Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda
Rp110.000
Buku ini, adalah salah satu bentuk pengabdian masyarakat untuk merespons maksud Bapak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, SH, MM, yang menginginkan adanya satu tanggal yang dapat diperingati sebagai Hari Jadi Tatar Sunda dalam perspektif budaya.
Untuk itu, kami membentuk Tim Penyusun buku yang terdiri atas: Prof. Dr. Nina Herlina, M.S., (sejarawan), Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum (filolog), Dr. Hernadi Affandi, S.H., LLM. (pakar hukum) dan Ade Makmur Kartawinata, Ph.D. (sosioantropolog).
- Penulis : Prof. Dr. Nina Herlina, M.S., dkk.
- Penerbit: Nuansa Cendekia
- ISBN: (dalam proses)
- Ukuran: 17,5 X 25 cm
- Tebal: 136 hlm
Description
Identitas sebuah bangsa tidak lahir dari ruang hampa. Iya adalah jalinan peristiwa, mandat hukum, dan simbol-simbol filosofis yang terkunci dalam pusaran waktu. Buku ini mengajak anda melintasi lorong waktu Tatar Sunda—sebuah perjalanan epic yang dimulai jauh sebelum fajar Tarumanegara menyingsing, hingga masa keemasan Sri Baduga Maharaja yang melegenda.
Melalui tinjauan historis yang tajam, kita akan melihat bagaimana kerajaan Sunda dan Galuh bukan sekedar nama dalam buku pelajaran, melainkan entitas politik dan budaya yang membentuk fondasi Jawa Barat hari ini. Penulis membedah dinamika kekuasaan dari Pakuan Pajajaran hingga akhir masa kerajaan, memberikan perspektif baru tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Namun, sejarah tanpa makna hanyalah tumpukan angka tahun. Dalam tinjauan filosofis dan Sosio-Antropologis, buku ini mengupas tuntas urgensi penetapan Hari Jadi Tatar Sunda. Mengapa sebuah tanggal begitu krusial? Karena di sanalah terletak martabat, memori kolektif, dan komitmen kebangsaan yang mengikat masyarakat Sunda dalam bingkai Indonesia.
Udah beli dilengkapi dengan Analisis Hukum yang komprehensif terkait regulasi wilayah Provinsi Jawa Barat, karya ini merupakan referensi esensial bagi mereka yang ingin memahami legalitas dan eksistensi formal Tatar Sunda di mata negara.
Buku ini merupakan sebuah undangan bagi kita semua untuk tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi menjadikannya pijakan kokoh menuju masa depan.