Home News Banyak yang Sakit, Februari Disebut ‘Hari Greges Nasional’

Banyak yang Sakit, Februari Disebut ‘Hari Greges Nasional’

98

Banyak yang Sakit, Fabruari Disebut 'Hari Greges Nasional'

Warganet di media sosial membicarakan kondisi bulan Februari yang banyak dipenuhi orang sakit. Bahkan, sejumlah warganet sampai membagikan meme yang menyebut adanya “Hari Greges Nasional”.

Istilah “Greges Nasional” ini merujuk pada banyaknya warga masyarakat yang mengeluhkan gejala sakit, seperti demam, batuk, pilek, tengggorokan sakit dan pegal-pegal.

Dalam KBBI Daring disebutkan, greges adalah bahasa percakapan yang artinya “meriang” –berasa tidak enak badan karena kurang sehat; terasa agak demam (misalnya karena masuk angin atau terserang influenza).

Bagaimana penjelasan dokter mengenai hal ini?

Menurut Direktur RSU PKU Muhammadiyah Prambanan, dr. Dien Kalbu Ady, saat ini Indonesia memang tengah memasuki musim pancaroba.

Namun, dirinya juga mengingatkan, bahwa saat ini Indonesia juga tengah menghadapi serangan Covid-19 varian Omicron.

Dijelaskannya, pada musim pancaroba, yakni ketika peralihan dari musim hujan menuju kemarau, penyakit yang kerap kali muncul adalah penyakit terkait saluran pernapasan, terutama pernapasan bagian atas, seperti flu atau common cold, batuk, dan demam.

Perubahan cuaca menyebabkan perubahan kelembapan dan suhu di sekitar tubuh.

“Perubahan tersebut menyebabkan pembuluh darah tubuh mengecil untuk menahan panas tubuh. Karena pembuluh darah mengecil secara sistemik, akibatnya sirkulasi tubuh menjadi terhambat,” tuturnya, Kamis (24/2/2022).

Padahal, ketika sirkulasi terhambat maka bakteri maupun virus lebih mudah berkembang biak.

“Dari situ terjadilah infeksi dan peradangan dalam bentuk flu, demam, batuk dan pilek, kadang disertai nyeri tenggorokan dan pusing,” ujarnya.

Saat musim pancaroba, ditambah adanya situasi pandemi terutama varian Omicron, ia mengingatkan akan sulit untuk membedakan apakah seseorang terkena flu ataukah terinfeksi Omicron.

Hal ini lantaran infeksi varian Omicron memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat melakukan swab test untuk memastikan kondisinya.

Ia mengatakan, pada flu biasanya jarang disertai nyeri tenggorokan maupun tenggorokan gatal. Namun, pada Omicron, gejala tersebut lebih sering ditemukan.

Gejala yang khas pada Omicron yakni demam, hidung tersumbat, batuk, nyeri tenggorokan dan tenggorokan gatal.

Meski gejala bersifat ringan, ia mengingatkan, Omicron memiliki risiko lebih besar untuk menimbulkan gejala yang lebih berat pada golongan lansia, orang yang belum divaksin, orang dengan komorbid, dan anak-anak.

Diingatkannya, melakukan pengecekan swab Covid-19 tetaplah langkah yang baik untuk bisa membedakan apakah yang tengah diderita memang flu biasa ataukah varian Omicron.

“Dampak positifnya (melakukan pengecekan) adalah kita bisa memutus mata rantai penularan dan melindungi dari orang-orang yang beresiko mengalami gejala berat,” ungkapnya. (Kompas)

Info buku kesehatan: Farmasi, Medis, dan Kesehatan

 

Leave a Reply