Klipoh makin dikenal sebagai satu-satunya daerah di Kecamatan Borobudur yang menghasilkan gerabah.[]

Baca lebih lanjut buku Desa-desa Borobudur: manusia, Alam, Masyarakat karya Dorothe Rosa Herliany (Penerbit Nuansa, Dunia Tera, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & ratu Boko, 2013)

desa borobudur 600x560

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *