Serat Cabolek: Kuasa, Agama, Pembebasan

Rp80.000

Serat Cabolek, yang ditulis oleh Raden Ngabehi Yasadipura I, pujangga Keraton Surakarta abad ke-18 yang sangat produktif, merupakan dokumen yang melukiskan ketegangan-ketegangan dalam kehidupan keagamaan orang-orang Jawa yang timbul karena adanya kontak dengan ajaran Islam. Inti dari ketegangan-ketegangan ini ialah pertentangan antara para ulama syariat dengan mereka yang menolak ajaran Islam Legalistik serta tetap memegang ajaran mistik Jawa. Konflik tersebut menjadi tema yang akrab dalam cerita-cerita Jawa, seperti cerita Shaikh Siti Jenar, Sunan Panggung, dan Shaikh Among Raga dalam Serat Centini.

Sikap R.Ng. Yasadipura I terhadap syariat harus dipahami dalam konteks tradisi sinkretik Jawa. Bagi Yasadipura I, syariat hanya merupakan wadah yang menjadi bagian luar dari sitem kepercayaannya dan bukan intinya. Penerimaan syariat sebagai wadah dan ilmu mistik sebagai isi dapat ditasirkan sebagai usaha fihak Yasadipura I untuk men-Jawa-kan keempat tahapan jalan mistik Islam, dengan memasukkan ajaran Islam tentang Kesempurnaan hidup yang terdapat dalam cerita Dewa Ruci sebagai pengganti Hakikat dam Makrifat.

Pandangan religius yang sinkretik-sentris yang diwakili R.Ng. Yasadipura I dan yang ia ubah bentuknya, tumbuh dan berkembang di kalangan bangsawan Jawa, dan kemudian juga di lingkungan priyayi yang baru timbul. Pandangan tersebut menjadi arus utama dalam kehidupan religius Jawa, seraya menghadapi tantangan yang meningkat dari ortodoksi Islam pada abad ke-19. Tantangan ini walaupun konstan dan pada saat-saat tertentu menimbulkan ketegangan antara kedua tradisi keagamaan yang berbeda itu, telah gagal menjadikan Islam ortodoks yang legalistik menajadi pemenang yang menentukan.

  • Penulis: DR. S. Soebardi
  • Penerbit: Nuansa Cendekia
  • ISBN: 979-9481-32-5
  • Ukuran: 15,5 x 23,5 cm
  • Tebal: 204 hal

Description

Buku Serat Cabolek: Kuasa, Agama, Pembebasan menyajikan analisis mendalam dan kontekstual terhadap karya sastra klasik Jawa, Serat Cabolek, yang di dalamnya terkandung polemik teologis yang intens antara dua pandangan Islam yang berbeda: Islam ortodoks-syariat yang diwakili oleh Kyai Kasan Besari, dan Islam sufistik-hakikat yang diwakili oleh Syekh Siti Jenar atau turunan ajarannya. Karya ini mengupas tuntas konflik intelektual dan spiritual yang tidak hanya merefleksikan pergulatan interpretasi keagamaan di tanah Jawa pada masa itu, tetapi juga menyingkap relasi kompleks antara kuasa politik keraton, otoritas agama yang sah, dan gagasan pembebasan spiritual dan sosial yang dipromosikan oleh kaum sufi. Melalui pembedahan serat ini, buku tersebut menunjukkan bagaimana sastra menjadi arena kritik dan negosiasi terhadap hegemoni teologis dan politik di masa lalu.   Â